Home

18 Mei 2016

Saya sudah menarik selimut sambil memegang si apel putih yang sedang loading downloading plant vs zombie, game wajib main sebelum tidur. Memang belum berniat untuk tidur karena jam di kamar masih belum sampai angka 9. Entah kenapa malam ini dia berjalan sangat lambat. Lagu-lagu dari Spotify terlantun dari laptop yang terbuka di meja. Volumenya hanya 30%, tapi cukup untuk menjadi suara di malam yang sepi. Sampai tiba-tiba lagi Coldplay terputar dengan syahdu. Sendu.
Nobody said it was easy
Tiba-tiba saya merasa terpanggil untuk didepan layar dan menulis. Entah, hanya bagian lirik itu saja yang ingin saya letakkan di halaman ini. Entah mengapa saya tak mengambil jalan mudah dengan membuka aplikasi twitter, mengetiknya dengan singkat dan tanpa tenaga, menyebarkannya di timeline yang tanpa mention, lalu melanjutkan bermain plant vs zombie. Saya rasa saya sedang ingin mencurahkan sesuatu.

Entah apa korelasi lirik tersebut dengan malam ini, tapi rasanya ya begitulah. Saya sedang menjadi makhluk yang putus asa. Akibat terlalu banyak bermimpi tanpa aksi, buntutnya saya malah asyik dengan melodrama Korea yang suskes membuat saya begadang tiap malam. Agak merasa sedih karena beberapa cerita dan rencana yang pernah saya buat dulu ternyata tidak sesuai rencana. Entah mengapa luka awal taun itu tiba-tiba terasa lagi. Walaupun kata "entah" rasanya tidak patut saya katakan karena sebenarnya saya tau alasannya. Apalagi kalau bukan karena PMS. Every women feels it.

Pre Menstruasi Syndrom
Pre Marrital Syndrom

Ya....nobody said it was easy. Jadi ya sepertinya lagi-lagi harus mencambuk diri agar tidak berubah jadi pengecut lemah seperti isi odol yang pasrah terburai setiap kali dipencet untuk menuju lubang.

Absurd. Sekian saja,