Home

Tampilkan postingan dengan label ear. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ear. Tampilkan semua postingan

10 Mar 2015

Start to.....listen

Saya menyadari bahwa kemampuan saya yang rendah untuk bergaul dan berbaur ini sebentar lagi akan kalah dengan perkembangan jaman yang menuntut kita untuk hidup serba terkoneksi satu dengan yang lain. Saya menyadari bahwa bekerja juga seharusnya bukan hanya menjadi satu-satunya hal yang rutin saya lakukan setiap hari sejak Subuh hingga Isya. Ada banyak hal yang harus saya lakukan dan usahakan jika saya tidak mau terjebak atau tertinggal dengan semua yang serba maju dan pesat.

Selamat datang ke era serba cepat. Internet. 
Selamat datang di kota serba masabodoh. Jakarta.

Taken from here
Saya mencoba untuk berkembang walaupun pelan. Semua buku yang sebelumnya hanya duduk manis di dalam rak dan masih tersegel, mulai saya buka satu per satu. Semua film yang hanya ngandang di laptop saya putar untuk menghabiskan malam. Linimasa twitter yang biasanya hanya untuk sekedar "terlihat beraktifitas" mulai saya geser pelan-pelan. Saya yang biasanya antipati untuk berbaur dengan teman-teman doi mulai untuk sering ikut kumpul walau untuk sekedar menikmati sepiring nasi goreng. Bukankah hidup itu lebih luas dari pintu kamar bukan?

Saya yang dulu banyak bercerita juga mulai banyak mendengar. Sederhana saja dulu, saya mulai dari mendengarkan cerita dari dia yang tercinta. Saya yang biasanya sudah absen dari A sampai Z mencoba untuk memancing dia mengeja dengan bertanya : cerita dong, gantian. Aku ngantuk nih...

Lalu dia memulai ceritanya. Tentang apa yang selama ini menjadi isi dalam kepalanya. Tentang apa yang selama ini membuat dia gamang untuk jalan lewat Barat atau Timur untuk mencapai garis finish. Saya mendengarkan, kata per kata yang keluar dari bibirnya yang mulai kembali berwarna sehat sejak dia berhenti merokok satu bulan yang lalu. Ternyata banyak sebenarnya yang menjadi isi di kepalanya saat saya pikir dia baik-baik saja dan mampu menjalani kehidupannya dengan damai.

Lalu kembali saya mencoba mendengar cerita dari seorang sahabat laki-laki saya. Tentang kehidupan cintanya dengan sahabat saya yang lain. Ah...lucu karena kehidupan itu sudah lama mati. Mereka hanya sedang terjebak dalam indahnya nostalgia dengan mantan. Tapi memang, siapa sih yang bisa membaca isi kepala seseorang. Lagi-lagi saya harus sering menutup mulut dan mulai banyak mendengar agar saya bisa membaca tanpa membuka buku, atau menonton tanpa pergi ke bioskop.

Ternyata belajar semudah itu. Bergaul juga sesederhana itu. Mulai rendahkan diri supaya semakin cepat menjadi tinggi dan naik derajat. Yah begitu...saya bosan ada disini-sini saja. Kalau orang lain tidak bisa membantu saya naik derajat, maka saya yang harus membantu diri saya sendiri.


23 Jul 2014

Kullu kalam addu'a

Saya percaya bahwa semua ucapan bisa menjadi doa. Itu mengapa saya begitu rajin berucap Amin setiap menemukan semua "doa-doa cantik tersembunyi" yang keluar dari bibir-bibir lawan bicara saya.
Seperti pagi ini ketika saya sedang berangkat mengantar doi ke bandara. Kebetulan saya bantu packing dulu pagi ini, jadi kami berangkat dari rumahnya naik taksi.

Agak lucu karena sepanjang perjalanan, si bapak taksi terus berkata keheranan:
"Kok bapaknya duluan sih Bu? Jadi ibu belakangan mudiknya? Emang ngga barengan bu cutinya?"

Dengan lumrah saya menjawab:
"Iya pak. Saya baru libur hari Jumat. Lagian kalo pulang hari Jumat semua, mahal tiketnya..."

Padahal kami memang pulang sendiri-sendiri. Doi ke rumahnya, saya kerumah saya. Di hari yang berbeda dengan tujuan yang berbeda. Bukan karena asas ekonomi penghematan biaya, tapi karena memang kami belum mengeluarkan uang dari satu rekening untuk satu tujuan yang sama.

Dalam hati saya merengut. Saya tidak sedang berbohong kan? Tentu saja karena jawaban saya memang tidak mengada-ada. Dan dia pun tidak bertanya dia siapa saya dan saya siapa dia. Hanya karena kami mulai jalan dari satu tempat yang sama, bukan berarti kami adalah pemilik dari tempat itu.

Dalam hati pula saya berteriak Amin keras-keras. Iya, saya berharap bisa menjawab pertanyaan yang terlontar dengan tanpa berfikir karena harus membuat rangkaian kata jawaban saya tidak terkesan dusta atau menimbulkan prasangka lain.

Kullu kalam addu'a
Setiap perkataan adalah doa. Ah, doakan saya yang baik-baik dengannya. Siapa tau dengan makin banyak yang mendoakan kami, makin didengarNya setiap lantunan-lantunan saya untuknya

4 Agu 2013

marriage and primbon (beat up)

Saya ngga tau, asli saya ngga tau gimana rasanya kepentok sama adat istiadat dimana kita dilahirkan dan menginjak tanah dan menjunjung langit yang ada diatasnya. Iya, saya ngga tau gimana rasanya semua itu.

Mendengar cerita seorang sahabat saya yang berkeluh kesah tentang nasib antara dia dan pujaan hatinya yang kepentok sama, ummm.....what we called it, primbon or something like that lah yaa. Iya, dia dan kekasihnya yang sudah bertahun-tahun jalan bareng tau-tau kepentok sama adat Jawa yang namanya Primbon. Jadi kalo di Jawa itu ada itung-itungan hari kelahiran yang pakai hari pasaran Jawa semacam Legi, Pahing, Pon, Kliwon dan Wage dan entah yang bagaimana urutannya, yangkalau dijumlahkan dengan hari kalender Matahari semacam Sunday, Monday dan seterusnya akan melahirkan satu hitungan yang ajaib.

Ajaib karena mereka bisa menentukan jumlah sekian sampai sekian itu berarti cocok dan jumlah sekian dan seterusnya itu ngga cocok untuk idup bareng. Saya ngga ngerti deh bagaimana konsep ini didirikan dan bisa dianut oleh sebagian orang Jawa, bahkan termasuk keluarga saya, dan termasuk keluarga sahabat saya ini.

"Mbak aku galau. Masa katanya itung-itungan tanggal lahirku sama mas xxx ngga cocok mbak. Aku bingung mbak..," cerita sahabat saya beberapa minggu lalu yang cukup bikin saya tercengang.

Tercengang, karena seingat saya keluarga inti sahabat saya ini nggak ada yang orang Jawa. Tercengang karena sahabat saya berfikir untuk mengakhiri hubungan mereka, dan makin tercengang ketika tau hari ini bahwa mereka akan melangsungkan lamaran pekan depan.

Ahahaha....ajaib. Ajaib karena sahabat saya tidak menceritakan perkara ini kepada pacarnya karena tidak ingin membuat pacarnya risau. Iya, dia paham benar bahwa kerisauan pacarnya sudah begitu tinggi karena  tau-tau ditembak orang tua sahabat saya untuk segera melamar anaknya. Ajaib karena mereka akan melangsungkan pernikahannya kurang dari 2 bulan lagi setelah beberapa waktu lalu saya dengar sahabat saya hampir ikhlas jika harus melepas pacarnya jika mereka memang dilarang untuk bersama.

Marriage and birthday date. Entahlah apa korelasi dari kedua hal ini sampai dijadikan satu bagian dari kebudayaan yang bisa mengakar sampai sekarang. Luar biasa, mengerikan. Hahaha....tentu saja mengerikan karena saya belum menikah dan saya orang Jawa dan saya aaaaaaakkk!!!

Dan....ah, whatever will be, will be. Selama semua memang yang terbaik dan tidak melanggar ketentuan-Nya, Insya Allah sih saya ikhlas. Iya.....saya ikhlas :")
#prayhard #mumpungRamadhan #nikahtaundepan #AMIN



ps. agak nggak ngerti kenapa mainan hashtag di blog. hahaha

2 Mei 2013

Banyak-banyak bicara, sering-seringlah bercakap-cakap dengan orang lain. Habiskan waktumu untuk mencuri ilmunya. Dengan diam kamu tidak akan mendapatkan apa-apa. (Andreas Patria)

Begitu kata salah seorang Direktur kepadaku saat aku mencoba untuk mewancarainya untuk membuat sebuah artikel majalah kantor. Tanpa dia sadari, saat itu pun aku sedang mencuri ilmu banyak darinya. You are awesome, Sir.

18 Des 2012

The Mallarangeng(s) goes down

Kalau ada yang bilang gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga, rasanya emang bener itu maknanya. Dan ini hampir berlaku untuk semua aspek kehidupan. Bahwa sesuatu yang buruk sebagian bisa mengakibatkan sesuatu yang baik lainnya jadi ikut tercemar dan terkena dampak buruknya.

Taken from Google
Lagi asik sarapan, nonton berita di salah satu TV berita. Ceritanya Rizal Mallarangeng sedang menggugat Tempo yang memasang ilustrasi karikatur dirinya dengan dua saudaranya yang lagi jadi tersangka kasus korupsi terkait proyek Hambalang, sedang menggotong kantong-kantong dengan lambang $ didepannya. Dan ngga tanggung-tanggung dia menuntut Tempo untuk minta maaf atas pemasangan karikatur dirinya, dengan memasang permintaan maaf dari Redaksi di COVER MUKA MAJALAH juga. Atau dia bakal bawa kasus ini ke masalah perdata di pengadilan, ha. ha. ha.

7 Des 2012

Dari obrolan siang ini bareng seorang sahabat, menurut dia ada 3 alasan mengapa seseorang memilih untuk tidak mempublish hubungannya:
1. Karena dia menjalani hubungan backstreet dari seseorang. Bisa orang tua, bisa teman, bisa sahabat, bisa mantan (eh)
2. Karena dia merasa tidak bangga dengan pasangannya
3. Karena dia tidak ingin kehilangan pamor sebagai seorang single dan masih ingin menebar jaring siapa tau dapet ikan yang lain

Sebuah pemikiran yang aneh tapi cukup masuk akal. haha...saya (atau kamu) masuk yang mana nih??