Home

Tampilkan postingan dengan label friends. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label friends. Tampilkan semua postingan

4 Agu 2015

The Ibu Ibu Pejabat

Saya mau cerita, sudah lama sekali rasanya pengen curhat tapi bingung mau curhat dimana.

Ceritanya pengen ngobrolin temen-temen main saya yang isinya anak-anak perlente yang dengan bangganya menyebut geng kami Ibu-Ibu Pejabat. Owalah...lha wong saya aja mau pulang Semarang aja masih cari tiket kereta ekonomi yang 90ribu kok dimasukin ke dalam geng Ibu Pejabat. Entah untung atau rada ngga mujur aja, karena lokasi saya yang dekat dengan tempat duduk mereka, jadilah saya masuk ke geng rusuh nan selalu tampak (pura-pura) bahagia itu. Saya aja capek pura-pura bahagia kalo main sama mereka. Hahaha
Lucu. Kami sering sekali eksis di Path. 4 kali hari Jumat dalam sebulan, sekali makan minimal 100ribu. Belum kalo arisan. Belum kalo ulang tahun. Belum kalo ada yang kawinan ato lahiran. Belum kalo lagi nyinyirin salah satu anggota geng yang lagi absurd tingkahnya, rasanya kaya saya jadi member geng yang paling ngga loyal. Halah..

Saya juga salah satunya. Lha gimana wong kadang kesel. Sebagian dari mereka adalah anak Jakarta yang mana mereka ngga harus punya budget buat ngekos atau pulang kampung tiap bulan. Maklum, walau kerja di Jakarta saya ini masih buruh yang kalo beli hand body aja masih cari yang paling murah tapi dengan isi paling banyak. Lebih seneng kalo ada extra 20% nya. Oke fokus. Trus, saya ini anak kosan yang Alhamdulillah masih dapet kosan harga 500ribu walau kamar mandinya di luar, masih punya cicilan ini itu waktu pengen beliin Ibuk mesin cuci atau kulkas, masih harus punya pacaran yang budget ngopinya lebih mahal daripada makan saya sehari, plus masih punya 4 weekend yang kadang jadi makin mahal kalo jalannya sama temen-temen ngga pake pacar karena kudu bayar sendiri-sendiri.

Owalah....gini tho rasanya jadi business woman di Jakarta. Ongkos sosialisasinya lebih tinggi daripada ongkos laundry. Tiba-tiba kejumawaan saya sebagai salah satu penghuni Ibukota mulai luntur. Apalagi menjadi bagian dari Ibu-Ibu Pejabat dan punya pacar yang juga anak (mantan) pejabat kadang suka bikin saya pegel-pegel kalo setiap tengah bulan udah mulai rajin nyuci dan nyetrika sendiri, ngga lagi laundry kaya setiap akhir bulan abis gajian. Atau yang biasanya yang kalo hari Sabtu bisa 3x pindah tempat ngopi jadi cuma duduk dikosan sambil minum Good Day Cappuccino. Mudah-mudahan saya diparingi kuat dan sehat buat nyuci nyetrika terus tiap bulan.

10 Mar 2015

Start to.....listen

Saya menyadari bahwa kemampuan saya yang rendah untuk bergaul dan berbaur ini sebentar lagi akan kalah dengan perkembangan jaman yang menuntut kita untuk hidup serba terkoneksi satu dengan yang lain. Saya menyadari bahwa bekerja juga seharusnya bukan hanya menjadi satu-satunya hal yang rutin saya lakukan setiap hari sejak Subuh hingga Isya. Ada banyak hal yang harus saya lakukan dan usahakan jika saya tidak mau terjebak atau tertinggal dengan semua yang serba maju dan pesat.

Selamat datang ke era serba cepat. Internet. 
Selamat datang di kota serba masabodoh. Jakarta.

Taken from here
Saya mencoba untuk berkembang walaupun pelan. Semua buku yang sebelumnya hanya duduk manis di dalam rak dan masih tersegel, mulai saya buka satu per satu. Semua film yang hanya ngandang di laptop saya putar untuk menghabiskan malam. Linimasa twitter yang biasanya hanya untuk sekedar "terlihat beraktifitas" mulai saya geser pelan-pelan. Saya yang biasanya antipati untuk berbaur dengan teman-teman doi mulai untuk sering ikut kumpul walau untuk sekedar menikmati sepiring nasi goreng. Bukankah hidup itu lebih luas dari pintu kamar bukan?

Saya yang dulu banyak bercerita juga mulai banyak mendengar. Sederhana saja dulu, saya mulai dari mendengarkan cerita dari dia yang tercinta. Saya yang biasanya sudah absen dari A sampai Z mencoba untuk memancing dia mengeja dengan bertanya : cerita dong, gantian. Aku ngantuk nih...

Lalu dia memulai ceritanya. Tentang apa yang selama ini menjadi isi dalam kepalanya. Tentang apa yang selama ini membuat dia gamang untuk jalan lewat Barat atau Timur untuk mencapai garis finish. Saya mendengarkan, kata per kata yang keluar dari bibirnya yang mulai kembali berwarna sehat sejak dia berhenti merokok satu bulan yang lalu. Ternyata banyak sebenarnya yang menjadi isi di kepalanya saat saya pikir dia baik-baik saja dan mampu menjalani kehidupannya dengan damai.

Lalu kembali saya mencoba mendengar cerita dari seorang sahabat laki-laki saya. Tentang kehidupan cintanya dengan sahabat saya yang lain. Ah...lucu karena kehidupan itu sudah lama mati. Mereka hanya sedang terjebak dalam indahnya nostalgia dengan mantan. Tapi memang, siapa sih yang bisa membaca isi kepala seseorang. Lagi-lagi saya harus sering menutup mulut dan mulai banyak mendengar agar saya bisa membaca tanpa membuka buku, atau menonton tanpa pergi ke bioskop.

Ternyata belajar semudah itu. Bergaul juga sesederhana itu. Mulai rendahkan diri supaya semakin cepat menjadi tinggi dan naik derajat. Yah begitu...saya bosan ada disini-sini saja. Kalau orang lain tidak bisa membantu saya naik derajat, maka saya yang harus membantu diri saya sendiri.


17 Des 2014

R A H A S I A

Bahkan diantar suami dan istri pasti ada sesuatu yang tidak dikatakan. Kita sering mengenalnya dengan konsep bernama Rahasia. Hal ini dilakukan sebagai satu bentuk pengamanan kepada diri sendiri, baik dengan cara yang baik atau tak baik. Beda tujuan, beda pula pengaruhnya.

Saya pernah bertanya kepada teman saya: Apakah kamu menceritakan semua hal kepada pasangan kamu?

"Tentu saja tidak. Ada beberapa hal yang tidak saya ceritakan. Biasanya karena hal-hal itu adalah bukan hal yang dia senangi. Sekalipun itu adalah masalah untuk saya dan ingin saya bagi dengannya. Tentang pekerjaan misalnya," jawab teman saya.

Beberapa orang, termasuk saya, seringkali tidak terlalu suka ambil pusing untuk mengetahui rahasia satu atau dua orang di sekitarnya. Hal-hal seperti itu terkadang membuat kita menjadi terbebani untuk menjaga suatu "rahasia" itu menjadi sebuah cerita yang bisa menjadi konsumsi publik.

12 Nov 2014

cerita kopi dan mereka

Saya menemukan banyak cerita saat waktu kopi bersama tiba. Kopi selalu berhasil membawa magis tersendiri ketika cerita-cerita sedih dan penuh emosional itu tidak terpancing oleh segelas teh manis panas atau bahkan susu jahe. Saya suka ketika kopi berhasil menyuguhkan kalimat-kalimat sakral penuh makna "jangan diungkap". Saya suka selalu berhasil menjadi kipas bergosip atau pengakuan dosa paling mujarab.

Seperti saat saya dan dua orang teman saya yang sedang berjalan menghabiskan waktu akhir pekan menuju salah satu tempat favorit wisatawan Jakarta di ujung utara ibukota. Semua galau berhasil tersimpan rapat sepanjang perjalan dan waktu cemil sore. Hingga saya dibius dengan segelas kopi putih panas yang membuat saya begitu rileks untuk menceritakan semua gundah layaknya dongeng pengantar tidur. Penuh penghayatan namun tanpa rasa emosional sama sekali.

Atau seperti saat saya dan sahabat laki-laki saya duduk di salah satu kedai kopi kota Semarang untuk saling bertukar kabar atau sekedar berdiskusi masalah pekerjaan dan tugas akhir. Cerita -cerita tentang hati mendadak terselip diantara tawa kami ketika satu atau dua teguk kopi hitam berhasil menyusup dalam aliran darah lewat kerongkongan.

What's said in front of coffee, stays in front of coffee. Yeah....whatever.

15 Jul 2014

No more cybercrime, Please :(

Selamat sore, para penikmat linimasa

Seru ya menikmati linimasa semua jejaring sosial ketika isu-isu politik dan sosial sedang banyak beredar di masyarakat. Dari yang pro dan kontra, dari saling puji dan cela, dari unggahan gambar lucu hingga tak senonoh, dan juga pesan yang etis hingga tak etis.

Akhir-akhir ini penyebaran informasi terasa semakin bebas, selain juga terasa semakin terasa begitu pesat. Siapa yang merasa bahwa pada Pemilu Capres-Cawapres kali ini, Indonesia terasa sekali sedang pesta demokrasi. Dimana pesta demokrasi ini terasa begitu puncaknya setiap kali debat capres berlangsung. Dari berbagai komentar dan unggahan-unggahan gambar di berbagai medsos yang begitu mudah dibaca oleh siapapun, dapat kita rasakan pesta ini memang tidak hanya dinikmati oleh semua yang menggunakan bendera partai. Tapi bahkan anak sma yang rajin hura-hura seperti saya (laaaah.....).

19 Sep 2013

Topeng

Saya selalu percaya bahwa semua orang pasti pernah mengenakan topeng setidaknya sekali dalam hidupnya. Dan saya lebih percaya bahwa lebih banyak orang yang mengenakan topeng setidaknya beberapa jam setiap hari, atau dengan beberapa orang dalam kehidupannya. Selalu ada yang disembunyikan.

Saya tidak heran ketika seorang teman saya bercerita bahwa dia merasa terkejut dengan seorang temannya karena dia tiba-tiba mendapati bahwa temannya pernah melakukan hal tidak terpuji. Bagi dia, itu mengejutkan karena temannya adalah seseorang yang begitu santun dan taat beribadah. Bagi saya, entahlah. Saya tidak pernah menganggap bahwa tingkat ketaatan seseorang sejajar sama tinggi dengan tingkat perilaku seseorang. Sejajar mungkin iya, tapi sama tinggi? Sepertinya big NO. Pun saya :)

Saya tidak sedang men-judge seseorang. Saya hanya merasa, iya memang benar kalian tidak akan pernah tau peperangan macam apa yang sedang diperjuangkan oleh orang lain. Tidak oleh sahabat saya, atau kedua orang tua saya sendiri. Saya hanya....ya setuju bahwa tidak ada yang tidak punya rahasia.

Lucu mengetahui bahwa akhirnya kita terkejut dengan rahasia-rahasia kecil dari Allah yang akhirnya kita diijinkan untuk mengetahuinya. Memang benar, ada beberapa hal yang memang lebih baik untuk dikatakan. Lebih baik disimpan sendiri. Atau katakan saja pada tulisan. Seperti saya. Seperti mereka yang juga tidak begitu pandai bercerita tentang masalah-masalah mereka.

Ah hidup. Penuh rahasia. Penuh palsu. Semoga saja cahaya jalan keluar dari masalah yang saya lihat ke depan tidak palsu. Bukan fatamorgana. Saya lelah :)