aku teringat masa dihampir setahun silam. saat itu malam. saat itu aku sedang duduk di kursi sebelah kaca bis malam yang dingin. saat itu aku sedang berjalan menuju ibukota.
dengan BlackBerry putih di tangan, aku bercakap dengan seorang mantan kekasih. barangkali mantan sahabat juga. dulu kami bersahabat. saat kami berbalut seragam putih biru. dia satu tahun lebih tua dariku. lalu kami beranjak besar. berada pada sma yang sama. kami jatuh cinta. berpacaran kurang dari 2 bulan. lalu berpisah tanpa alasan yang tak terkuak. aku yang meminta. sebenarnya karena saat itu aku baru saja jatuh cinta dengan rekanku saat dikarantina. yang akhirnya juga hilang ditelan masa.
dia bercerita bahwa dia ingin menikah. mungkin akhir tahun, atau pertengahan taun depan. dia bahkan sempat bertanya pada saya apakah saya mau menikah dengannya. satu tahun sudah kami tidak bertatap muka dan dia meminta saya menjadi istrinya. saya tertawa.
8 Jun 2013
6 Jun 2013
Join at Flash Fiction
Lucu. Buat kalian yang baru pada buka blog gue dan menemukan gue ngepost 2 prosa pendek dalam semalem pasti bingung. Keracunan apaaaaa gue nulis begituan. Jangankan kalian, kalo gue buka page gue sendiri aja nyengir.
Jadi ceritanya emang lagi ada sayembara gitu di twitter dari akun @Nulisbuku. Gue sempet liat beberapa malam lalu, kalo ada kompetisi Flash Fiction #FF2in1. Kompetisinya bikin short story yang shorter dari cerpen, dengan tema lagu yang dikasi sama si akun, dan harus dibuat dalam waktu SETENGAH JAM. Jadi, dalam waktu 1 jam kita harus bikin 2 short story, yang masing alokasi waktunya setengah jam, dan temanya baru dikasi di 30menit pertama.
Jangan tanya dulu apa hadiahnya. Buat gue, seorang penulis amatir yang udah lama ngga nulis, dan sebenernya juga ngga jago-jago amat nulis prosa, bisa ngelarin 2 cerita dalam @30menit itu udah suatu kepuasan sendiri. I challenge my self. Karena udah ngga pernah nulis lagi. Karena sok sibuk udah ngga pernah ngeblog lagi.
Ada 2 sih yang bikin gue bahagia sebenernya. Yang jelas karena gue berhasil kelar sebelum deadline. And of course sebagai bonusnya, statistik blog jadi naik deh. Hahaha. Menang?? Entahlah...
Jadi tau sih, kalo ternyata banyak juga yang suka nulis diluar sana. Banyak juga yang jago. Banyak juga yang freak ikutan challenge2 menantang kaya begini. Dan walau gue baru ikut pertama kali, kayaknya bakal nyandu deh. Hadiahnya dong, 1 eksemplar buku dari nulisbuku.com, dan free ongkir. Siapa yang ngga ngiler tuh :3
Jadi ceritanya emang lagi ada sayembara gitu di twitter dari akun @Nulisbuku. Gue sempet liat beberapa malam lalu, kalo ada kompetisi Flash Fiction #FF2in1. Kompetisinya bikin short story yang shorter dari cerpen, dengan tema lagu yang dikasi sama si akun, dan harus dibuat dalam waktu SETENGAH JAM. Jadi, dalam waktu 1 jam kita harus bikin 2 short story, yang masing alokasi waktunya setengah jam, dan temanya baru dikasi di 30menit pertama.
Jangan tanya dulu apa hadiahnya. Buat gue, seorang penulis amatir yang udah lama ngga nulis, dan sebenernya juga ngga jago-jago amat nulis prosa, bisa ngelarin 2 cerita dalam @30menit itu udah suatu kepuasan sendiri. I challenge my self. Karena udah ngga pernah nulis lagi. Karena sok sibuk udah ngga pernah ngeblog lagi.
Ada 2 sih yang bikin gue bahagia sebenernya. Yang jelas karena gue berhasil kelar sebelum deadline. And of course sebagai bonusnya, statistik blog jadi naik deh. Hahaha. Menang?? Entahlah...
Jadi tau sih, kalo ternyata banyak juga yang suka nulis diluar sana. Banyak juga yang jago. Banyak juga yang freak ikutan challenge2 menantang kaya begini. Dan walau gue baru ikut pertama kali, kayaknya bakal nyandu deh. Hadiahnya dong, 1 eksemplar buku dari nulisbuku.com, dan free ongkir. Siapa yang ngga ngiler tuh :3
5 Jun 2013
I left the pain behind
"Jangan pergi..."
Aku terdiam. Menangis. Memahami benar betapa besar penyesalan yang dialaminya. Aku hanya sedang mencoba untuk menenangkan diriku sendiri. Untuk tak berteriak. Untuk tidak berlaku kasar padanya. Sosok yang paling kusayang.
Kulihat dirinya berdiri lemas di hadapanku. Wajahnya lusuh penuh peluh dan air mata. Sungguh ingin ku memeluknya. Rambutnya tampak beberapa helai menginti dari balik kerudungnya. Menempel lepek pada pipi putihnya yang memerah dan basah karena air matanya.
Tangannya menyentuh tanganku. Membelai poniku yang jatuh menutup hampir seluruh mataku. Aku menahan diri untuk tidak menangis. Menahan diri untuk tidak jatuh ke pelukannya atau malah memberinya sebuah tamparan keras di pipinya. Tidak. Aku terlalu cinta padanya.
"Reina hanya butuh waktu. Reina akan pergi. Selama waktu yang Reina butuhkan. Reina nggak marah. Apapun asal Mama bahagia, Reina pasti setuju. Termasuk jika ingin menikah lagi dan menduakan Papa. Because I love you a lot, Mam. Reina pamit..."
Kutinggalkan Mama tanpa sebuah kecup manis di pipi putihnya yang memerah. Kutinggalkan Mama menangis di lantai kayu ruang tamu depan rumah kami. Bersama lukaku agar tak bisa kurasakan lagi.
Aku terdiam. Menangis. Memahami benar betapa besar penyesalan yang dialaminya. Aku hanya sedang mencoba untuk menenangkan diriku sendiri. Untuk tak berteriak. Untuk tidak berlaku kasar padanya. Sosok yang paling kusayang.
Kulihat dirinya berdiri lemas di hadapanku. Wajahnya lusuh penuh peluh dan air mata. Sungguh ingin ku memeluknya. Rambutnya tampak beberapa helai menginti dari balik kerudungnya. Menempel lepek pada pipi putihnya yang memerah dan basah karena air matanya.
Tangannya menyentuh tanganku. Membelai poniku yang jatuh menutup hampir seluruh mataku. Aku menahan diri untuk tidak menangis. Menahan diri untuk tidak jatuh ke pelukannya atau malah memberinya sebuah tamparan keras di pipinya. Tidak. Aku terlalu cinta padanya.
"Reina hanya butuh waktu. Reina akan pergi. Selama waktu yang Reina butuhkan. Reina nggak marah. Apapun asal Mama bahagia, Reina pasti setuju. Termasuk jika ingin menikah lagi dan menduakan Papa. Because I love you a lot, Mam. Reina pamit..."
Kutinggalkan Mama tanpa sebuah kecup manis di pipi putihnya yang memerah. Kutinggalkan Mama menangis di lantai kayu ruang tamu depan rumah kami. Bersama lukaku agar tak bisa kurasakan lagi.
Label:
prosa
Be Your Everything
You're more than just a friend
So we can just stop pretending now
Gotta let you know somehow
Sungguh, airport yang penuh orang lalu lalang mendadak terasa hening. Sejenak badanku serasa dingin ketika tangannya menyentuh punggung tanganku yang sedang mengetuk-ngetukkan ponselku di meja berisi dua cangkir kopi setengah habis, tempat kami duduk menunggu. Menunggu waktu.
"I can't hold this longer. I have no other time," Reza memecah keheningan kemudian. Baiklah, wajahku mulai memanas. Sepertinya ini bukan lelucon.
"Apa?" aku mencoba tersenyum. Memasang muka malas, seperti biasa ketika dia memasang aksi drama Romeo-Julietnya.
"This song really push me to say it. Now." Reza masih memainkan punggung tanganku. Aku diam. Tak membalas ataupun melepas genggamannya.
"I heart you, Tiara. You're more than just a friend," sambungnya sambil menundukkan wajah. "Will you be mine?" tanyanya lantang sedetik kemudian. Matanya menatap tajam.
We used to say
That we would always stick together
But who's to say
That we could never last forever
"Ah Reza, it's just a matter of time. Kamu hanya terbawa suasana. This song. A farewell. And it's only me that take you to airport. I heart you too dear, for sure. But.....you always knew the answer," aku tersenyum. Mempersembahkan senyum terbaikku.
Reza tersenyum. Tanpa melepas tanganku sedetikpun. "And i will ask it again later..."
So we can just stop pretending now
Gotta let you know somehow
Sungguh, airport yang penuh orang lalu lalang mendadak terasa hening. Sejenak badanku serasa dingin ketika tangannya menyentuh punggung tanganku yang sedang mengetuk-ngetukkan ponselku di meja berisi dua cangkir kopi setengah habis, tempat kami duduk menunggu. Menunggu waktu.
"I can't hold this longer. I have no other time," Reza memecah keheningan kemudian. Baiklah, wajahku mulai memanas. Sepertinya ini bukan lelucon.
"Apa?" aku mencoba tersenyum. Memasang muka malas, seperti biasa ketika dia memasang aksi drama Romeo-Julietnya.
"This song really push me to say it. Now." Reza masih memainkan punggung tanganku. Aku diam. Tak membalas ataupun melepas genggamannya.
"I heart you, Tiara. You're more than just a friend," sambungnya sambil menundukkan wajah. "Will you be mine?" tanyanya lantang sedetik kemudian. Matanya menatap tajam.
We used to say
That we would always stick together
But who's to say
That we could never last forever
"Ah Reza, it's just a matter of time. Kamu hanya terbawa suasana. This song. A farewell. And it's only me that take you to airport. I heart you too dear, for sure. But.....you always knew the answer," aku tersenyum. Mempersembahkan senyum terbaikku.
Reza tersenyum. Tanpa melepas tanganku sedetikpun. "And i will ask it again later..."
Label:
prosa
26 Mei 2013
Short letters to Ikkyu San~
You do really know how to make my day without doing anything.
Well...thank you anyway to put all my short letters beside your desk.
It's a pride to accompany along your works, since the warm morning till
the cold midnight.I'm 23 and all what i've done just like a teenager. Well....the elder people, the more child their attitude. Isn't it? Or it's only me??
Okay. Anyone of you feel curious
about who is the man I'm talking about? Well....even i did not really know about his existences. So...just keep your curious until the next post. Maybe i will try to describe. Just maybe, dear. Don't take my word too serious :p 20 Mei 2013
17 Mei 2013
Di bawah gerimis
Gerimis selalu menyisakan satu cerita sendiri di satu sudut kota. Seperti malam ini. Lelah berkutat dengan setumpuk tunggakan tagihan dan sistem yang masih mengejar untuk tidak kutinggal pulang. Apa daya langkahku lebih kuat untuk menarik tubuh menjauhi kursi putar di satu ruang di lantai dua gedung tua 5 lantai kantorku. Tak lupa aku meletakkan satu pesan dengan kertas post it di meja nya. Malam ini aku meninggalkan sapaan dalam bahasa Prancis. Kutulis : Bonjour, tak lupa selalu dengan sebuah senyum cantik untuk menggantikan tanda titik
Iya, aku hanya ingin menjadi yang pertama menyapanya saat dia telah siap untuk bekerja. Yah, setidaknya aku berpura-pura benar-benar menyapanya walau aku tau aku tak pernah benar-benar menyapanya. Tidak dengan selamat pagi. Tidak dengan ohayo. Tidak pula dengan Bonjour.
Tak apa, setidaknya pagi ini aku sempat berpapasan sejenak dengannya di mesin absen sidik jari. Berkali-kali dia tampak mengusap layar detector yang selalu berkata "Silahkan coba lagi" setiap dia menyentuhnya. Dua kali aku melihatnya gagal membuat kotak berwarna hitam itu berucap "Terima kasih". Aku berdiri di sebelahnya, menyentuh mesin finger print sekali dengan malas, dan hati girang sekaligus. Sayang sekali mesin sialan itu langsung berucap Terima kasih, pun kotak hitam yang disentuhnya.
Sayang sekali aku tak bisa menyapanya semanis tulisan-tulisanku yang kubuat dengan penuh cinta. Pun dia tidak mengeluarkan sedikitpun suara saat aku berdiri di sebelahnya. Hanya segaris senyum yang dipaksa ditariknya saat dia melihatku berjalan mendekatinya, maksudku mesin finger print di depannya. Ah, siapalah aku ini.
Aku berjalan sendiri. Menatap jalanan yang kosong. Menggantungkan tas hitamku dengan malas menyilang bahu. Kumasukkan kedua tanganku kedalam saku jaket warna merahku. Gerimis selalu romantis dengan caranya sendiri. Jalanan yang hitam basah memantulkan lampu-lampu jalan berwarna oranye. Aku tersenyum. Pada cerita tadi pagi yang terputar dengan cantik di dalam tempurung kepalaku. Tanpa cela. Sedikit terasa menye-menye. Tapi toh aku tersenyum juga.
Terus berjalan dengan angin dingin yang membelai halus kedua pipiku. Aroma malam ini terasa manis. Meskipun tak ada kata yang terucap sepanjang jalanku menuju kerumah. Gerimis selalu memiliki satu cerita sendiri untuk setiap tetesnya. Mungkin suatu saat nanti kita akan menikmati tetes pertama gerimis romantis, dengan cerita kita sendiri. Iya, kita.
Iya, aku hanya ingin menjadi yang pertama menyapanya saat dia telah siap untuk bekerja. Yah, setidaknya aku berpura-pura benar-benar menyapanya walau aku tau aku tak pernah benar-benar menyapanya. Tidak dengan selamat pagi. Tidak dengan ohayo. Tidak pula dengan Bonjour.
Tak apa, setidaknya pagi ini aku sempat berpapasan sejenak dengannya di mesin absen sidik jari. Berkali-kali dia tampak mengusap layar detector yang selalu berkata "Silahkan coba lagi" setiap dia menyentuhnya. Dua kali aku melihatnya gagal membuat kotak berwarna hitam itu berucap "Terima kasih". Aku berdiri di sebelahnya, menyentuh mesin finger print sekali dengan malas, dan hati girang sekaligus. Sayang sekali mesin sialan itu langsung berucap Terima kasih, pun kotak hitam yang disentuhnya.
Sayang sekali aku tak bisa menyapanya semanis tulisan-tulisanku yang kubuat dengan penuh cinta. Pun dia tidak mengeluarkan sedikitpun suara saat aku berdiri di sebelahnya. Hanya segaris senyum yang dipaksa ditariknya saat dia melihatku berjalan mendekatinya, maksudku mesin finger print di depannya. Ah, siapalah aku ini.
Aku berjalan sendiri. Menatap jalanan yang kosong. Menggantungkan tas hitamku dengan malas menyilang bahu. Kumasukkan kedua tanganku kedalam saku jaket warna merahku. Gerimis selalu romantis dengan caranya sendiri. Jalanan yang hitam basah memantulkan lampu-lampu jalan berwarna oranye. Aku tersenyum. Pada cerita tadi pagi yang terputar dengan cantik di dalam tempurung kepalaku. Tanpa cela. Sedikit terasa menye-menye. Tapi toh aku tersenyum juga.
Terus berjalan dengan angin dingin yang membelai halus kedua pipiku. Aroma malam ini terasa manis. Meskipun tak ada kata yang terucap sepanjang jalanku menuju kerumah. Gerimis selalu memiliki satu cerita sendiri untuk setiap tetesnya. Mungkin suatu saat nanti kita akan menikmati tetes pertama gerimis romantis, dengan cerita kita sendiri. Iya, kita.
Buat aku, kecantikan itu harus berbanding lurus dengan kecerdasan dan pribadi yang menarik. Harus. Itu kenapa aku tidak terlalu suka dibilang cantik. Aku lebih bangga disebut qualified, smart, high capability, friendly girl, cheers and another good things. Karena ketika mereka memandangku dari kemampuan yang aku miliki, dengan sendirinya aku akan terlihat cantik dimata mereka. Bukan buat sengaja diliatin, tapi karena memang aku terlihat dengan sendirinya.
14 Mei 2013
tidak ada masalah yang terlalu sulit. yang ada hanya kita yang salah melatih kapasitas diri kita sehingga terlalu lemah untuk menghadapi semua masalah yang datang.
Label:
Aulia
9 Mei 2013
money talks
Label:
images
5 Mei 2013
2 Mei 2013
Banyak-banyak bicara, sering-seringlah bercakap-cakap dengan orang lain. Habiskan waktumu untuk mencuri ilmunya. Dengan diam kamu tidak akan mendapatkan apa-apa. (Andreas Patria)
Begitu kata salah seorang Direktur kepadaku saat aku mencoba untuk mewancarainya untuk membuat sebuah artikel majalah kantor. Tanpa dia sadari, saat itu pun aku sedang mencuri ilmu banyak darinya. You are awesome, Sir.
Begitu kata salah seorang Direktur kepadaku saat aku mencoba untuk mewancarainya untuk membuat sebuah artikel majalah kantor. Tanpa dia sadari, saat itu pun aku sedang mencuri ilmu banyak darinya. You are awesome, Sir.
Langganan:
Postingan (Atom)
