Home

Tampilkan postingan dengan label prosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label prosa. Tampilkan semua postingan

6 Mar 2014

Sore di Jakarta

1.
Selamat sore, langit Jakarta...

Tidak terlalu indah langit sore yang kita lihat saat itu. Hanya langit sore berwarna oranye di tengah keramaian pantai Ancol. Kata orang sih tidak masalah kita ada dimana, dengan siapa itu yang paling penting. Saya tidak melihat ada yang berbeda dengan orang-orang yang ada di sekitar saya. Hanya sahabat perempuan saya yang asyik berpelukan dengan pacarnya, seolah langit Jakarta sore itu adalah langit terindah yang pernah mereka lihat. Saya berani bertaruh, langit-langit penuh bintang di atas gunung-gunung tinggi yang pernah mereka daki pasti 1000 kali lebih mengesankan daripada langit sore itu.

Juga satu anak laki-laki teman sahabat saya yang diajaknya untuk bisa menemani kekakuan saya ketika mereka berpelukan. Saya tidak terlalu mengenalnya, dan saya tidak peduli. Bagi saya, berbicara dengan stranger selalu lebih menyenangkan daripada dengan teman sekolah, atau teman kampus, atau teman kantor. Tapi tetap saja, dia toh tidak membuat saya beranggapan langit oranye Jakarta sore ini terlihat lebih menarik daripada langit-langit Jakarta pada hari lainnya. Tetap saja ini di Jakarta.

21 Nov 2013

when some reason of smiles better keep untold

Terkadang mencintai kamu itu seasyik bermain game online di tengah malam di kamar yang hanya diterangi cahaya kuning dari lampu meja yang sudah mulai tertutup debu tebal. Serasa tak ingin berhenti. Mencintai kamu juga seasyik mendengarkan musik hype yang terputar kencang dari speaker super bass di mobil yang melaju kencang di jalan tol yang sepi kendaraan. Terlalu seru. Mencintai kamu seasyik menikmati ikan-ikan yang berjalan pelan mengitari terumbu-terumbu karang warna warni di air laut yang dingin namun begitu jernih. Sangat menenangkan.

Aku selalu merasa mencintai kamu semudah itu. Seharusnya. Seandainya aku tidak terlalu penakut untuk memulai membuka hati ini dan membiarkan kamu mengisi sedikit relung-relungnya yang telah mulai dingin karena lama tak ada yang mencoba untuk bertegur sapa dengannya. Aku masih terlalu pengecut untuk mencoba menulis satu kata untuk memulai lembaran baru buku hidup bersampul merah muda dengan gambar hati yang konon dilambangkan sebagai cinta. Tapi bagaimana jika ternyata mencintai kamu lebih mudah dari itu.

Ah, aku biarkan saja kupu-kupu cantik itu beterbangan di seluruh rongga perutku ketika aku sibuk bercanda dan sibuk membicarakan morat maritnya keadaan negara dan pemimpinnya itu. Aku biarkan saja tubuhku menghangat seketika ketika kamu bersandar dengan manja di bahuku yang kecil saat kamu asyik bermain iPhone putihmu. Aku biarkan saja ketika aku mulai sering tak bisa tidur waktu malam dan memutar kembali semua celoteh-celoteh ringanmu saat kita bersama beberapa jam sebelumnya. Aku biarkan saja ketika namamu secara otomatis terlintas ketika aku mengucap doa selepas sholatku

Terkadang aku ingin, membelai halus pipimu yang menghangat setiap kali malam mulai larut. Atau bermain dengan rambut ikalmu yang seringkali begitu berantakan karena kamu terlalu kerapkali menggaruknya sekalipun kepalamu tidak gatal. Terkadang aku ingin, menjadi orang pertama yang menyapamu dengan sebuah "good morning" walau hanya menggunakan messenger dan emote-emote centil. Terkadang keinginan itu seringkali aku kubur dalam-dalam pada akhirnya dan menjadi bunga mimpi yang terlalu membuatku sedih ketika aku akhirnya terbangun saat pagi.

Terima kasih, karena kamu begitu pandai membuatku tersenyum dengan begitu ringannya setiap kali matahari menyapa lewat celah gorden hijau tosca yang menggantung di jendela kamarku. Terima kasih karena kamu begitu pandai melepas lelahku dengan candaan-candaanmu yang selalu datang tak terduga ketika aku begitu lelah menatap monitor dan bermain dengan tuts-tuts keyboardku yang mulai pudar warna hurufnya. Terima kasih, karena setidaknya kamu membuatku sadar, bahwa aku masih bisa merasakan satu hal bernama cinta. Sekalipun tak nyata. Karena semuanya hanya akan tetap menjadi rasa yang tak akan pernah kita utarakan. Karena mungkin memang sebaiknya begitu.

24 Sep 2013

Seperti layang-layang yang tidak ingin aku terbangkan

Aku suka. Aku suka ketika kamu tertawa dengan  lepas saat bercakap dengan lawan bicaramu. Terlihat begitu bertolak belakang ketika kamu sedang berhadapan dengan LCD kecil di meja kerja kamu. Aku suka ketika melihat wajah kamu berkerut sambil memandang kolom-kolom tabel di monitor kerjamu. Aku suka ketika melihat kamu terjalan begitu terburu-buru saat sedang mengajar waktu, yang kamu sendiri tahu bahwa kamu tak akan pernah sanggup menangkapnya.

Iya, seperti aku yang begitu jauh berada di belakangmu. Selalu duduk sekurangnya 20 meter dari kamu hanya untuk bisa melihat kamu menarik garis bibirmu  ketika sedang asyik bercakap dengan orang lain. Selalu berdiri di belakangmu, setidaknya untuk melihat kamu sedang berjalan menuju entah apa atau siapa yang ada di depanmu. Dan berlari dalam bayanganmu. Dekat, namun tak terlihat.

Ternyata seperti ini rasanya mencintai kamu. Seperti sedang bermain dengan layang-layang yang terbang dan berwana transparan. Cantik, melayang tinggi, tapi hanya bisa aku nikmati dari jauh. Mungkin yang akan aku lakukan hanya membiarkan layang-layang itu tetap terbang di langit. Karena jika aku meraihnya, aku khawatir akan merusaknya dan tak akan pernah membiarkannya terbang lagi. Toh aku juga tak tau apa yang akan aku lakukan dengan layang-layang yang tak ingin aku terbangkan. Iya....seperti itu rasanya mencintai kamu.

5 Jun 2013

I left the pain behind

"Jangan pergi..."

Aku terdiam. Menangis. Memahami benar betapa besar penyesalan yang dialaminya. Aku hanya sedang  mencoba untuk menenangkan diriku sendiri.  Untuk tak berteriak. Untuk tidak berlaku kasar padanya. Sosok yang paling kusayang.

Kulihat dirinya berdiri lemas di hadapanku. Wajahnya lusuh penuh peluh dan air mata. Sungguh ingin ku memeluknya. Rambutnya tampak beberapa helai menginti dari balik kerudungnya. Menempel lepek pada pipi putihnya yang memerah dan basah karena air matanya.

Tangannya menyentuh tanganku. Membelai poniku yang jatuh menutup hampir seluruh mataku. Aku menahan diri untuk tidak menangis. Menahan diri untuk tidak jatuh ke pelukannya atau malah memberinya sebuah tamparan keras di pipinya. Tidak. Aku terlalu cinta padanya.

"Reina hanya butuh waktu. Reina akan pergi. Selama waktu yang Reina butuhkan. Reina nggak marah. Apapun asal Mama bahagia, Reina pasti setuju. Termasuk jika ingin menikah lagi dan menduakan Papa. Because I love you a lot, Mam. Reina pamit..."

Kutinggalkan Mama tanpa sebuah kecup manis di pipi putihnya yang  memerah. Kutinggalkan Mama menangis di lantai kayu ruang tamu depan rumah kami. Bersama lukaku agar tak bisa kurasakan lagi.

Be Your Everything

You're more than just a friend
So we can just stop pretending now 
Gotta let you know somehow

Sungguh, airport  yang penuh orang lalu lalang mendadak terasa hening. Sejenak badanku serasa dingin ketika tangannya menyentuh punggung tanganku yang sedang mengetuk-ngetukkan ponselku di meja berisi dua cangkir kopi setengah habis, tempat kami duduk menunggu. Menunggu waktu. 

"I can't hold this longer. I have no other time," Reza memecah keheningan kemudian. Baiklah, wajahku mulai memanas. Sepertinya ini bukan lelucon.
"Apa?" aku mencoba tersenyum. Memasang muka malas, seperti biasa ketika dia memasang aksi drama Romeo-Julietnya.
"This song really push me to say it. Now." Reza masih memainkan punggung tanganku. Aku diam. Tak membalas ataupun melepas genggamannya.
"I heart you, Tiara. You're more than just a friend," sambungnya sambil menundukkan wajah. "Will you be mine?" tanyanya lantang sedetik kemudian. Matanya menatap tajam. 

We used to say 
That we would always stick together

But who's to say
That we could never last forever


 "Ah Reza, it's just a matter of time. Kamu hanya terbawa suasana. This song. A farewell. And it's only me that take you to airport. I heart you too dear, for sure. But.....you always knew the answer," aku tersenyum. Mempersembahkan senyum terbaikku. 
Reza tersenyum. Tanpa melepas tanganku sedetikpun. "And i will ask it again later..."

17 Mei 2013

Di bawah gerimis

Gerimis selalu menyisakan satu cerita sendiri di satu sudut kota. Seperti malam ini. Lelah berkutat dengan setumpuk tunggakan tagihan dan sistem yang masih mengejar untuk tidak kutinggal pulang. Apa daya langkahku lebih kuat untuk menarik tubuh menjauhi kursi putar di satu ruang di lantai dua gedung tua 5 lantai kantorku. Tak lupa aku meletakkan satu pesan dengan kertas post it di meja nya. Malam ini aku meninggalkan sapaan dalam bahasa Prancis. Kutulis : Bonjour, tak lupa selalu dengan sebuah senyum cantik untuk menggantikan tanda titik

Iya, aku hanya ingin menjadi yang pertama menyapanya saat dia telah siap untuk bekerja. Yah, setidaknya aku berpura-pura benar-benar menyapanya walau aku tau aku tak pernah benar-benar menyapanya. Tidak dengan selamat pagi. Tidak dengan ohayo. Tidak pula dengan Bonjour.

Tak apa, setidaknya pagi ini aku sempat berpapasan sejenak dengannya di mesin absen sidik jari. Berkali-kali dia tampak mengusap layar detector yang selalu berkata "Silahkan coba lagi" setiap dia menyentuhnya. Dua kali aku melihatnya gagal membuat kotak berwarna hitam itu berucap "Terima kasih". Aku berdiri di sebelahnya, menyentuh mesin finger print sekali dengan malas, dan hati girang sekaligus. Sayang sekali mesin sialan itu langsung berucap Terima kasih, pun kotak hitam yang disentuhnya.

Sayang sekali aku tak bisa menyapanya semanis tulisan-tulisanku yang kubuat dengan penuh cinta. Pun dia tidak mengeluarkan sedikitpun suara saat aku berdiri di sebelahnya. Hanya segaris senyum yang dipaksa ditariknya saat dia melihatku berjalan mendekatinya, maksudku mesin finger print di depannya. Ah, siapalah aku ini.

Aku berjalan sendiri. Menatap jalanan yang kosong. Menggantungkan tas hitamku dengan malas menyilang bahu. Kumasukkan kedua tanganku kedalam saku jaket warna merahku. Gerimis selalu romantis dengan caranya sendiri. Jalanan yang hitam basah memantulkan lampu-lampu jalan berwarna oranye. Aku tersenyum. Pada cerita tadi pagi yang terputar dengan cantik di dalam tempurung kepalaku. Tanpa cela. Sedikit terasa menye-menye. Tapi toh aku tersenyum juga.

Terus berjalan dengan angin dingin yang membelai halus kedua pipiku. Aroma malam ini terasa manis. Meskipun tak ada kata yang terucap sepanjang jalanku menuju kerumah. Gerimis selalu memiliki satu cerita sendiri untuk setiap tetesnya. Mungkin suatu saat nanti kita akan menikmati tetes pertama gerimis romantis, dengan cerita kita sendiri. Iya, kita.

29 Jan 2013

love letter (2)

Teruntuk kekasihku,

Suatu ketika ketika kamu membaca surat ini, kamu akan paham mengapa aku memilih untuk tetap berada dalam jarak yang begitu statis darimu. Karena aku tahu alasan mengapa aku mencintai kamu, untuk apa aku mencintai kamu, dan akan bagaimana jika aku terus mencintai kamu.

Suatu ketika ketika kamu membaca surat ini, kamu juga akan mengerti mengapa jarak yang statis aku tetapkan dalam jarak yang tak akan pernah mampu kita kalahkan. Karena aku tahu aku telah mencintai kamu dengan cara yang salah, karena aku mendapatkan kamu dengan cara yang salah, dan aku mempertahankan kamu untuk sebuah alasan yang salah.

20 Jan 2013

Minggu pagi tak datang lagi

Tidak banyak pengharapan saya pada sebuah Minggu pagi. Bagi saya Minggu pagi adalah saat saya bisa menikmati cahaya matahari yang hangat, yang panasnya saja bahkan seharusnya tidak mampu saya rasakan jika saya bersembunyi dibalik kaca jendela. Minggu pagi identik dengan setangkup roti bakar isi mentega dan gula pasir yang dipanggang hingga muka-mukanya kering dan kecoklatan.  Minggu pagi identik dengan membersihkan kamar hingga tak lagi terasa sempit karena kertas, tas, kabel atau selimut yang tak terlempit selama seminggu karena selalu tak ada waktu setiap pagi selepas beranjak dari tempat tidur.

Minggu pagi seharusnya saya lalui dengan ceria dan tawa. Setidaknya sekalipun saya tidak tertawa dengan seseorang, saya tertawa karena sesuatu. Setidaknya tidak ada satu tetes air mata pun yang layak jatuh di Minggu pagi, bahkan air mata karena terlalu banyak menguap sekalipun. Minggu pagi adalah dimana saya bisa bermalas-malasan, bukan di tempat tidur. Tapi bermalas-malasan dengan menghabiskan waktu dengan sesuatu sedikit lebih lama dari biasanya. Film, musik, laptop, and other essentials.

Minggu pagi dulu seringkali saya nikmati agak lebih siang dari pagi-pagi lainnya. Kini saya menyesal bukan kepalang. Minggu pagi saya datang lebih siang sepertinya. Entah sudah berapa lama saya menantikan datangnya Minggu pagi dari sini. Bukan karena apa, karena Minggu pagi yang saya tunggu tak akan dapat lagi saya nikmati. dari bawah tanah lembab sejak hari Sabtu delapan bulan yang lalu.

17 Des 2012

saat itu langit berwarna jingga

No matter what, I do love you...
Sebuah pesan yang terasa tegas tapi begitu pandai menyampaikan maknanya masih terpampang manis di layar messenger. Tak mampu membalasnya.

--------------------------------

Kamu yakin dia tidak hanya sekedar pelarian? Begitu terus yang mereka tanyakan padaku saat aku menunjukkan foto kekasih baruku. Aku terdiam. Aku tak menjawab. Atau aku memang tak ingin menjawab lebih tepatnya.

Bagiku kata perlarian terlalu jahat. Bahwa pelarian selalu diimplikasikan dengan sebuah pelampiasan, dan bukan sebuah obat penyembuh luka. Bahwa pelarian selalu diidentikkan dengan aji mumpung, dan bukan sebuah kebutuhan. Bahwa pelarian selalu diartikan dengan nafsu, dan bukan karena cinta.

8 Des 2012

Kamu ingat dulu?

Kamu ingat bagaimana dulu kita berkenalan? Saat itu aku kesal setengah mati padamu. Karena kamu menanyakan kapan hari ulang tahunku di hari ulang tahunku. Menurutku hanya orang idiot yang melakukan hal seperti itu. Sejak saat itu aku tak lagi pernah membalas sapaan singkatmu di messenger tiap malam.

Kamu ingat bagaimana dulu kita bertemu? Saat itu kamu bilang kamu sedang ada di kotaku. Saat itu akhirnya aku mengajakmu bertemu dengan ditemani teman kita yang membuat kita berkenalan satu sama lain. Saat itu aku mengantuk karena baru tidur tiga jam. Saat itu aku hanya sempat melirikmu dari kaca spion tengah mobil. Saat itu pandangan kita bertemu. Saat itu pula aku pertama kali tersenyum padamu.

Kamu ingat bagaimana dulu kamu pertama kali tak sanggup bicara di hadapanku? Saat itu kamu mengantarku pulang setelah makan malam pertama berdua kita. Saat itu aku mencium taklim tangan hangatmu sebelum kamu pulang, layaknya seorang anak pada orang tuanya, layaknya seorang istri pada suaminya. Saat itu kamu hanya tertegun memandangku. Saat itu aku tau aku telah jatuh cinta padamu.

6 Des 2012

Berebut Bahu dengan Ratu

Dulu aku suka berada disitu. Sekedar untuk menyandarkan penat sejenak karena seharian duduk di meja kerja dan hanya berpegangan manis dengan mouse scroll warna hitamku. Biasanya kamu suka bertanya apa saja kegiatanku hari itu. Atau sambil menyodorkan sebotol teh madu kesukaanku kamu dengan seksama mendengarkan aku bercerita walau aku tau ceritaku tak terlalu menarik juga untuk kau dengarkan. Tapi aku tetap kembali ke tempat itu setiap senja sebelum aku pulang ke kontrakanku. Walau hanya lima atau tujuh menit. Tempat itu tak pernah terisi oleh siapapun.

Dulu aku juga suka berada disitu. Menyandarkan kepalaku sambil mendengarkan musik dari setengah headset yang kupakai dan setengahnya menempel di telingamu. Biasanya kita suka mendengarkan musik setiap Minggu pagi setelah kita lelah berlari di sepanjang jalanan kota yang akhirnya sepi kendaraan. Sambil meneguk teh manis panas atau menyendok semangkuk bubur ayam. Tempat itu selalu tersedia untukku.

Aku juga sering berada disitu. Untuk menangis dan bercerita tentang pertengkaranku dengan kekasihku yang berada ratusan kilometer dari tempatku berurai air mata. Biasanya kamu selalu menyediakan tissue untukku. Atau dengan cengiran polos kamu menyerahkan kedua tanganmu dengan pasrah untuk menyeka air mataku ketika aku tak membawa tissue. Sambil sesekali menyeka rambutku yang jatuh dari belakang telinga, kamu selalu menguatkanku dan meyakinkanku bahwa aku pasti bisa menghadapinya. Tempat itu, selalu menjadi saksi paling setia atas semua kesedihanku.

Tujuh Hari Sebelum Pernikahan

1. Ibu
Waktunya tinggal seminggu. Uang masih kurang 20juta. Tanah warisan terakhir yang kumiliki sudah kujual. Aku tak bisa melihat wajah anakku bersedih di hari besarnya 7 hari lagi. Apa aku harus menggadaikan mas kawinku untuk membeli mas kawin di pernikahan anakku besok?

2. Adik
Kakak ternyata sudah besar, seperti baru kemarin aku bermain balap sepeda dengannya di depan rumah. Seminggu lagi dia akan keluar dari rumah. Seminggu lagi dia akan punya kapal baru. Seminggu lagi kapal keluarga kami akan kehilangan nahkodanya lagi. Tanpa Ayah, tanpa kakak, sekarang giliranku.

3. Mantan Kekasih
Ah, jadi juga dia menikah. Namanya calon istrinya memang sama denganku. Sepertinya dia memang terobsesi dengan semua wanita bernama Restu. Menurutnya nama Restu itu seksi. Dulu aku setuju. Kali ini aku ingin membunuh semua Restu dimuka bumi ini, agar nama di undangan yang kubaca ini berganti namaku, Restu Pramudya Astari.

6 Nov 2012

Cerita di Masjid Agung

1. Kak Suci
Pertama kali aku datang ke tempat ini dengan kak Suci. Kakak perempuan tertuaku. Saat itu dia sedang butuh datang ke tempat yang tinggi untuk mengerjakan tugas apa yang saya belum paham nama mata pelajarannya. Kata Kak Suci ini adalah masjid terbesar di Provinsi, namanya Masjid Agung Jawa Tengah. Kak Suci menyebutnya MAJT. Waktu itu aku tak tau seberapa besar provinsi itu, jadi aku begitu kagum. Masjid ini punya menara yang tinggi sekali. Kami bisa melihat Kota Semarang yang panas dari atas sini. Aku langsung jatuh cinta dengan masjid ini.

2. Ariyo
Saat itu aku kelas 3 SMA. Saat itu tanggal 3 Juli 2006. Saat itu dia menyatakan perasaannya padaku disini. Aku berkaos merah muda dengan gambar graviti berwajah seorang wanita berambut panjang di sebelah muka, dia menggunakan kaos hitam almamater kampus kebanggaannya di Kota Pelajar sana. Kami memulai hubungan kami disini. Dia memelukku di tempat parkir sebelum kami pulang. Aku menangis di pelukannya.

3. Enggar
Dia sedang berkunjung ke Semarang. Kami sudah berpacaran 3 bulan. Dia memintaku untuk mengajaknya ke tempat ini. Sebenarnya aku enggan karena membuatku teringat dengan Ariyo. Aku tak bisa menyembunyikan kesedihanku saat masuk ke lapangan parkir di bawah gedung. Sudah 4 tahun berlalu sejak Ariyo memelukku dulu, tapi aku masih begitu merindukan dia. Kami batal sholat Isya disana. Kami batal naik ke menara. Kami bertengkar karena aku tak bisa menyembunyikan tangisku.

5 Nov 2012

loving and belonging

Ini bukan kali pertama kami berbicara serius tentang bagaimana bedanya pola pikir kami berdua. Tidak saat kami dulu menjalin kasih saat muda. Tidak pula saat kini kami tengah menanti kedatangan buah hati pertama kami. Kami tidak pernah sependapat dalam bagaimana aku menjalankan komunikasiku dengan Tuhan. Bagiku agama hanya sebuah identitas dan aktivitas. Bagi dia, agama dan Tuhan melebihi segalanya, tiang pegangan dia dalam menjalani hidup, seperti manusia normal pada umumnya.

Kami memiliki kitab yang sama. Pun pergi ke tempat ibadah yang sama. Kami melakukan hampir semua perintah yang diajarkan agama kami. Dia bangun untuk bersujud di malam hari, aku menghabiskan waktu di siang hari untuk duduk bersimpuh dan membaca kitabku sampai berkeringat karena mentari sedang tinggi-tingginya. Dia sibuk menghafalkan doa-doa dan surat dari kitab kami, aku berpuasa di hari Senin dan Kamis. Dia mendengarkan ceramah dan lagu-lagu berbahasa Arab, aku bersenandung shalawat dengan mulutku sendiri. Kami melakukan aktivitas yang sama. Terus seperti itu sejak kami memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih hingga kami terikat dalam satu hubungan kompleks bernama pernikahan.

29 Okt 2012

Hujan, Hot Chocolate dan Kamu

Pagi ini aku tersenyum sambil menikmati segelas kopi dan membaca satu per satu barisan-barisan pesan yang masuk ke seluler qwerty putih di meja makan. sembari mengenang kejadian beberapa waktu lalu. hujan, Hot Chocolate dan kamu. sepertinya aku mulai terbawa suasana. atau mungkin aku yang membawa diriku pada suasana yang sedang berlangsung.

aku lupa kapan aku bisa bercerita bahagia tentang hujan. aku dan hujan. aku tidak pernah terlalu suka dengan hujan selain aroma tanah basah yang keluar dari permukaan aspal yang panas saat tetesan air pertama kali menyentuhnya. aku mencoba mengenangnya lagi seperti sebuah dongeng pengantar tidur.

12 Mei 2012

a morning

a morning, few years ago, a side of Tugu Muda's Road
Me : Welcome to Semarang *smile*
D : Wow, you come so fast. You racing again.
Me : Not too patient to meet you soon, right?
D : *sit in front sit of my motor* Don't you say you miss me badly and really want to hug me last day?
Me : No, I didn't. Dream on.
D : Oh, yeah. Maybe. *start riding*
Me : No, I say it this morning too. *hug from the back*

26 Jan 2011

bab 5 A Glass of Sosro Black Tea

sayup sayup aku merasakan ada sesuatu yang dingin di keningku. terdengar seorang gadis sedang berbicara dengan seseorang. bukan, gadis itu sedang menelpon seseorang. sepertinya berbicara dengan, ayahnya mungkin. terdengar begitu santun.

tunggu. seorang gadis? aku mencoba membuka mataku perlahan. kulihat keadaan sekitar. aku berada di sebuah kamar, berukuran sekitar 4x5meter. ukuran kamar ini saja seukuran dengan gubuk tempat aku biasa tidur selepas mengamen. aku berada di sebuah kasur empuk, dan dengan sebuah bed cover bermotif abstrak dengan merah sebagai warna dominan menyelimuti tubuhku. kepalaku tiba tiba terasa nyeri saat aku mencoba untuk bangkit duduk.

seorang gadis menghampiriku. aku tidak mengenalnya. tapi aku hampir yakin bahwa kami pernah bertemu di suatu tempat.

"hei....mas jangan banyak bergerak dulu. kata dokter kepala mas mungkin terbentur aspal waktu semalam saya nggak sengaja nabrak waktu mas nyebrang. karena saya nggak tau mas siapa, dan saya nggak berani buka buka dompet orang, dan saya nggak tau harus bawa mas kemana jadi saya bawa mas kerumah saya. tapi tadi pagi sudah ada dokter keluarga saya yang datang dan....." gadis itu berusaha menjelaskan dengan sedikit gugup, tampak dari gestur tangannya yang bergerak kesana kemari.
"makasih ya mbak..." selaku, dengan tangan kanan sambil memegang tempurung kepalaku yang serasa mau pecah.

gadis itu terdiam. aku menatapnya canggung. lalu dia menyodorkan segelas teh panas dari nakas warna hitam di sebelah kasurku. aku meminumnya perlahan. baiklah, membuatku sedikit rileks.
"teh sosro black tea" ujarku sambil meletakkan kembali mug bergambar kincir angin ke atas nakas.
"hah? apa?" tanyanya bingung.
"itu teh yang dibikin, teh sosro yang black tea. kesukaan saya..." aku tersenyum. lalu mencari posisi untuk bersandar ke kepala kasur dengan susah payah karena kepala yang sakitnya luar biasa. aku juga mulai bisa merasakan bagian tubuhku yang lain mulai kaku.
"saya bantu..." gadis itu langsung dengan gesit menatakan bantal agar bisa membantuku bersandar untuk duduk.
"saya eka mbak..." aku mengulurkan tangan.
si gadis tertegun melihat ke arah tanganku yang terulur. aku bingung. aku baru mau menarik lagi tanganku ketika gadis itu menjabat tanganku cepat2. tangannya dingin.
"saya venus..."
aku mengangguk dan tersenyum. sekarang aku ingat bertemu dimana dengan gadis ini.

10 Jan 2011

bab 4 diakah Yuri?

aku melajukan prius merahku di jalanan semarang yang mulai lengang. jam di dasbor mobil menunjukkan pukul 1 pagi. jam pulang kerja yang terhitung awal dibandingkan hari hari lainnya. biasanya aku baru meninggalkan coffee shopku jam 2 pagi. aku sedang meraba mencari Xperiaku yang terjatuh di bawah kakiku saat tiba tiba ada seseorang pria mengagetkanku berlari di jalanan sepi dan membuatku terpaksa menginjak rem dengan ekstrim sampai membat ban belakangku berdecit nyaring.
tapi terlambat, sepertinya aku menabrak orang itu karena aku tidak melihat dia berdiri di ujung kap mobilku. keringat dinginku keluar. aku melepas sabuk pengaman dan buru buru membuka pintu dan melihat kedepan mobilku. serang pria, tengah tengkurap di aspal, dengan darah yang membasahi sekeliling kepalanya. belum sempat aku mendekati si pria yang terkapar di aspal ketika tiba tiba segerombolan preman menghampiriku dan si pria yang pingsan itu. dia belum mati, bahunya masih terlihat bergerak. sedikit membuatku lega.

"belom dibayar utangnya udah mampus aja dia. gimana ini kita bilangnya?" ujar seorang pria berambut merah sebahu diikat tipis yang mengenakan rompi jeans dan boot tinggi.
"yaudah, mau gimana lagi. masak orang mati masih mau dimintain duit." seorang pria tinggi kurus yang berada di sampingnya menimpali sambil menendang kaki si pria yang tengah pingsan di jalan.
"maaf...mas mas ini siapa? kenal sama orang ini?" tanyaku bingung. aku mencoba untuk mendekati si pria yang kutabrak.
"bukan urusan mbak!! sini, kasih duit!!"si pimpinan gerombolan ini menggertakku. badannya paling besar diantara yang lain. dia menggunakan jaket kulit cokelat. tampak kontras dengan celana jeansnya yang berwarna biru yang sudah mulai keputihan.
aku bengong. membenarkan posisi kacamataku. malas berurusan dengan sampah sampah macam mereka.
"berapa hutang orang ini?" tanyaku sambil mengambil dompet di mobil.
"700ribu sama bunga." jawab si kurus tinggi sambil menepuk bahu pimpinannya.
aku mengeluarkan uang 700ribu dari dompet. untung ada uang cash, kalau tidak ada, mungkin aku akan terkapar menemani si pria malang itu di aspal. dan akan ada headline di koran besok pagi, "ditemukan seorang pria dan wanita tidur tengkurap di jalanan semalam" Not Funny!
"saya lunasin, tapi bantu angkat orang ini ke mobil saya..." ujarku sambil menyodorkan 7 lembar uang warna merah. kepalaku mulai pening melihat darah, bukan pertanda bagus.

3 preman itu langsung menggotong si laki-laki yang kutabrak ke jok belakang priusku. tak ingin aku melihat bagaimana rupa si pria malang itu. bahkan aku tak tau dia sudah tua atau masih seumur aku, atau mungkin pria itu bermata dua atau satu, atau bahkan aku tidak tau dia punya wajah atau tidak. aku tidak tega melihatnya, itu saja. untung rumahku hanya 5 menit lagi jauhnya dari tempat ini.

aku duduk di kursi kemudi dan kulajukan prius sekencang mungkin. 130km/jam, cukuplah...

sesampainya dirumah langsung kubunyikan klakson kencang-kencang. satpam yang menunggu di pintu pagar langsung membuka pagar dan segera kuminta tolong untuk mengangkut korbanku ke kamar tamu, sementaraaku akan mencari kotak P3K dan handuk serta air hangat untuk membersihkan pasir serta darah si pria malang itu.
saat aku selesai berganti baju dan sampai di kamar tamu, 2 pembantu mudaku telah menyelesaikan bagian tersulit dari mengurus korban berdarah ini. apalagi jika bukan membersihkan darahnya itu sendiri??

baru akan menarik nafas lega ketika menyadari bahwa aku mengenali korbanku. filippo. darahku langsung berhamburan ke otak. wajahku terasa panas. jantungku terasa berpacu 5 kali lebih cepat, sampai sesak, atau mungkin percepatannya 7 kali lebih tepatnya kalau mau sedikit hiperbolis.

hei...air mataku tiba-tiba menetes dipipi. aku menghapusnya sebelum dua pembantu mudaku menyadarinya. aku mendekati tubuh yang tergolek lemas itu dan duduk di sisi kasur berseprai kuning gading. wajah si filippo tampak memerah. badannya panas. aku meletakkan kompres air es di keningnya yang diambilkan oleh salah satu pembantu mudaku.

"non, nona nggak kenapa kenapa tapinya? ada yang luka?" tanya Sari, pembantu mudaku yang berusia 16 tahun. aku sebenarnya tidak terlalu suka mempekerjakan anak2 dibawah umur ini. tapi kedua gadis ini adalah keponakan Bi Atun yang telah menjadi rewang dirumah ini sejak kecil, dan mama saat itu merasa kasihan.

"saya nggak apa apa. sudah...kalian istirahat saja. sudah dini hari begini, daripada nanti bangun kesiangan untuk membuatkan sarapan." jawabku tanpa mengalihkan mata dari korban tampan nan malang yang kutabrak.
"baiklah non, kami permisi dulu. non venus kalau butuh apa apa bangunkan saya saja..." sahut Endah, kakak Sari yang usianya terpaut 2 tahun dengan adiknya. aku mengangguk.

10 menit aku masih duduk di sisi kasur tempat si filippo tertidur ketika aku merasa kepalaku sudah cukup pening karena lelah. aku baru akan bangkit ketika filippo mengigau. "Yuri..."

aku teringat wanita hamil yang aku lihat di hate tempo hari. ternyata namanya Yuri. tanpa sadar air mataku menetes lagi. aku tersenyum pada orang pingsan sambil membenarkan bed covernya sebelum pergi meninggalkan dia.

"cepat sembuh, tampan..." aku menghapus air mata sambil berjalan gontai ke arah pintu kamarku.

9 Jan 2011

bab 3 halte dan hurted

siang ini, semarang panas seperti biasanya. aku masih duudk di bis koperasi warna kuning sambil mendengarkan si rihanna berteriak teriak dari Ipod nano putihku. perjalanan sampai kampus masih jauh. rasanya leherku sudah mulai gatal gara gara keringat.

tiba tiba seorang ibu duduk di sebelahku dan berseru " mbak venus... lho kok sendirian?" aku menoleh. ternyata tetanggaku belakang rumah.
"eh... bu Indah. mau kemana Bu?" jawabku sembari melepas headphone ku dari telinga.
"ini mau ke sekolah si Era, ngambil rapot. tadi mampir dulu kerumah pakdhe nya, makanya ini naik dari sini..."jawab si Ibu sambil membenahkan letak duduknya. lebih tepatnya sedikit menggencet bahu kananku agar pantatnya bisa pas menempel di atas kursi penumpang yang kecil dan lusuh ini.

aku mengangguk. malas berbasa basi. aku baru akan memasang headphone ku, tidak tega membiarkan rihanna berteriak - teriak sendiri tanpa ada yang mendengarkan, ketika si Ibu itu membuka mulutnya lagi setelah dia mendapatkan posisi duduk terbaiknya.

"kok mbak venus enggak dianter?" tanya si Ibu.
"saya enggak pernah dianter Bu. lebih suka naek bis. Semarang nanti tambah macet kalo semua orang naek mobil." aku menjawab, mencoba sopan.
"haha....jarang sekali mbak, anak muda jaman sekarang yang mampu kayak mbak venus, yang masih mau naik bis. padahal dirumah ada mobil nganggur. " si Ibu berujar dengan tulus.
aku tersenyum, mencoba terlihat tulus.

ah iya, belumkah kuceritakan pada kalian bagaimana latar belakangku? aku seorang putri dari orang tua pebisnis yang cukup sukses. aku memiliki satu kakak terpaut 3 tahun dariku dan kini sedang melanjutkan S2 nya di Australi. oh ya, tentu saja kedua orang tuaku sangat peduli pada pendidikan. dan itu menurun kepada anak anaknya. kami, aku dan kakak perempuanku, adalah anak anak yang sangat gila kuliah. bedanya kakakku dikaruniai otak yang sepadan dengan hobi belajarnya, sedangkan aku tidak.

ayahku memiliki saham di mana-mana. aku juga tidak tau bagaimana beliau bisa begitu sukses dengan permainan sahamnya ini. Ibuku, seorang dekan dikampusku, hanya saja bukan di fakultas tempatku kuliah. beliau termasuk orang yang disegani, entah karena auranya atau bagaimana. aku yang telah menjadi anaknya selama 20 tahun saja masih merasa segan terhadapnya.

rumahku ada di salah satu komplek elit di barat Semarang. ada 3 mobil yang terparkir setiap hari di garasi rumahku. tentu saja masing - masing untuk aku, ayahku dan ibuku. mobilku tidak pernah keluar di siang hari. aku hanya menggunakannya saat malam untuk menilik salah satu coffee shop yang aku kelola di pusat kota. tentu saja karena aku tidak kuat dengan angin malam dan demi keamanan pulang di dini hari, kata ayah.

aku diberi kepercayaan oleh ayah untuk mengelola satu coffee shop sebagai investasiku saat lulus nanti. perkecualian untukku, ayah tidak ingin aku pergi dari Indonesia untuk melanjutkan S2. ah, lagipula aku tidak terlalu tertarik untuk pindah dari Semarang. aku tidak suka harus berbasa basi dengan orang baru, tentu saja itu alasan utamanya.

mudah saja mengatur coffee shop itu bagiku. aku selalu memiliki ide cemerlang untuk membuat pelangganku selalu datang setiap malam. pembaharuan konsep cafe setiap 3 bulan, merupakan salah satu upayaku. dan kini, coffee shop itu sedang berubah menjadi semacam cafe di hutan. penuh dengan kayu kayu glondong yang disulap menjadi meja dan kursi di sana sini. asal ada konsep jelas, aku tinggal mengajukan proposal pada Ayah, dan voila....tidak sampai seminggu cafe ku sudah berubah.

"mbak venus...Ibu turun duluan ya. udah sampai itu di depan" si Ibu membuayrkan lamunanku.
"eh iya Bu, hati hati dijalan. salam buat dek Era dan Bapak." maklum, aku memang jarang berkumpul dengan warga kompleks karena aku tidak bisa meninggalakn cafe setiap malam seenak hati.

pandanganku mengikuti si Ibu sampai turun. sampai aku tiba tiba melihat sosok itu juga turun dari bus yang berhenti di depan bus kuningku. menenteng gitar hitam penuh stiker bendera negara dunia yang tergantung di bahu kirinya. filippo. dia tersenyum sambil melambai kepada seseorang di depannya. aku melihat ke arah dia melambai. seorang wanita yang tengah hamil duduk di halte bis tempat bis ku dan bis nya berhenti dan membalas lambaiannya.

tiba tiba hatiku mencelos. tidak menyenangkan. tentu saja. tentu saja dia seorang pria tampan yang telah beristri. bagaimana mungkin aku bisa tertarik pada seorang laki laki yang telah beristri. bodohnya kau venus. lagi pula dia hanya seorang pengamen.

mataku masih melihat ke arahnya, bukan ke arah mereka lebih tepatnya. kebetulan oven pemanggang manusia berwarna kuning ini terjebak macet. si filippo terlihat memberikan sekotak susu uht kepada wanita itu. ah...dia mencari uang mati matian untuk istrinya yang sedang hamil. beruntung sekali wanita itu. si filippo tersenyum kepada wanita yang tampak girang menerima susu dari tangannya. hingga tiba tiba dia menoleh ke arah jendela tempat dudukku.

baiklah, itu mata yang juga menawan. teduh sekali. ada yang menyumbat aliran jantungku sepertinya. aku merasa wajahku memerah. senyum untuk wanita di sampingnya masih tersisa, masih menampakkan sedikit lesung pipitnya di pipi. aku hampir melompat ketika Xperiaku bergetar di saku celana. ku ambil hp ku dari saku. mama. aku mengangkat telpon sambil menutup jendela, meredam suara bising dari luar. dan saat aku mau menoleh untuk melihatnya lagi, ternyata bis ku sudah berjalan meninggalkannya jauh di belakang. di halte bis. bersama istrinya yang tengah hamil tua.

aku menghela nafas lalu mengangkat telpon yang masih bergetar di tanganku. "Halo, Ma?"

8 Jan 2011

bab 2 lumer

perutku terasa kosong. sejak pagi aku belum sarapan. gara2 mama sakit dan pembantu pulang, meja makan benar benar bebas makanan pagi ini. kupakai jaket convers unguku dan berjalan dengan enggan kedepan gerbang kampus. kulirik casio ku, masih ada 20 menit untuk makan sebelum kelas selanjutnya dimulai.

satu yang kutuju hanya warung soto berwarna hijau. tidak ada makanan disekitar kampus ini yang cocok di lidahku selain soto itu. soto lemak. aku suka menyebutnya begitu. terlalu banyak daging dan lemak yang akan lumer di lidah di setiap suapan.

ah iya, aku juga tidak terlalu suka bergabung dengan kawan-kawanku yang lebih memilih makan di cafe-cafe bonafid yang ada di sekitar sini. bukan karena aku tidak punya uang, lihat saja isi dompetku kalau tidak percaya. pasti selalu ada 2 kartu ATM dan 2 kartu kredit serta beberapa lembar uang 50ribuan. tapi untuk apa aku buang-buang uang kepada mereka yang sudah kaya, lebih baik aku berikan uangku kepada orang-orang macam Bu Inem, penjual soto lemak, yang masih butuh banyak uang untuk biaya sekolah anak-anaknya.

ini bukan berarti aku tidak punya teman. ada beberapa teman dekatku. tapi mungkin karena mereka terlalu malas atau kuran pintar atau kurang beruntung, akhirnya banyak mata kuliah kami yang kini tidak lagi bersamaan. dan aku yang tidak terlalu suka berbaur dengan orang baru, lebih nyaman dengan kesendirianku ini. lagian aku tidak menghabiskan banyak waktu dikampus. jadi aku merasa tidak perlu repot-repot berkenalan dengan seisi kelas angkatan atasku demi bisa mendapat teman yang mau menemaniku makan

baiklah, aku sekarang telah duduk disini, di warung soto lemak Bu Inem seorang diri, menghadap semanguk soto lemak dan es teh tawar dan duduk dengan menghadap ke tembok hijau yang warnanya sudah tak terlihat lagi karena ditempeli kalender kampanye para calon - calon anggota DPRD, maupun walikota dan wakilnya.

i don't want you to give it all up
and leave your own life collecting dust


aku menoleh seketika. entah bagaimana aku langsung mengenali suara itu begitu saja. dan terlebih karena sangat jarang ada pengamen yang menyanyikan lagi Hoobastank. dan satu yang meyakinkau bahwa itu dia adalah kedua lesung pipit yang menghiasi pipinya. filippo. dia ada disini? ah...sudah pindah trayek lagi sepertinya orang ini. pantas saja aku tak lagi menjumpainya setelah kali pertama itu. mungkin para penumpang di bus tidak cukup dermawan kepadanya.

aku membalikkan lagi kepalaku ke arah mangkuk soto lemak yang masih berasap karena panasnya. kusendok sotoku dengan enggan. tiba-tiba saja aku merasa kenyang. aku meminum sedikit es teh tawarku, lalu kupaksa mulutku memakan soto yang sudah aku beli.

so why are you running and running away
why are you running and running away


sambil mengunyah aku membuka tas. ku keluarkan uang seribu dari dompetku. dia menyelesaikan satu lagunya. kali ini satu lagu saja sepertinya. dia menghampiriku sambil menyodorkan plastik piatos, kali ini rasa sapi panggang karena warnanya cokelat. mungkin plastik piatos biru kemarin sudah berlubang karena terlalu penuh berisi recehan dari para dermawan. aku menoleh, sambil menyorongkan uang seribuanku ke dalam bungkus piatosnya. lagi lagi dia tersenyum sambil berucap terima kasih. suaranya serak serak menggoda. ah....

aku melanjutkan makan soto hingga habis sambil mengotak atik Xperiaku mengecek email yang masuk dari kakakku di Ausie. kuhabiskan es teh tawarku dan siap menggeret mundur kursiku ketika tiba-tiba sikuku terantuk benda keras serupa kayu. aku berfikir seratus kali sejak kapan aku duduk menghadap tembok dan dibelakangku ada tembok triplek. aku menoleh.

"aduh, maaf mbak maaf..." ujar sipembawa triplek berjalan. ternyata sikuku terantuk badan gitar. dan ternyata si pembawa triplek berjalan itu adalah pengamen tadi. si filippo.

"eh...iya. nggak apa2. saya pikir ada tembok dibelakang saya, kok saya lupa. ternyata gitar." ujarku bodoh sambil membenahkan jaketku yang sudah benar posisinya. aku ngeloyor langsung menuju Bu Inem.

"ini Bu. biasa..." sahutku sambil mengeluarkan uang enam ribu pas.
"haha...tiap kesini kok pesennya nggak ganti-ganti mbak. enggak kepengen nyobain pecel Bu Inem apa?" tanya Bu Inem sambil mengelap tangannya ke serbet sebelum menerima uang dariku.

"ah...saya nggak boleh makan sambel kacang Bu. pedes. perutnya nggak tahan..."aku cengar cengir mendengar kata pecel. satu makanan pantangan dari dokter internisku yang mudah sekali untuk tidak dilanggar.

"owalah....wong kalo bilang nggak pedes ya saya bikinin yang manis mbak. biar mbak venus tambah manis terus punya pacar gitu. kesini kok sendirian terus..." si Bu Inem ngelantur sambil memasukkan uang yang sudah diambilnya dari tanganku kedalam laci "meja kerja"nya.

"hahaha...Bu Inem ini bisa aja. yaudah Bu, makasih ya...saya masih ada kelas lagi ini. permisi Bu..." jawabku sambil ngeloyor dan lagi, sambil membenahi jaketku yang sudah rapi. mungkin sekarang sudah selicin jas hitam yang biasa dipakai untuk pas foto melamar kerja.

aku melirik sejenak ke arah si filippo. dia sedang memasukkan sesuap soto ke mulutnya, dan yang secara tiba-tiba menoleh ke arahku juga. aku langsung buru-buru meninggalkan warung soto lemak.

ah...sepertinya bukan hanya sotonya saja yang masih terasa lumer di mulutku. senyum dengan lesung pipit pengamen tampan itu juga rasanya masih lumer di mataku. manis.