Home

Tampilkan postingan dengan label hand. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hand. Tampilkan semua postingan

20 Mei 2014

Internet makes the distance get closer but....

Even the internet now were closer than your boyfriend's ear.

Ini satu hal yang lucu karena sekarang saya sudah hampir tidak lagi mendengar dunia hanya milik berdua. No no no....sekarang ketika bertemu orang pacaran, dunia jadi milik sendiri. Satu wanita dengan dunia (maya) nya, satu lelaki dengan dunia (maya) lainnya.Tunjuk tangan siapa yang lebih bisa satu hari tanpa internet, daripada satu hari tanpa tangan dan senyum si pacar. Bahkan saya.

You have a problem, you talk to Twitter. You want to solve your problem, you have Google. You want to share your problem, you share with Path. You want to tell your problem without any bad words, you write in Blog. You want to know what's your problem?? Internet makes the distance get closer but make the distance​​ between the close one.

6 Mar 2014

Sore di Jakarta

1.
Selamat sore, langit Jakarta...

Tidak terlalu indah langit sore yang kita lihat saat itu. Hanya langit sore berwarna oranye di tengah keramaian pantai Ancol. Kata orang sih tidak masalah kita ada dimana, dengan siapa itu yang paling penting. Saya tidak melihat ada yang berbeda dengan orang-orang yang ada di sekitar saya. Hanya sahabat perempuan saya yang asyik berpelukan dengan pacarnya, seolah langit Jakarta sore itu adalah langit terindah yang pernah mereka lihat. Saya berani bertaruh, langit-langit penuh bintang di atas gunung-gunung tinggi yang pernah mereka daki pasti 1000 kali lebih mengesankan daripada langit sore itu.

Juga satu anak laki-laki teman sahabat saya yang diajaknya untuk bisa menemani kekakuan saya ketika mereka berpelukan. Saya tidak terlalu mengenalnya, dan saya tidak peduli. Bagi saya, berbicara dengan stranger selalu lebih menyenangkan daripada dengan teman sekolah, atau teman kampus, atau teman kantor. Tapi tetap saja, dia toh tidak membuat saya beranggapan langit oranye Jakarta sore ini terlihat lebih menarik daripada langit-langit Jakarta pada hari lainnya. Tetap saja ini di Jakarta.

21 Nov 2013

when some reason of smiles better keep untold

Terkadang mencintai kamu itu seasyik bermain game online di tengah malam di kamar yang hanya diterangi cahaya kuning dari lampu meja yang sudah mulai tertutup debu tebal. Serasa tak ingin berhenti. Mencintai kamu juga seasyik mendengarkan musik hype yang terputar kencang dari speaker super bass di mobil yang melaju kencang di jalan tol yang sepi kendaraan. Terlalu seru. Mencintai kamu seasyik menikmati ikan-ikan yang berjalan pelan mengitari terumbu-terumbu karang warna warni di air laut yang dingin namun begitu jernih. Sangat menenangkan.

Aku selalu merasa mencintai kamu semudah itu. Seharusnya. Seandainya aku tidak terlalu penakut untuk memulai membuka hati ini dan membiarkan kamu mengisi sedikit relung-relungnya yang telah mulai dingin karena lama tak ada yang mencoba untuk bertegur sapa dengannya. Aku masih terlalu pengecut untuk mencoba menulis satu kata untuk memulai lembaran baru buku hidup bersampul merah muda dengan gambar hati yang konon dilambangkan sebagai cinta. Tapi bagaimana jika ternyata mencintai kamu lebih mudah dari itu.

Ah, aku biarkan saja kupu-kupu cantik itu beterbangan di seluruh rongga perutku ketika aku sibuk bercanda dan sibuk membicarakan morat maritnya keadaan negara dan pemimpinnya itu. Aku biarkan saja tubuhku menghangat seketika ketika kamu bersandar dengan manja di bahuku yang kecil saat kamu asyik bermain iPhone putihmu. Aku biarkan saja ketika aku mulai sering tak bisa tidur waktu malam dan memutar kembali semua celoteh-celoteh ringanmu saat kita bersama beberapa jam sebelumnya. Aku biarkan saja ketika namamu secara otomatis terlintas ketika aku mengucap doa selepas sholatku

Terkadang aku ingin, membelai halus pipimu yang menghangat setiap kali malam mulai larut. Atau bermain dengan rambut ikalmu yang seringkali begitu berantakan karena kamu terlalu kerapkali menggaruknya sekalipun kepalamu tidak gatal. Terkadang aku ingin, menjadi orang pertama yang menyapamu dengan sebuah "good morning" walau hanya menggunakan messenger dan emote-emote centil. Terkadang keinginan itu seringkali aku kubur dalam-dalam pada akhirnya dan menjadi bunga mimpi yang terlalu membuatku sedih ketika aku akhirnya terbangun saat pagi.

Terima kasih, karena kamu begitu pandai membuatku tersenyum dengan begitu ringannya setiap kali matahari menyapa lewat celah gorden hijau tosca yang menggantung di jendela kamarku. Terima kasih karena kamu begitu pandai melepas lelahku dengan candaan-candaanmu yang selalu datang tak terduga ketika aku begitu lelah menatap monitor dan bermain dengan tuts-tuts keyboardku yang mulai pudar warna hurufnya. Terima kasih, karena setidaknya kamu membuatku sadar, bahwa aku masih bisa merasakan satu hal bernama cinta. Sekalipun tak nyata. Karena semuanya hanya akan tetap menjadi rasa yang tak akan pernah kita utarakan. Karena mungkin memang sebaiknya begitu.

14 Jul 2013

salam hangat dari calon istri yang suka menulis

Kalau saja aku bisa menulis buku secepat aku melahap sebuah buku, mungkin aku akan berhenti menulis. Aku bersyukur karena aku tidak begitu mahir menulis. Sekalipun aku ingin sesekali mahir dalam menulis. Agar aku dikenal oleh orang-orang. Sebagai seorang yang memiliki talenta. Berbakat. Atau mungkin aku akan dipanggil sebagai, penulis muda. Ah....cantik nian panggilan itu.

Tapi toh  aku tetap saja menulis dengan setia disini saja. Day by day. Kadang panjang kadang pendek. Kadang cinta-cintaan, kadang maki-makian. Terlalu random bahkan untuk dijadikan satu arsip dalam Aulia's Globe. Tapi tak apa, toh tetap saja setidaknya 20-30 pengunjung tetap datang mengunjungi halaman ini walau tanpa postingan berminggu-minggu.

23 Apr 2013

seuntai selamat pagi

Ini entah kali keberapa kita berpapasan di lorong sempit berundak dengan beberapa anakan yang aku injak, yang kamu pijak. Semua masih sama.

Aku masih saja berjalan dengan kepala menunduk. Kamu masih saja berjalan dengan pandangan lurus kedepan. Tanganku sibuk menggenggam jari jemariku sendiri. Tanganmu asyik memainkan ujung pulpen. Hanya raga kita yang bertemu. Mata kita tidak. Pikiran kita entah. Hati kita belum. Mungkin.

Aku berharap saya memiliki keberanian untuk memberi kamu lebih dari sepasang mata dari kejauhan. Mungkin segaris senyum. Atau satu oktaf nada berbunyi "hai". Atau sebuah percakapan singkat yang bisa menggantikan derap langkah kita yang mulai malas. Seuntai "selamat pagi" terdengar cantik.

Iya. Aku akan mencobanya nanti. Nanti setelah aku berhasil menahan langkahku untuk tidak memutar arah setiap melihatmu berada di ujung tangga yang akan aku lewati.

5 Feb 2013

saya yang jadi author happy endingnya

Semua orang sih suka banget buat bilang kalau happy ending itu hanya ada di film atau cerita dongeng anak-anak. Saya pun sering mengatakan hal itu sejak saya menonton film Hugo bersama dua sahabat hebat di salah satu mall di ujung Kota Solo. Waktu itu saya percaya sepenuhnya. Mungkin karena terbawa suasana hati saat itu. Ah, sepertinya saya ingat betul saya baru saja tak selang berapa lama putus dari pacar yang lama. Sungguh labil.

Ya, walaupun saya pun tidak bisa mengelaknya hingga saat ini. Saya belum menemukan ending yang happy dari cerita cerita hidup saya sekarang. Ah, yasudah. Saya pikir ya memang film saya sih sebenarnya belum waktunya berakhir. Tergantung juga sih, cerita yang mana yang dibicarakan. Tidak ada film yang terlalu banyak alur ceritanya. Cuma sinetron Indonesia yang seperti itu. Dan saya nggak mau punya hidup seperti sinetron-sinetron Indonesia. Bisa-bisa saya punya 6 season kehidupan.

Sebut saja kalau cerita tentang pendidikan, saya anggap kisah saya berakhir cukup manis. CUKUP. bukan happy ending. cuma rate 3 dari 5 stars. Dan buat saya itu bukan hal yang membanggakan. S.I.Kom setelah 4 tahun 11 bulan, yang layak sih hanya Alhamdulillah. Bukannya teriak-teriak bahagia sambil lompat-lompat keliling kampus.

29 Jan 2013

love letter (2)

Teruntuk kekasihku,

Suatu ketika ketika kamu membaca surat ini, kamu akan paham mengapa aku memilih untuk tetap berada dalam jarak yang begitu statis darimu. Karena aku tahu alasan mengapa aku mencintai kamu, untuk apa aku mencintai kamu, dan akan bagaimana jika aku terus mencintai kamu.

Suatu ketika ketika kamu membaca surat ini, kamu juga akan mengerti mengapa jarak yang statis aku tetapkan dalam jarak yang tak akan pernah mampu kita kalahkan. Karena aku tahu aku telah mencintai kamu dengan cara yang salah, karena aku mendapatkan kamu dengan cara yang salah, dan aku mempertahankan kamu untuk sebuah alasan yang salah.

20 Jan 2013

Minggu pagi tak datang lagi

Tidak banyak pengharapan saya pada sebuah Minggu pagi. Bagi saya Minggu pagi adalah saat saya bisa menikmati cahaya matahari yang hangat, yang panasnya saja bahkan seharusnya tidak mampu saya rasakan jika saya bersembunyi dibalik kaca jendela. Minggu pagi identik dengan setangkup roti bakar isi mentega dan gula pasir yang dipanggang hingga muka-mukanya kering dan kecoklatan.  Minggu pagi identik dengan membersihkan kamar hingga tak lagi terasa sempit karena kertas, tas, kabel atau selimut yang tak terlempit selama seminggu karena selalu tak ada waktu setiap pagi selepas beranjak dari tempat tidur.

Minggu pagi seharusnya saya lalui dengan ceria dan tawa. Setidaknya sekalipun saya tidak tertawa dengan seseorang, saya tertawa karena sesuatu. Setidaknya tidak ada satu tetes air mata pun yang layak jatuh di Minggu pagi, bahkan air mata karena terlalu banyak menguap sekalipun. Minggu pagi adalah dimana saya bisa bermalas-malasan, bukan di tempat tidur. Tapi bermalas-malasan dengan menghabiskan waktu dengan sesuatu sedikit lebih lama dari biasanya. Film, musik, laptop, and other essentials.

Minggu pagi dulu seringkali saya nikmati agak lebih siang dari pagi-pagi lainnya. Kini saya menyesal bukan kepalang. Minggu pagi saya datang lebih siang sepertinya. Entah sudah berapa lama saya menantikan datangnya Minggu pagi dari sini. Bukan karena apa, karena Minggu pagi yang saya tunggu tak akan dapat lagi saya nikmati. dari bawah tanah lembab sejak hari Sabtu delapan bulan yang lalu.

17 Des 2012

saat itu langit berwarna jingga

No matter what, I do love you...
Sebuah pesan yang terasa tegas tapi begitu pandai menyampaikan maknanya masih terpampang manis di layar messenger. Tak mampu membalasnya.

--------------------------------

Kamu yakin dia tidak hanya sekedar pelarian? Begitu terus yang mereka tanyakan padaku saat aku menunjukkan foto kekasih baruku. Aku terdiam. Aku tak menjawab. Atau aku memang tak ingin menjawab lebih tepatnya.

Bagiku kata perlarian terlalu jahat. Bahwa pelarian selalu diimplikasikan dengan sebuah pelampiasan, dan bukan sebuah obat penyembuh luka. Bahwa pelarian selalu diidentikkan dengan aji mumpung, dan bukan sebuah kebutuhan. Bahwa pelarian selalu diartikan dengan nafsu, dan bukan karena cinta.

16 Des 2012

24 surat cinta berwarna

  1. Karena kamu telah
  2. Merubah abu-abuku
  3. Menjadi merah, kuning dan biru
  4. Maka aku berjanji
  5. Tak akan lagi menjadi abu-abu
  6. Selama aku masih bisa memilih
  7. Antara menjadi hitam atau putih
  8. Dan karena kamu telah
  9. Menemani senja warna jinggaku
  10. Dengan segelas Cokelat panas
  11. Membuat dinginnya kabut putih
  12. Terasa sehangat senyum ceriamu
  13. Yang beraneka warna
  14. Dan karena kamu
  15. Yang tak pernah
  16. Membuatku merasa biru
  17. Maka aku berjanji
  18. Bahwa sekalipun langit siangmu 
  19. Terasa sehitam malam
  20. Aku akan menorehkan
  21. Aneka warna untukmu
  22. Agar kamu selalu seindah pelangi
  23. Yang tampak begitu berwarna
  24. Selepas langit berwarna abu-abu

8 Des 2012

Kamu ingat dulu?

Kamu ingat bagaimana dulu kita berkenalan? Saat itu aku kesal setengah mati padamu. Karena kamu menanyakan kapan hari ulang tahunku di hari ulang tahunku. Menurutku hanya orang idiot yang melakukan hal seperti itu. Sejak saat itu aku tak lagi pernah membalas sapaan singkatmu di messenger tiap malam.

Kamu ingat bagaimana dulu kita bertemu? Saat itu kamu bilang kamu sedang ada di kotaku. Saat itu akhirnya aku mengajakmu bertemu dengan ditemani teman kita yang membuat kita berkenalan satu sama lain. Saat itu aku mengantuk karena baru tidur tiga jam. Saat itu aku hanya sempat melirikmu dari kaca spion tengah mobil. Saat itu pandangan kita bertemu. Saat itu pula aku pertama kali tersenyum padamu.

Kamu ingat bagaimana dulu kamu pertama kali tak sanggup bicara di hadapanku? Saat itu kamu mengantarku pulang setelah makan malam pertama berdua kita. Saat itu aku mencium taklim tangan hangatmu sebelum kamu pulang, layaknya seorang anak pada orang tuanya, layaknya seorang istri pada suaminya. Saat itu kamu hanya tertegun memandangku. Saat itu aku tau aku telah jatuh cinta padamu.

6 Des 2012

Berebut Bahu dengan Ratu

Dulu aku suka berada disitu. Sekedar untuk menyandarkan penat sejenak karena seharian duduk di meja kerja dan hanya berpegangan manis dengan mouse scroll warna hitamku. Biasanya kamu suka bertanya apa saja kegiatanku hari itu. Atau sambil menyodorkan sebotol teh madu kesukaanku kamu dengan seksama mendengarkan aku bercerita walau aku tau ceritaku tak terlalu menarik juga untuk kau dengarkan. Tapi aku tetap kembali ke tempat itu setiap senja sebelum aku pulang ke kontrakanku. Walau hanya lima atau tujuh menit. Tempat itu tak pernah terisi oleh siapapun.

Dulu aku juga suka berada disitu. Menyandarkan kepalaku sambil mendengarkan musik dari setengah headset yang kupakai dan setengahnya menempel di telingamu. Biasanya kita suka mendengarkan musik setiap Minggu pagi setelah kita lelah berlari di sepanjang jalanan kota yang akhirnya sepi kendaraan. Sambil meneguk teh manis panas atau menyendok semangkuk bubur ayam. Tempat itu selalu tersedia untukku.

Aku juga sering berada disitu. Untuk menangis dan bercerita tentang pertengkaranku dengan kekasihku yang berada ratusan kilometer dari tempatku berurai air mata. Biasanya kamu selalu menyediakan tissue untukku. Atau dengan cengiran polos kamu menyerahkan kedua tanganmu dengan pasrah untuk menyeka air mataku ketika aku tak membawa tissue. Sambil sesekali menyeka rambutku yang jatuh dari belakang telinga, kamu selalu menguatkanku dan meyakinkanku bahwa aku pasti bisa menghadapinya. Tempat itu, selalu menjadi saksi paling setia atas semua kesedihanku.

Tujuh Hari Sebelum Pernikahan

1. Ibu
Waktunya tinggal seminggu. Uang masih kurang 20juta. Tanah warisan terakhir yang kumiliki sudah kujual. Aku tak bisa melihat wajah anakku bersedih di hari besarnya 7 hari lagi. Apa aku harus menggadaikan mas kawinku untuk membeli mas kawin di pernikahan anakku besok?

2. Adik
Kakak ternyata sudah besar, seperti baru kemarin aku bermain balap sepeda dengannya di depan rumah. Seminggu lagi dia akan keluar dari rumah. Seminggu lagi dia akan punya kapal baru. Seminggu lagi kapal keluarga kami akan kehilangan nahkodanya lagi. Tanpa Ayah, tanpa kakak, sekarang giliranku.

3. Mantan Kekasih
Ah, jadi juga dia menikah. Namanya calon istrinya memang sama denganku. Sepertinya dia memang terobsesi dengan semua wanita bernama Restu. Menurutnya nama Restu itu seksi. Dulu aku setuju. Kali ini aku ingin membunuh semua Restu dimuka bumi ini, agar nama di undangan yang kubaca ini berganti namaku, Restu Pramudya Astari.

5 Des 2012

cerita senja

1.
Bahwa hampir dan selalu pasti semua pandangan saya terhadap yang terlihat di dunia meredup dan memudar bahkan terlihat sama. Warnanya abu-abu.

2.
Bahwa hampir dan selalu pasti semua kenangan malah terlihat tergambar dan berwarna lebih jelas ketika saya menikmati senja seorang diri. Itu kenapa saya selalu memilih untuk keluar dari kamar setiap pukul tujuh belas.

3.
Bahwa aku selalu bisa belajar lebih cepat sebelum adzan berkumandang. Bagiku senja itu lebih damai daripada tengah malam.

4.
Bahwa jalanan adalah tempat yang paling salah untuk menikmati senja. Selain macet, saya juga tidak sempat memikirkan kamu.

5.
Bahwa teman dikala senja yang paling sempurna adalah segelas besar teh manis panas dan pembicaraan ringan dengan mereka yang baru saja mengakhiri jam kerjanya. Bisa kamu, bisa juga bukan.

6.
Bahwa langit oranye dengan sapuan awan tipis di batas - batas cakrawala adalah ciptaan Tuhan yang paling membuatku selalu merasa kecil. Aku sering melihatnya dari atap loteng rumahku.

7.
Bahwa sore ini aku bersyukur karena warna langit sedang tak terlalu bagus. Setidaknya aku tidak sedang menghabiskannya bersama kamu.

6 Nov 2012

Cerita di Masjid Agung

1. Kak Suci
Pertama kali aku datang ke tempat ini dengan kak Suci. Kakak perempuan tertuaku. Saat itu dia sedang butuh datang ke tempat yang tinggi untuk mengerjakan tugas apa yang saya belum paham nama mata pelajarannya. Kata Kak Suci ini adalah masjid terbesar di Provinsi, namanya Masjid Agung Jawa Tengah. Kak Suci menyebutnya MAJT. Waktu itu aku tak tau seberapa besar provinsi itu, jadi aku begitu kagum. Masjid ini punya menara yang tinggi sekali. Kami bisa melihat Kota Semarang yang panas dari atas sini. Aku langsung jatuh cinta dengan masjid ini.

2. Ariyo
Saat itu aku kelas 3 SMA. Saat itu tanggal 3 Juli 2006. Saat itu dia menyatakan perasaannya padaku disini. Aku berkaos merah muda dengan gambar graviti berwajah seorang wanita berambut panjang di sebelah muka, dia menggunakan kaos hitam almamater kampus kebanggaannya di Kota Pelajar sana. Kami memulai hubungan kami disini. Dia memelukku di tempat parkir sebelum kami pulang. Aku menangis di pelukannya.

3. Enggar
Dia sedang berkunjung ke Semarang. Kami sudah berpacaran 3 bulan. Dia memintaku untuk mengajaknya ke tempat ini. Sebenarnya aku enggan karena membuatku teringat dengan Ariyo. Aku tak bisa menyembunyikan kesedihanku saat masuk ke lapangan parkir di bawah gedung. Sudah 4 tahun berlalu sejak Ariyo memelukku dulu, tapi aku masih begitu merindukan dia. Kami batal sholat Isya disana. Kami batal naik ke menara. Kami bertengkar karena aku tak bisa menyembunyikan tangisku.

5 Nov 2012

loving and belonging

Ini bukan kali pertama kami berbicara serius tentang bagaimana bedanya pola pikir kami berdua. Tidak saat kami dulu menjalin kasih saat muda. Tidak pula saat kini kami tengah menanti kedatangan buah hati pertama kami. Kami tidak pernah sependapat dalam bagaimana aku menjalankan komunikasiku dengan Tuhan. Bagiku agama hanya sebuah identitas dan aktivitas. Bagi dia, agama dan Tuhan melebihi segalanya, tiang pegangan dia dalam menjalani hidup, seperti manusia normal pada umumnya.

Kami memiliki kitab yang sama. Pun pergi ke tempat ibadah yang sama. Kami melakukan hampir semua perintah yang diajarkan agama kami. Dia bangun untuk bersujud di malam hari, aku menghabiskan waktu di siang hari untuk duduk bersimpuh dan membaca kitabku sampai berkeringat karena mentari sedang tinggi-tingginya. Dia sibuk menghafalkan doa-doa dan surat dari kitab kami, aku berpuasa di hari Senin dan Kamis. Dia mendengarkan ceramah dan lagu-lagu berbahasa Arab, aku bersenandung shalawat dengan mulutku sendiri. Kami melakukan aktivitas yang sama. Terus seperti itu sejak kami memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih hingga kami terikat dalam satu hubungan kompleks bernama pernikahan.

29 Okt 2012

Hujan, Hot Chocolate dan Kamu

Pagi ini aku tersenyum sambil menikmati segelas kopi dan membaca satu per satu barisan-barisan pesan yang masuk ke seluler qwerty putih di meja makan. sembari mengenang kejadian beberapa waktu lalu. hujan, Hot Chocolate dan kamu. sepertinya aku mulai terbawa suasana. atau mungkin aku yang membawa diriku pada suasana yang sedang berlangsung.

aku lupa kapan aku bisa bercerita bahagia tentang hujan. aku dan hujan. aku tidak pernah terlalu suka dengan hujan selain aroma tanah basah yang keluar dari permukaan aspal yang panas saat tetesan air pertama kali menyentuhnya. aku mencoba mengenangnya lagi seperti sebuah dongeng pengantar tidur.

7 Okt 2012

Ilusi

Dan tiba-tiba semua begitu tajam memandangku
dan berkata bahwa ini semua adalah salahku
Tapi aku sangat menginginkan dia
Ingin terbang jauh tempat awan dan bintang bercengkerama
Aku bingung
merasa tersudut dan terdesak
Aku menahan untuk bertanya pada diriku
bagaimana semua itu terjadi
Aku menahan untuk menutup mataku
Tapi aku tak bisa menghalangimu pergi
Dapatkah aku mempercayai ini
seperti sebuah tipuan yang sempurna?

26 Apr 2012

everyday i learn, to find the Pythagorean formula to reach your heart, or to come back in my standpoint.

19 Jan 2012

letter on the 3rd

so the date was show on the 3rd again
i wouldn't say happy anything
uda selesai semuanya
sejak 17bulan yang lalu
yes...it's over

sekarang?
entahlah....
semuanya berjalan seperti sedang tidak terjadi apa2
seperti saling tidak mengenal mungkin lebih tepatnya