Home

13 Apr 2016

Saya Tidak Takut Tidak Punya Uang


Saya bukan orang yang takut tidak punya uang. Tidak punya uang bahkan sudah menjadi sahabat kental saya sejak jaman sekolah. Sampai saat saya cukup mampu menjadi pundi-pundi untuk mengisi kantong saya sendiri, saya pun masih sering merasa tidak punya uang. Mungkin karena saya selalu tau apa yang harus saya lakukan setiap kali saya tidak punya uang. Saya terlalu hafal dengan jalan keluarnya sehingga saya mungkin sudah tidak lagi terlalu merasa kagok atau bingung ketika lagi masa "tidak punya uang" itu datang.

Ketimbang tidak punya uang, saya lebih takut tidak punya semangat. Iya, bagi saya, ketika saya tidak memiliki sesuatu yang dinantikan untuk segera datang, itu sama seperti tidak punya semangat. Beberapa kali saya ada di fase itu. Dan saya melewatinya dengan cara yang berbeda-beda. Mungkin ada periode dimana ketika waktu aneh itu datang, saya malah menikmatinya. Menikmati tidak bersemangat. Menikmati menjadi makhluk tidak berguna yang menghabiskan waktu dengan makan, tidur dan bermain game, oh satu lagi, zina mata di online shop.

Itu adalah masa yang mengerikan dimana saya benar-benar menutup diri dari semua informasi dan aktifitas bahkan cahaya matahari yang bersinar. Tidak menonton TV, tidak baca berita, tidak membuka medsos, tidak membaca buku, apalagi pasang sepatu untuk sekadar jogging atau numpang makan mendoan di Senayan.

Ada masa lain dimana saya hanya hidup sebagaimana makhluk lain hidup. Bangun, mandi, bekerja, makan, minum kopi, pulang, tidur, dan seterusnya hingga saya bertemu akhir pekan. Bahkan saya tidak lega saat akhir pekan tiba atau merasa jengah saat Senin datang.

Entah mana yang lebih suram. Tapi bagi saya, tidak memiliki semangat itu mengerikan. Menjijikkan. Seperti hidup menjadi sampah. Saya tidak suka orang tidak berguna, itu mengapa kehilangan semangat terasa cukup mengerikan. Yah, ketika mendapati diri saya melewati satu pekan tanpa makna atau kenangan yang bisa diingat di kemudian hari, atau satu bulan dengan hal yang itu-itu saja dan menjadi suatu rutinitas menjemukan, ya...itu cukup mengerikan.

Dan ya, untuk permasalahan ajaib ini, jujur saja saya masih meraba-raba untuk melewatinya. Ada ketika saya mencoba mencambuk diri untuk melakukan perkerjaan pekerjaan rumah tangga yang tidak butuh otak dan hanya butuh tenaga seperti mencuci dan menyetrika. At least, melihat pakaian terjemur dan terlipat rapi menjadi sebuah pencapaian yang bermakna daripada memasukkannya ke toko laundry dan mengurangi jatah saya minum kopi.

Atau pernah juga saya mencoba untuk marathon film drama Korea dari pagi hingga gelap, demi saya tidak menyentuh ponsel untuk main game. Saya pikir, setidaknya saya tau beberapa kosa kata baru setiap kali saya nonton bahasa baru, seperti "Oppa" dan "Ahjumma". Haha...ya ya ya....saya tau, kata-kata tidak keren. Bahkan itu sudah melekat kencang di isi kepala gadis-gadis SMP jaman sekarang yang sangat tergila gila dengan Gu Jun Pyo atau joget bareng suju.

Suatu kali saya juga memaksa diri menjadi sedikit lebih berguna dengan baca-bca Al Qur'an dan terjemahannya walau hanya bertahan selama 30 menit dan berakhir dengan ngantuk atau scrolling timeline IG hingga habis kuota. Atau mungkin ya menurut saya paling bagus adalah saya pergi ke Gramedia, membeli beberapa buku, dan kembali ke kasur dengan tidak membacanya karena sudah terlalu lelah di sepanjang jalan.

Ya, begitulah hidup di Jakarta. Ketika semua orang disini sibuk ingin memperpanjang 24 jam nya untuk melakukan hal yang lain, saya memilih menikmati 24 jam yang saya punya dengan tidur dan tidka ambil pusing tentang hal-hal yang akhirnya tidak bisa saya lakukan, seperti datang ke kondangan ini dan itu, atau hadir di peluncuran buku penulis favorit saya, Aan Mansyur. Maaf ya mas Aan, gara-gara ngga jadi dateng ke peluncuran buku nya, sampai sekarang saya bahkan belum beli novel fabel O yang tersohor itu.

Oh life!