Home

24 Okt 2016

Ternyata menikah itu....

Ternyata menikah itu, banyak perkara yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Menikahnya sih ya begitu saja. Berdiri diatas pelaminan selama 2 jam, mengikuti arahan pranotocoro dan fotografer untuk tersenyum sambil melakukan ini itu. Bangun pagi dan lelah dirias serta semangat mempertahankan kepala agar tidak jatuh ke belakang karena berat. Menikahnya ya sebatas itu.

Tapi ada beberapa hal setelah menikah yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya. Tentang bagaimana saya akhirnya sungguh bisa meladeni si suami dengan penuh persembahan layaknya budak. Tentang bagaimana akhirnya bisa melihat jari manis menggunakan cincin kawin. Akhirnya bisa mempunyai keluarga baru dan berada di tengah interaksinya.

Tapi ada satu hal yang saya tidak pernah bayangkan sebelumnya. Tentang bagaimana perkara menstruasi menjadi hal yang penting. Sejak awal menikah semua orang mendoakan saya itu, apalagi kalau bukan supaya cepat dapat momongan. Yang paling lucu karena si suami pun semangat memperlakukan saya seperti layaknya istri yang sedang hamil, suka elus elus perut dan suka takjub pas saya makan banyak padahal emang lagi laper.

Lalu sampai tiba ketika saya bilang, "kayaknya aku dapet deh, soalnya udah agak flek flek gitu..."

Saya bicara dengan bergetar, dengan takut-takut. Lalu dia memeluk sambil bilang, "kok aku sedih ya...". Tiba-tiba mata saya berair. Mata dia pun terlihat berkaca-kaca. Ini, adalah momen paling mengharukan yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya. Lalu tiba-tiba kami menjadi takut. Kami menjadi saling merasa bersalah. Dan kami pun menguatkan satu sama lain, "Besok kita coba lagi yaa. Nanti kita perhatikan lagi tanggal baiknya dan jangan kebanyakan kesibukan acara seperti kemarin." Sambil tersenyum. Memastikan satu sama lain sama-sama baik-baik saja.

Ternyata menikah itu memang mengajarkan banyak hal. Memaksa kita untuk belajar banyak hal. Semoga pembelajaran ini dan itu yang akan kami terima akan semakin menakjubkan. Mudah-mudahan kami bisa tetap kuat dan tawakal dalam menjalankan kapal rumah tangga yang sederhana ini. Bismillah, kapal kami siap melaju.

28 Sep 2016

Big Thing : Marriage Life

Saya tidak tau benar seperti apa rasanya orang mau menikah. Hari ini adalah 4 hari sebelum saya resmi diakui oleh negara dan umat Islam di seluruh dunia untuk menjadi istri dari calon suami saya. Katanya orang-orang suka panik dan susah tidur kalau mau menikah. Akhir-akhir ini saya malah suka tidur jam setengah 9. Saya bingung mau ngapain kalau dirumah dan tidak boleh kemana-mana sementara jaringan Telkomsel tetep kekeuh di 3G dan tidak mau berubah ke 4G, dan film korea yang saya tonton sedang tidak seberapa menarik. Katanya menikah itu big thing.

Sampai saat ini, untuk saya pernikahan itu masih sekedar sebuah seremoni. Sebuah acara yang...ya dimana banyak saudara dan kerabat hadir untuk menyaksikan saya dipajang diatas pelaminan sambil mereka asyik mengomentari dekor, suhu udara, dan rasa makanan pada acara seremonial kami yang cukup banyak menggelontorkan uang dari kantong. Saya belum tau dimana big thing nya. Bagi saya big thing itu ada di kehidupan setelahnya. Berumah tangga.

18 Mei 2016

Saya sudah menarik selimut sambil memegang si apel putih yang sedang loading downloading plant vs zombie, game wajib main sebelum tidur. Memang belum berniat untuk tidur karena jam di kamar masih belum sampai angka 9. Entah kenapa malam ini dia berjalan sangat lambat. Lagu-lagu dari Spotify terlantun dari laptop yang terbuka di meja. Volumenya hanya 30%, tapi cukup untuk menjadi suara di malam yang sepi. Sampai tiba-tiba lagi Coldplay terputar dengan syahdu. Sendu.
Nobody said it was easy
Tiba-tiba saya merasa terpanggil untuk didepan layar dan menulis. Entah, hanya bagian lirik itu saja yang ingin saya letakkan di halaman ini. Entah mengapa saya tak mengambil jalan mudah dengan membuka aplikasi twitter, mengetiknya dengan singkat dan tanpa tenaga, menyebarkannya di timeline yang tanpa mention, lalu melanjutkan bermain plant vs zombie. Saya rasa saya sedang ingin mencurahkan sesuatu.

Entah apa korelasi lirik tersebut dengan malam ini, tapi rasanya ya begitulah. Saya sedang menjadi makhluk yang putus asa. Akibat terlalu banyak bermimpi tanpa aksi, buntutnya saya malah asyik dengan melodrama Korea yang suskes membuat saya begadang tiap malam. Agak merasa sedih karena beberapa cerita dan rencana yang pernah saya buat dulu ternyata tidak sesuai rencana. Entah mengapa luka awal taun itu tiba-tiba terasa lagi. Walaupun kata "entah" rasanya tidak patut saya katakan karena sebenarnya saya tau alasannya. Apalagi kalau bukan karena PMS. Every women feels it.

Pre Menstruasi Syndrom
Pre Marrital Syndrom

Ya....nobody said it was easy. Jadi ya sepertinya lagi-lagi harus mencambuk diri agar tidak berubah jadi pengecut lemah seperti isi odol yang pasrah terburai setiap kali dipencet untuk menuju lubang.

Absurd. Sekian saja,

13 Apr 2016

Saya Tidak Takut Tidak Punya Uang


Saya bukan orang yang takut tidak punya uang. Tidak punya uang bahkan sudah menjadi sahabat kental saya sejak jaman sekolah. Sampai saat saya cukup mampu menjadi pundi-pundi untuk mengisi kantong saya sendiri, saya pun masih sering merasa tidak punya uang. Mungkin karena saya selalu tau apa yang harus saya lakukan setiap kali saya tidak punya uang. Saya terlalu hafal dengan jalan keluarnya sehingga saya mungkin sudah tidak lagi terlalu merasa kagok atau bingung ketika lagi masa "tidak punya uang" itu datang.

Ketimbang tidak punya uang, saya lebih takut tidak punya semangat. Iya, bagi saya, ketika saya tidak memiliki sesuatu yang dinantikan untuk segera datang, itu sama seperti tidak punya semangat. Beberapa kali saya ada di fase itu. Dan saya melewatinya dengan cara yang berbeda-beda. Mungkin ada periode dimana ketika waktu aneh itu datang, saya malah menikmatinya. Menikmati tidak bersemangat. Menikmati menjadi makhluk tidak berguna yang menghabiskan waktu dengan makan, tidur dan bermain game, oh satu lagi, zina mata di online shop.

Itu adalah masa yang mengerikan dimana saya benar-benar menutup diri dari semua informasi dan aktifitas bahkan cahaya matahari yang bersinar. Tidak menonton TV, tidak baca berita, tidak membuka medsos, tidak membaca buku, apalagi pasang sepatu untuk sekadar jogging atau numpang makan mendoan di Senayan.

Ada masa lain dimana saya hanya hidup sebagaimana makhluk lain hidup. Bangun, mandi, bekerja, makan, minum kopi, pulang, tidur, dan seterusnya hingga saya bertemu akhir pekan. Bahkan saya tidak lega saat akhir pekan tiba atau merasa jengah saat Senin datang.

Entah mana yang lebih suram. Tapi bagi saya, tidak memiliki semangat itu mengerikan. Menjijikkan. Seperti hidup menjadi sampah. Saya tidak suka orang tidak berguna, itu mengapa kehilangan semangat terasa cukup mengerikan. Yah, ketika mendapati diri saya melewati satu pekan tanpa makna atau kenangan yang bisa diingat di kemudian hari, atau satu bulan dengan hal yang itu-itu saja dan menjadi suatu rutinitas menjemukan, ya...itu cukup mengerikan.

Dan ya, untuk permasalahan ajaib ini, jujur saja saya masih meraba-raba untuk melewatinya. Ada ketika saya mencoba mencambuk diri untuk melakukan perkerjaan pekerjaan rumah tangga yang tidak butuh otak dan hanya butuh tenaga seperti mencuci dan menyetrika. At least, melihat pakaian terjemur dan terlipat rapi menjadi sebuah pencapaian yang bermakna daripada memasukkannya ke toko laundry dan mengurangi jatah saya minum kopi.

Atau pernah juga saya mencoba untuk marathon film drama Korea dari pagi hingga gelap, demi saya tidak menyentuh ponsel untuk main game. Saya pikir, setidaknya saya tau beberapa kosa kata baru setiap kali saya nonton bahasa baru, seperti "Oppa" dan "Ahjumma". Haha...ya ya ya....saya tau, kata-kata tidak keren. Bahkan itu sudah melekat kencang di isi kepala gadis-gadis SMP jaman sekarang yang sangat tergila gila dengan Gu Jun Pyo atau joget bareng suju.

Suatu kali saya juga memaksa diri menjadi sedikit lebih berguna dengan baca-bca Al Qur'an dan terjemahannya walau hanya bertahan selama 30 menit dan berakhir dengan ngantuk atau scrolling timeline IG hingga habis kuota. Atau mungkin ya menurut saya paling bagus adalah saya pergi ke Gramedia, membeli beberapa buku, dan kembali ke kasur dengan tidak membacanya karena sudah terlalu lelah di sepanjang jalan.

Ya, begitulah hidup di Jakarta. Ketika semua orang disini sibuk ingin memperpanjang 24 jam nya untuk melakukan hal yang lain, saya memilih menikmati 24 jam yang saya punya dengan tidur dan tidka ambil pusing tentang hal-hal yang akhirnya tidak bisa saya lakukan, seperti datang ke kondangan ini dan itu, atau hadir di peluncuran buku penulis favorit saya, Aan Mansyur. Maaf ya mas Aan, gara-gara ngga jadi dateng ke peluncuran buku nya, sampai sekarang saya bahkan belum beli novel fabel O yang tersohor itu.

Oh life!

16 Feb 2016

Heh....aku tjapek jadi anak Jakarta.

Entah, rasa-rasanya saya mulai terbentuk dengan karakteristik warga-warga ibukota ini. Lama-lama dirasa tjapek juga loh. Banyak brand disini yang apa-apa segmentasinya untuk golongan menengah keatas. Lha....saya ini mulai jadi target pemasaran mereka juga kayaknya.

Bukan di segala lini sih, saya belum semoderate itu untuk apa-apa beli yang branded dan tersertifikasi MUI. Nggak kuat. Tapi kalo melihat bahwa saya dalam seminggu bisa ngabisin uang 150rb buat beberapa gelas kopi yang abis diseruput dalam sejam demi bisa lebih produktif rasanya kok agak lebay. Wong ya padahal ada internet di kantor dan dirumah. Bisa juga kok bikin kopi sachetan atau bikin single origin sendiri pake french press yang udah dibeli mahal-mahal. Tapi gimana, wong nyatanya kalo dikantor otak jadi buntu dan kalo dirumah mata jadi sepet.

Atau, sekarang mulai juga nih nyoba-nyoba beliin aneka lipstik matte, yang plis lah ya jangan sampe mamak saya tau harganya, bisa habis dia geleng-geleng 24 jam ngga brenti. Dulu perasaan saya cuma pake lipstik harga 35ribu itupun bisa ngerayu si mamak mintanya biar punya. Sekarang yasalam...sakti banget lah pokoknya.

Belom lagi bisa banget makan sushi sebulan sekali, steak seratusmapuluhribu sekali makan, trus makan nasi goreng junk food buat makan siang.

Untungnya belom sampe kebawa harus pake jilbab yang ada sertifikat halalnya biar hidupnya adem tentrem, padahal belom juga tuh jilbab bakalan dikunyah dan bisa bikin masuk surga ya kan. Ojo lah, kasian mas Dimas nanti kalo aku minta jilbab mahal-mahal. Cukuplah pasmina rawis seratus ribu dapet 6 aja udah bahagiak.

saya menyebut rasa itu : serah!

Sedikit kalau saya boleh saya bercerita, saya sedang berada yang mana saya sedang tidak bisa membedakan apakah saya sedang menjadi korban atau menjadi calon monster pemarah yang akan mengamuk memukul dan membalikkan semua meja di depan saya. Saya sedang menyadari ini ketika saya mencoba untuk bercerita kepada beberapa orang tentang masalah yang sedang saya hadapi.

"Lo nangis?"
"Kalo mau nangis, nangis aja lah.."
"Kalo gue jadi lo kayaknya gue udah nangis deh..."

Instead of crying, saya malah menghabiskan waktu saya dengan hal-hal tidak berguna yang seringkali saya lakukan, kalau saya sedang baik-baik saja. Menikmati film-film korea dan drama-drama picisan yang diputar di TV kabel dengan rating nyaris tidak pernah menyentuh angka 7 di IMDB. Menghabiskan waktu di depan gelas kopi mbak keriting warna hijau, dengan isi yang tidak pernah berubah, extra hot cappuccino. Tidur dari jam 9 gelap hingga jam 9 terang keesokan harinya. Mandi satu kali sehari. Makan junk food sepanjang minggu. Dan setelah semuanya berlalu begitu berkepanjangan, saya merasa postingan saya sebelumnya sangat wajar kalau memang terjadi. Saya memang seringkali menghabiskan waktu dengan hal-hal tidak berguna. Selain menjadi dewasa, ternyata menjadi berguna juga pilihan.

Saya hidup tampak seperti biasa. Padahal sebenarnya ada sebuah perasaan yang masih belum juga bisa lepas dari dalam dada dan kepala. Entah sedih atau marah, saya pun tak tau apa namanya. Mungkin jika kedua rasa itu digabung, saya akan menyebutnya dengan kata "serah". Ya seperti setiap gadis yang selalu menjawab ogah-ogahan setiap kali ditanya oleh sang kekasih "Kamu maunya apa?". Ya saya akan menyebut rasa itu "serah", dengan cara pengucapan yang sama. Yang mungkin jika dideskripsikan kedalam tulisan, istilah kata yang tepat antara sedih dan marah adalah "serah!"

Saya mulai mengurangi untuk menangis. Bukannya saya gadis anti air mata. Saya hanya sedang mencoba untuk mengalihkan air mata-air mata itu, dengan penyangkalan. Ya Tuhan, saya sadar bahwa saya adalah makhluk paling penuh penyangkalan sedunia. Tidak mau dibilang sedih, tidak juga memperlihatkan kemarahan kepada siapapun. Padahal jika dada ini tidak ada cover dan kepala ini tidak punya kulit, kalian pasti akan menemukan genangan air mata dan gulungan makian kotor.

Lalu saya mengalihkan makian - makian itu dalam suara-suara sumbang yang suka terdengar dari bibir saya, ketika saya mendengarkan lagu-lagu random yang sering saya putar dari playlist orang. Saya menghindari memainkan playlist saya sendiri ketika saya sedang serah! Menghindari saya akan memutar satu lagu secara berulang-ulang selama 24 jam. Saya tidak mau kekasih saya mati karena bosan mendengarkan saya menyanyikan lagu Sorry nya dek Bieber yang lagi terlalu sering saya dengarkan akhir-akhir ini.

Turning Calendar (again)

Mudah-mudahan ini hanya mimpi.....hanya mimpi....

Turning calendar, and 2016 was coming. Rasanya lagu Kisah Sedih di Hari Minggu punya mbak chacha keputer di telinga. Cepetnya....entah kenapa kerasa cepet 2015 berjalan. Ah, kata-kata itu selalu terucap di setiap awal taun. Time goes by, juph. And time to wake up because you've walked still for nothing.

Hard way to start this year. 1 hal yang masih sangat bisa disyukuri adalah sehat dan keluarga yang lengkap. Walaupun chaos kehidupan lagi nyenggol disana sini. But that's life.

Saya merenung, tentang apalagi yang harus menjadi resolusi saya tahun ini. Dengan kondisi kehidupan yang sedang carut marut begini, saya serasa agak ngeri untuk bermimpi. Bahkan cuma sekedar ingin berangkat tidur pun saya enggan. Sudah sekian puluh hari sejak kalender 2015 saya masukkan ke keranjang sampah, saya hampir selalu tidur diatas jam 12. Bukan karena kesibukan, tapi karena ketidak mampuan. Memang benar, isi kepala selalu menjadi ajaib di atas jam 11 malam.

Talking. Coffeeing. No longer writing. Not much books been ate. Sleeping. What will I be?

Long life.
Good laugh.
Hail Hittler. Huff!!

12 Nov 2015

Bonus destination : Raja Ampat

Photo taken here
Saya bukan traveller sih. Setidaknya saya tidak pernah mendeklarasikan diri saya sebagai traveller. Saya lebih suka menyebut diri saya pekerja yang suka jalan-jalan. Iya saya pekerja, pekerja keras malah. Setidaknya dulu saya begitu. Atau setidaknya mungkin saya masih akan menjadi pekerja keras kalau saya memang disuruh bekerja keras.

Ada beberapa episode perjalanan dalam hidup saya yang menurut saya, mungkin pada akhirnya akan sulit saya lupakan. Baru-baru ini saya pergi ke suatu tempat. Tempat yang tahun ini belum ada dalam list perjalanan mana saja yang sangat ingin saya datangi. Saya memang bukan pejalan, tapi saya punya sejumlah daftar kota yang ingin saya kunjungi. Dan taun ini saya dapat bonus satu tempat indah untuk saya kunjungi. RAJA AMPAT.

It was unplaned at first. Setidaknya sampai tengah taun, saya tidak menempatkan Raja Ampat dalam list perjalanan saya. Sampai akhirnya, biro konsultan perjalanan yang sedang dirilis oleh pacar saya merelease perjalanan pertamanya ke Raja Ampat. He's inivited me to join. On my birthday. SHOULD I REFUSED??

Hahaha....dan disanalah kami pada tanggal 7 Oktober. Bandar Udara kota Sorong. Rasanya sungguh ajaib, berada di lokasi yang memiliki perbedaan waktu 2 jam dengan Jakarta, lebih awal. Menakjubkan akhirnya saya menjadi kaum minoritas, dandanan saya yang sangat tidak mencolok jika ada di Jakarta, mendadak terasa terlalu nyeleb saat berada disana. Kulit yang tampak terlalu coklat saat foto selfie dengan teman-teman di Jakarta, mendadak jadi yang paling bersih saat ada di tanah Papua. Papua, auramu sungguh menakjubkan.

Saya pernah melakukan perjalanan kesana dan kesini. Sampai akhirnya saya berada di sana, dan saya menangis di atas gugusan pulau-pulau cantik di Wajag. Itu dia, foto-foto yang selama ini seringkali nangkring di timeline Instagram saya. Itu dia, satu-satunya most wanted but really expensive to be reached destination in Indonesia. Dan seriously, bahkan saat saya berada di sana pun seolah saya sedang memandang karpet foto ukuran raksasa yang sedang dibentangkan di kaki saya. Mereka, sungguh luar biasa cantik. Mereka sungguh....tak terkatakan.

Dimas dan Zulfa di puncak Wajag 

Seperti kutipan yang saya letakkan pada muka paragraf awal tulisan ini, saya memang tidak pernah kemana-mana, tapi saya meletakkan mereka dalam daftar perjalanan saya. Lihat saja apa yang saya pernah tulis di awal taun. Sampai sekarang, bahkan semua tempat itu tetap belum berhasil saya datangi. Ah, satu. SAYA TRANSIT DI MAKASSAR SAAT PERJALANAN PULANG KE JAKARTA!!

Dan kedua tempat itu, menjadi pencapaian terbesar dalam hidup saya. Kalian akan sangat memahami itu kalau kalian adalah pembaca setia blog ini dari dulu. Entah berapa kali saya menyebut nama kota Makassar. Makassar. Makassar. Saya masih tidak akan sampai kesana tanpa si pacar yang sungguh luar biasa. Terima kasih mungkin tak akan cukup, maka saya mencoba untuk mengabadikan kenangan kami disini.

Rasanya seru, ketika saya datang lagi ke daerah yang memiliki kebudayaan yang nyaris tidak sama dengan tempat dimana saya tinggal sekarang. Ibukota, Papua, Makassar, apa coba yang bisa disamakan. Indonesia memang kaya.


4 Agt 2015

The Ibu Ibu Pejabat

Saya mau cerita, sudah lama sekali rasanya pengen curhat tapi bingung mau curhat dimana.

Ceritanya pengen ngobrolin temen-temen main saya yang isinya anak-anak perlente yang dengan bangganya menyebut geng kami Ibu-Ibu Pejabat. Owalah...lha wong saya aja mau pulang Semarang aja masih cari tiket kereta ekonomi yang 90ribu kok dimasukin ke dalam geng Ibu Pejabat. Entah untung atau rada ngga mujur aja, karena lokasi saya yang dekat dengan tempat duduk mereka, jadilah saya masuk ke geng rusuh nan selalu tampak (pura-pura) bahagia itu. Saya aja capek pura-pura bahagia kalo main sama mereka. Hahaha
Lucu. Kami sering sekali eksis di Path. 4 kali hari Jumat dalam sebulan, sekali makan minimal 100ribu. Belum kalo arisan. Belum kalo ulang tahun. Belum kalo ada yang kawinan ato lahiran. Belum kalo lagi nyinyirin salah satu anggota geng yang lagi absurd tingkahnya, rasanya kaya saya jadi member geng yang paling ngga loyal. Halah..

Saya juga salah satunya. Lha gimana wong kadang kesel. Sebagian dari mereka adalah anak Jakarta yang mana mereka ngga harus punya budget buat ngekos atau pulang kampung tiap bulan. Maklum, walau kerja di Jakarta saya ini masih buruh yang kalo beli hand body aja masih cari yang paling murah tapi dengan isi paling banyak. Lebih seneng kalo ada extra 20% nya. Oke fokus. Trus, saya ini anak kosan yang Alhamdulillah masih dapet kosan harga 500ribu walau kamar mandinya di luar, masih punya cicilan ini itu waktu pengen beliin Ibuk mesin cuci atau kulkas, masih harus punya pacaran yang budget ngopinya lebih mahal daripada makan saya sehari, plus masih punya 4 weekend yang kadang jadi makin mahal kalo jalannya sama temen-temen ngga pake pacar karena kudu bayar sendiri-sendiri.

Owalah....gini tho rasanya jadi business woman di Jakarta. Ongkos sosialisasinya lebih tinggi daripada ongkos laundry. Tiba-tiba kejumawaan saya sebagai salah satu penghuni Ibukota mulai luntur. Apalagi menjadi bagian dari Ibu-Ibu Pejabat dan punya pacar yang juga anak (mantan) pejabat kadang suka bikin saya pegel-pegel kalo setiap tengah bulan udah mulai rajin nyuci dan nyetrika sendiri, ngga lagi laundry kaya setiap akhir bulan abis gajian. Atau yang biasanya yang kalo hari Sabtu bisa 3x pindah tempat ngopi jadi cuma duduk dikosan sambil minum Good Day Cappuccino. Mudah-mudahan saya diparingi kuat dan sehat buat nyuci nyetrika terus tiap bulan.

29 Jul 2015

Itu, buat saya mantan ya tetap saja someone that ever being exist so that intimate in my life.
Jadi wajar aja sih kalo liat foto doi lagi gendong anaknya bikin agak ngilu-ngilu gimana gitu.



HAHAHAHA
hufft

6 Jun 2015

Tujuh Tahun.

Siapa sangka ternyata blog ini sudah berumur 7 tahun. Tidak pasif barang satu tahun pun. Todak pernah saya lupa paswordnya walaupun berbulan-bulan tidak diisi apa-apa. Siapa sangka blog berumur 7 tahun ini dulu dimulai dari kesukaan menulis diary. Lama kelamaan karena laci lemari dirasa sudah kepenuhan menampung aneka rupa diary saya, saya putuskan sepertinya harus didigitalkan saja.

Jaman dulu internet tidak seperti sekarang. Hp ada kamera saja sudah bagus, mana punya saya yang bisa buat mengakses friendster atau facebook. Jaman dulu kalau mau online saya harus menabung satu hari untuk beli pulsa lima ribu untuk mengisi pulsa di HP cdma kaka saya yang bisa dipergunakan sebagai modem kalau dia berbaik hati. Dengan catatan, ya saya yang mengisi pulsa.

Dulu saya tak pernah dengan lega mengotak atik template blog ini. Tidak juga ada teman-teman yang saya kunjungi catatan hariannya selain penulis-penulis yang memang sudah bersahabat dengan internet dari jaman dahulu kala. Teman-teman saya dulu penulis-penulis cantik macam Dee Lestari atau Alanda Karisha. Lainnya saya hanya sambil iseng saja jadi penjelajah blog. Pada dasarnya saya memang suka menjelajah, dan berubah menjadi traveling saat saya sebesar sekarang.

Lalu saya menulis di One Note. Setidaknya saya tidak perlu online untuk menulis. Sampai akhirnya ternyata perangkat komputer di rumah saya tidak mau dinyalakan. Kena virus, kata kakak saya. Saya saja tak tau apa wujud dari virus. Yang saya tau virus itu mengeluarkan bunyi yang sangat berisik jika dia terdeteksi sedang asyik menggerogoti perangkat komputer saya. Dan file selama - selama berbulan-bulan itu hilang. Saya tidak tau lagi apa cerita saya saat itu. Mudah-mudahan memang tidak ada yang penting jadi tidak apa - apa kalau dilupakan.

Sampai akhirnya saya punya cukup uang untuk main ke warnet setiap minggu sekali atau dua. Lalu saya punya uang untuk beli modem atau perangkat handphone sendiri yang bisa disambungkan ke komputer kesayangan saya sendiri, saya mulai menulis. Lagi. Lagi. Lagi. Tentang hati.

Sampai saya mencoba belajar, menulis lagi. Lagi. Lagi. Sampai statistik saya melejit. Lagi. Lagi. Lagi. Saya menulis karena candu. Candu dikunjungi banyak orang. Saya candu kepopularitasan. Ternyata menjadi populer memang menyenangkan.

Sampai saya akhirnya sibuk sendiri. Tak ada lagi isi kepala yang ingin dituang. Semua sudah dituangkan kepada kekasih hati. Atau sahabat satu atap yang ditemui saat mata terbuka dan sebelum terpejam kembali. Blog ini kembali hilang. Lagi. Lagi. Lagi. Saya mengabaikan blog ini.

Selamat tujuh tahun blog kesayangan saya. Terima kasih tidak pernah marah atas silih bergantinya objek cerita yang saya tulis. Terima kasih tidak membuat saya melupakan kata kunci untuk masuk.

2 Jun 2015

That's how you live. Just happy!!

Saya percaya bahagia itu kita yang ciptakan. No matter what they say, we made our happiness itself.

Tapi individu mana yang bisa lepas dari opini publik. Terlebih jika selama ini jika dia dikenal sebagai salah satu figur yang menjadi panutan bagi individu lainnya. Avoiding and ignoring will the hardest thing to do. Apalagi jika opini publik tersebut keluar untuk cerita kehidupan pribadinya.

Satu percakapan menarik keluar saat saya dan teman saya mengemukakan satu berita mencengangkan,
"Pak Bos ini katanya mau nikah lho, sama abg."

Ah, saya sih bisa bilang bodo amat kalau si Pak Bos yang dia bilang adalah figur lebih terkenal lainnya yang tidak saya kenal, dan bukannya Pak Bos yang saya kenal dan well.....i dore him a lot.

"Seriously?? he just got divorced last year, right?"

Oke. dan saya pun mengeluarkan opini publik lainnya. Dan percakapan kami selanjutnya terdengar seperti obrolan sampah antara ibu-ibu komplek yang sedang belanja sayur di depan pos ronda RT.

Tapi apalah arti percakapan saya dan teman saya itu. Bahagia itu toh mereka yang menciptakan. Walaupun konon katanya berita semacam itu sudah beredar di seantero gedung tempat kami bekerja. But who cares, if they're single and they feel fit to each other. Even it doesn't look the same in our eyes. Sorry, i mean in our mind.

Atau seperti bagaimana ketika di lain kesempatan saya dan teman saya yang lain memberi cerita,
"Dia mau married. Pemberkatannya kayaknya di gereja deket kawasan A"

Dan bertimpal dengan jawaban saya, "Sayang banget. Dia beneran murtad??"

Hahaha....who cares with what i thought, eh?
Ini negara yang merdeka dan kelewat demokratis. Ah, walaupun perintah agama tidak ada korelasinya dengan kedemokratisan suatu negara. Tapi lagi-lagi siapa yang peduli dengan seorang muslim yang tiba-tiba makan babi karena dia begitu ingin menikahi sang pujaan hati. Bahkan kedua orang tuanya pun mungkin tidak akan banyak bicara.

Opini publik sendiri merupakan sebagian kecil bagian dari kehidupan yang harus ditaklukkan untuk menciptakan kebahagiaan itu sendiri. Orang jarang berpikir, bahwa sebenarnya Pak Bos duda itu lebih susah untuk bangkit dari keterpurukannya saat bercerai ketimbang saat mendengarkan setiap orang membicarakan tentang dirinya yang memiliki intimate relationship with a pretty young lady in our office. Atau bagaimana teman muslim saya yang akhirnya makan babi, lebih sulit untuk mengumpulkan keberanian berbicara kepada orang tuanya tentang keinginan biologisnya untuk menikahi seorang gadis yang kebetulan saja berbeda Tuhan dengan keluarganya. And anyone cares about that?? Yep, it's no one.

Jadi semua opini publik itu akhirnya hanya akan berakhir sebagai obrolan sampah yang hilang ketika mereka menghabiskan tetes terakhir di cangkir ice tea mereka saat percakapan itu terjadi. Atau akan tertinggal di meja kayu saat mereka meninggalkan tempat ngopi saat mereka sibuk membicarakan orang lain. Begitulah opini publik akhirnya akan hilang. Dan mereka yang dibicarakan toh akhirnya akan tetap bahagia. Bangkit dari keterpurukannya, tanpa terngiang-ngiang suara sumbang publik-publik idiot seperti saya.

Sebenarnya begitu pula yang akan saya lakukan. Yah, bahagia saja.