Home

24 Sep 2013

Seperti layang-layang yang tidak ingin aku terbangkan

Aku suka. Aku suka ketika kamu tertawa dengan  lepas saat bercakap dengan lawan bicaramu. Terlihat begitu bertolak belakang ketika kamu sedang berhadapan dengan LCD kecil di meja kerja kamu. Aku suka ketika melihat wajah kamu berkerut sambil memandang kolom-kolom tabel di monitor kerjamu. Aku suka ketika melihat kamu terjalan begitu terburu-buru saat sedang mengajar waktu, yang kamu sendiri tahu bahwa kamu tak akan pernah sanggup menangkapnya.

Iya, seperti aku yang begitu jauh berada di belakangmu. Selalu duduk sekurangnya 20 meter dari kamu hanya untuk bisa melihat kamu menarik garis bibirmu  ketika sedang asyik bercakap dengan orang lain. Selalu berdiri di belakangmu, setidaknya untuk melihat kamu sedang berjalan menuju entah apa atau siapa yang ada di depanmu. Dan berlari dalam bayanganmu. Dekat, namun tak terlihat.

Ternyata seperti ini rasanya mencintai kamu. Seperti sedang bermain dengan layang-layang yang terbang dan berwana transparan. Cantik, melayang tinggi, tapi hanya bisa aku nikmati dari jauh. Mungkin yang akan aku lakukan hanya membiarkan layang-layang itu tetap terbang di langit. Karena jika aku meraihnya, aku khawatir akan merusaknya dan tak akan pernah membiarkannya terbang lagi. Toh aku juga tak tau apa yang akan aku lakukan dengan layang-layang yang tak ingin aku terbangkan. Iya....seperti itu rasanya mencintai kamu.

22 Sep 2013

Lessons of the day : The Holiday

What do  you usually do  when you having a short holiday??

Bangun siang. Bersih-bersih kamar. Hot coffee (Oh i don't need to mention it, it always be the best partner in my each morning). Loud music all day long. Movie-ing. Blogging. Oh....it such a heaven time.

Rasanya menyenangkan bisa mengatur waktu senggangmu sendiri. Dengan atau tanpa teman di hari libur, dengan atau tanpa acara, saya selalu menyukai semua bentuk hari libur. Seperti siang ini, ditemani dengan sepiring nasi opor ayam hasil beredar mencari warteg yang buka and unfortunately I met my frends there as my saviour, karena warteg yang saya datangi kebetulan sangat penuh dengan bapak-bapak yang saya berani bertaruh sudah seumuran Papa saya dirumah, i spent my time with a movie.
The Holiday DVD Cover (Google)

The Holiday. Sebuah film keluaran tahun 2006. Bukan film-film yang sepertinya masuk jajaran box office pada masanya. But I love it somehow. Sebuah film yang bercerita tentang hasil escaping from a broken heart situation. Classic. Hahaha....film drama ala ala ftv yang bikin galau gitu sik. Sebenernya yang bikin galau karena kenapa Jude Law begitu tampan dan rupawan, dan dia bukan pendamping sayaa :|

Dari film ini saya jadi memahami banyak hal. Bahwa iya, meninggalkan sebuah permasalahan tidak akan membuat hati menjadi tenang. Escaping is escaping. Even it's near or far. And yeah...very me. That an unfinish business always be an unfinish business. Hahaha....business apa lagi sih Jup, sok kebanyakan bisnis aja deh..

Dua. Even a tear can be so helpfull. Ya, bahwa kita adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Dan ya, ketika tidak ada seorangpun yang bisa diajak berbagi, bahkan setetes air mata dapat begitu membantu. Bukan untuk menyelesaikan masalah. Hanya membantu untuk melepaskan udara-udara kekesalan yang begitu menyesakkan. ceilah...bahasa lau jup.

Three. You never know how it would be ending, not when you even never try to start. Brave, faithful and believe. Only me that could toughen my self.

Damnly, kadang melaksanakan tidak semudah  menulis semua lessons of the day ini. Oh....it's oftenly i mean.

20 Sep 2013

Durable night (love)

Dunia ini terlalu huge untuk dihabiskan sendiri, makanya aku pengen bagi sama kamu.
~ Durable Love 

Katanya sih begitu. Tapi entahlah, rasanya dunia sebenarnya ngga seluas itu. Bahkan terlalu sempit untuk dihabiskan sendiri. Kita tidak sedang membicarakan jarak bukan?? :p

Ada banyak hal yang memang menyenangkan untuk dihabiskan sendiri. Malam yang panjang sebelum bertemu dengan akhir pekan yang dimodifikasi menjadi satu hari kerja tambahan misalnya. Rasanya agak terlalu mengesalkan jika waktu berharga seperti ini digunakan untuk bersantai memikirkan yang sudah menyita waktu pikir selama 5 hari kemarin. Malam panjang seperti ini lebih asik untuk bercengkerama dengan diri sendiri. Dengan cerita - cerita yang belum menemukan jalan akhirnya. Maaf, kali ini saya sedang tidak membicarakan tentang kamu. Oke....i need a durable night!

19 Sep 2013

Topeng

Saya selalu percaya bahwa semua orang pasti pernah mengenakan topeng setidaknya sekali dalam hidupnya. Dan saya lebih percaya bahwa lebih banyak orang yang mengenakan topeng setidaknya beberapa jam setiap hari, atau dengan beberapa orang dalam kehidupannya. Selalu ada yang disembunyikan.

Saya tidak heran ketika seorang teman saya bercerita bahwa dia merasa terkejut dengan seorang temannya karena dia tiba-tiba mendapati bahwa temannya pernah melakukan hal tidak terpuji. Bagi dia, itu mengejutkan karena temannya adalah seseorang yang begitu santun dan taat beribadah. Bagi saya, entahlah. Saya tidak pernah menganggap bahwa tingkat ketaatan seseorang sejajar sama tinggi dengan tingkat perilaku seseorang. Sejajar mungkin iya, tapi sama tinggi? Sepertinya big NO. Pun saya :)

Saya tidak sedang men-judge seseorang. Saya hanya merasa, iya memang benar kalian tidak akan pernah tau peperangan macam apa yang sedang diperjuangkan oleh orang lain. Tidak oleh sahabat saya, atau kedua orang tua saya sendiri. Saya hanya....ya setuju bahwa tidak ada yang tidak punya rahasia.

Lucu mengetahui bahwa akhirnya kita terkejut dengan rahasia-rahasia kecil dari Allah yang akhirnya kita diijinkan untuk mengetahuinya. Memang benar, ada beberapa hal yang memang lebih baik untuk dikatakan. Lebih baik disimpan sendiri. Atau katakan saja pada tulisan. Seperti saya. Seperti mereka yang juga tidak begitu pandai bercerita tentang masalah-masalah mereka.

Ah hidup. Penuh rahasia. Penuh palsu. Semoga saja cahaya jalan keluar dari masalah yang saya lihat ke depan tidak palsu. Bukan fatamorgana. Saya lelah :)

13 Sep 2013

tidak sempat. atau mungkin tidak mau. mungkin

"Aku cupu deh sekarang, kak. Balik kantor langsung tidur mulu. Udah ga bisa begadang ampe malem lagi..."

"Nggak...kamu ngga cupu kok. Aku paham kok."

"Kamu jangan terlalu mengerti aku kak..."

"Kamu tu cuma sedikit bosen aja. Dan kamu pengen bersandar kepada seseorang. Kangen akan pelukan seseorang. Dimana dia yang bisa memahami kamu ketika kamu lelah. Ketika kamu bersemangat dia akan lebih menyemangati kami. Ketika kamu biasa aja, dia akan membuat hidupmu "life is never flat""

Entah obrolan macam apa yang keluar dari jari-jari sahabat saya ini semalam. Dari sebuah cerita singkat tentang kecupuan saya yang selalu KO setiap pulang kerja, jadi semacam ada pembukaan tentang jati diri saya yang sebenarnya.

Ajaib. Ketika orang lain terasa bisa lebih memahami diri kita, sedangkan kita sendiri merasa tidak terlalu peduli dengan apa yang diri kita butuhkan atau inginkan.Ajaib atau apatis itu namanya?

Saya sendiri pun merasa sering melakukan hal yang demikian. Obrolan ini pernah terjadi sebelumnya dengan seseorang beberapa waktu lalu. Malam itu dia bercerita bahwa dia bertemu dengan seseorang, dan orang itu berkata bahwa teman saya ini perlu memikirkan lebih matang lagi tentang apa yang akan dia lakukan. Malam itu saya bisa dengan lantang berkata

"Lihat kan? Orang lain yang baru kenal kamu beberapa waktu aja paham benar kamu seperti apa. Lalu kamu pikir aku baru kenal kamu kemarin sore karena aku sesekali mengingatkan kamu betapa ceroboh dan tidak fokusnya kamu?"

Lalu sekarang saya berfikir, mungkin saya terlalu sibuk memahami orang lain, sehingga saya bahkan tidak sempat memahami kebutuhan saya sendiri. Mungkin

10 Sep 2013

Ceilah....sholehah

Menarik, ketika semakin besar bahwa ketika menyadari keinginan kita pun ikut berubah. Saya ingat dulu ketika saya kecil dan masih suka dikucir ekor kuda atau kucir dua kesamping oleh Mama, saya sangat suka ketika saya dipuji, "Mbak Lia cantiknya, ayo ikut aja sama Tante. Nanti kalo mau berangkat sekolah Tante kepang dua rambutnya tiap hari, pasti cantik..."

Dulu, dipuji cantik itu serasa jadi penghargaan paling menyenangkan dalam hidup. Tentu saja, karena saya pikir saya dulu adalah bocah kecil kurus tinggi dengan kulit hitam dan tidak pandai merawat diri seperti teman-teman sekolah saya yang begitu pandai merawat diri dan memadumadankan pakaian supaya terlihat stylist.

9 Sep 2013

when you separated by distances

Jadi anak rantau means kembali mengandalkan teknologi dan alat komunikasi non kabel buat bisa stay in tune sama orang-orang dirumah. Week end seperti telah menajdi sebah rutinitas sendiri bagi saya untuk bercakap-cakap ringan dengan orang di rumah.

"Halo Ma, lagi apa? Mama sehat?"

Kalimat itu seringkali jadi kalimat pembuka setiap Minggu pagi saya menelepon Mama. Bangun tidur agak siang, sambil menikmati segelas cappuccino saya biasa menghabiskan berpuluh-puluh menit untuk bertukar cerita dengan Mama. Dari tertawa sampai terharu, dari tetangga sampai ponakan, semua jadi bahan obrolan kami. Papa, adik perempuan, adik laki-lakiku, satu per satu orang dirumah aku sapa walau hanya bertanya : Sehat?

5 Sep 2013

Saya, bapak(teman)kantor dan Papa (dan-dia-yang-saya-tunggu)

Rasanya agak jengah akhir-akhir ini ketika semua orang jadi serasa sering banget ngomogin jodoh sama saya. Rasanya dia seperti sebuah pertanyaan yang dilontarkan saat saya mau pesan seporsi nasi sop di warung makan : pake bawang goreng neng? Atau pertanyaan terakhir ketika sedang di minimarket : mau isi pulsanya sekalian kak?

Apa sih jodoh. Saya bahkan belum ingin memikirkan itu. Ya...setidaknya sejak saya dan rutinitas baru saya menjadi sepasang kekasih seintim saya dengan bb putih saya yang sudah mulai sering lama loadingnya. Bagi saya, jodoh itu....nantilah.

Agak random dengan pertanyaan seorang bapak-bapak teman kantor ( jadi saya bingung mau menyebut beliau sebagai bapak kantor atau teman kantor ) yang saya temui saat makan malam di sebuah warung tenda beberapa hari lalu.

"Jadi, kalau pulang pasti ditanyainnya "Kapan?" ya kan?" tanya si bapak kemudian