Ternyata menikah itu, banyak perkara yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Menikahnya sih ya begitu saja. Berdiri diatas pelaminan selama 2 jam, mengikuti arahan pranotocoro dan fotografer untuk tersenyum sambil melakukan ini itu. Bangun pagi dan lelah dirias serta semangat mempertahankan kepala agar tidak jatuh ke belakang karena berat. Menikahnya ya sebatas itu.
Tapi ada beberapa hal setelah menikah yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya. Tentang bagaimana saya akhirnya sungguh bisa meladeni si suami dengan penuh persembahan layaknya budak. Tentang bagaimana akhirnya bisa melihat jari manis menggunakan cincin kawin. Akhirnya bisa mempunyai keluarga baru dan berada di tengah interaksinya.
Tapi ada satu hal yang saya tidak pernah bayangkan sebelumnya. Tentang bagaimana perkara menstruasi menjadi hal yang penting. Sejak awal menikah semua orang mendoakan saya itu, apalagi kalau bukan supaya cepat dapat momongan. Yang paling lucu karena si suami pun semangat memperlakukan saya seperti layaknya istri yang sedang hamil, suka elus elus perut dan suka takjub pas saya makan banyak padahal emang lagi laper.
Lalu sampai tiba ketika saya bilang, "kayaknya aku dapet deh, soalnya udah agak flek flek gitu..."
Saya bicara dengan bergetar, dengan takut-takut. Lalu dia memeluk sambil bilang, "kok aku sedih ya...". Tiba-tiba mata saya berair. Mata dia pun terlihat berkaca-kaca. Ini, adalah momen paling mengharukan yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya. Lalu tiba-tiba kami menjadi takut. Kami menjadi saling merasa bersalah. Dan kami pun menguatkan satu sama lain, "Besok kita coba lagi yaa. Nanti kita perhatikan lagi tanggal baiknya dan jangan kebanyakan kesibukan acara seperti kemarin." Sambil tersenyum. Memastikan satu sama lain sama-sama baik-baik saja.
Ternyata menikah itu memang mengajarkan banyak hal. Memaksa kita untuk belajar banyak hal. Semoga pembelajaran ini dan itu yang akan kami terima akan semakin menakjubkan. Mudah-mudahan kami bisa tetap kuat dan tawakal dalam menjalankan kapal rumah tangga yang sederhana ini. Bismillah, kapal kami siap melaju.
Tampilkan postingan dengan label Aulia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aulia. Tampilkan semua postingan
24 Okt 2016
28 Sep 2016
Big Thing : Marriage Life
Saya tidak tau benar seperti apa rasanya orang mau menikah. Hari ini adalah 4 hari sebelum saya resmi diakui oleh negara dan umat Islam di seluruh dunia untuk menjadi istri dari calon suami saya. Katanya orang-orang suka panik dan susah tidur kalau mau menikah. Akhir-akhir ini saya malah suka tidur jam setengah 9. Saya bingung mau ngapain kalau dirumah dan tidak boleh kemana-mana sementara jaringan Telkomsel tetep kekeuh di 3G dan tidak mau berubah ke 4G, dan film korea yang saya tonton sedang tidak seberapa menarik. Katanya menikah itu big thing.
Sampai saat ini, untuk saya pernikahan itu masih sekedar sebuah seremoni. Sebuah acara yang...ya dimana banyak saudara dan kerabat hadir untuk menyaksikan saya dipajang diatas pelaminan sambil mereka asyik mengomentari dekor, suhu udara, dan rasa makanan pada acara seremonial kami yang cukup banyak menggelontorkan uang dari kantong. Saya belum tau dimana big thing nya. Bagi saya big thing itu ada di kehidupan setelahnya. Berumah tangga.
Sampai saat ini, untuk saya pernikahan itu masih sekedar sebuah seremoni. Sebuah acara yang...ya dimana banyak saudara dan kerabat hadir untuk menyaksikan saya dipajang diatas pelaminan sambil mereka asyik mengomentari dekor, suhu udara, dan rasa makanan pada acara seremonial kami yang cukup banyak menggelontorkan uang dari kantong. Saya belum tau dimana big thing nya. Bagi saya big thing itu ada di kehidupan setelahnya. Berumah tangga.
13 Apr 2016
Saya Tidak Takut Tidak Punya Uang
Ketimbang tidak punya uang, saya lebih takut tidak punya semangat. Iya, bagi saya, ketika saya tidak memiliki sesuatu yang dinantikan untuk segera datang, itu sama seperti tidak punya semangat. Beberapa kali saya ada di fase itu. Dan saya melewatinya dengan cara yang berbeda-beda. Mungkin ada periode dimana ketika waktu aneh itu datang, saya malah menikmatinya. Menikmati tidak bersemangat. Menikmati menjadi makhluk tidak berguna yang menghabiskan waktu dengan makan, tidur dan bermain game, oh satu lagi, zina mata di online shop.
Ada masa lain dimana saya hanya hidup sebagaimana makhluk lain hidup. Bangun, mandi, bekerja, makan, minum kopi, pulang, tidur, dan seterusnya hingga saya bertemu akhir pekan. Bahkan saya tidak lega saat akhir pekan tiba atau merasa jengah saat Senin datang.
Entah mana yang lebih suram. Tapi bagi saya, tidak memiliki semangat itu mengerikan. Menjijikkan. Seperti hidup menjadi sampah. Saya tidak suka orang tidak berguna, itu mengapa kehilangan semangat terasa cukup mengerikan. Yah, ketika mendapati diri saya melewati satu pekan tanpa makna atau kenangan yang bisa diingat di kemudian hari, atau satu bulan dengan hal yang itu-itu saja dan menjadi suatu rutinitas menjemukan, ya...itu cukup mengerikan.
Dan ya, untuk permasalahan ajaib ini, jujur saja saya masih meraba-raba untuk melewatinya. Ada ketika saya mencoba mencambuk diri untuk melakukan perkerjaan pekerjaan rumah tangga yang tidak butuh otak dan hanya butuh tenaga seperti mencuci dan menyetrika. At least, melihat pakaian terjemur dan terlipat rapi menjadi sebuah pencapaian yang bermakna daripada memasukkannya ke toko laundry dan mengurangi jatah saya minum kopi.
Atau pernah juga saya mencoba untuk marathon film drama Korea dari pagi hingga gelap, demi saya tidak menyentuh ponsel untuk main game. Saya pikir, setidaknya saya tau beberapa kosa kata baru setiap kali saya nonton bahasa baru, seperti "Oppa" dan "Ahjumma". Haha...ya ya ya....saya tau, kata-kata tidak keren. Bahkan itu sudah melekat kencang di isi kepala gadis-gadis SMP jaman sekarang yang sangat tergila gila dengan Gu Jun Pyo atau joget bareng suju.
Suatu kali saya juga memaksa diri menjadi sedikit lebih berguna dengan baca-bca Al Qur'an dan terjemahannya walau hanya bertahan selama 30 menit dan berakhir dengan ngantuk atau scrolling timeline IG hingga habis kuota. Atau mungkin ya menurut saya paling bagus adalah saya pergi ke Gramedia, membeli beberapa buku, dan kembali ke kasur dengan tidak membacanya karena sudah terlalu lelah di sepanjang jalan.
Ya, begitulah hidup di Jakarta. Ketika semua orang disini sibuk ingin memperpanjang 24 jam nya untuk melakukan hal yang lain, saya memilih menikmati 24 jam yang saya punya dengan tidur dan tidka ambil pusing tentang hal-hal yang akhirnya tidak bisa saya lakukan, seperti datang ke kondangan ini dan itu, atau hadir di peluncuran buku penulis favorit saya, Aan Mansyur. Maaf ya mas Aan, gara-gara ngga jadi dateng ke peluncuran buku nya, sampai sekarang saya bahkan belum beli novel fabel O yang tersohor itu.
Oh life!
12 Nov 2015
Bonus destination : Raja Ampat
![]() |
| Photo taken here |
Ada beberapa episode perjalanan dalam hidup saya yang menurut saya, mungkin pada akhirnya akan sulit saya lupakan. Baru-baru ini saya pergi ke suatu tempat. Tempat yang tahun ini belum ada dalam list perjalanan mana saja yang sangat ingin saya datangi. Saya memang bukan pejalan, tapi saya punya sejumlah daftar kota yang ingin saya kunjungi. Dan taun ini saya dapat bonus satu tempat indah untuk saya kunjungi. RAJA AMPAT.
It was unplaned at first. Setidaknya sampai tengah taun, saya tidak menempatkan Raja Ampat dalam list perjalanan saya. Sampai akhirnya, biro konsultan perjalanan yang sedang dirilis oleh pacar saya merelease perjalanan pertamanya ke Raja Ampat. He's inivited me to join. On my birthday. SHOULD I REFUSED??
Hahaha....dan disanalah kami pada tanggal 7 Oktober. Bandar Udara kota Sorong. Rasanya sungguh ajaib, berada di lokasi yang memiliki perbedaan waktu 2 jam dengan Jakarta, lebih awal. Menakjubkan akhirnya saya menjadi kaum minoritas, dandanan saya yang sangat tidak mencolok jika ada di Jakarta, mendadak terasa terlalu nyeleb saat berada disana. Kulit yang tampak terlalu coklat saat foto selfie dengan teman-teman di Jakarta, mendadak jadi yang paling bersih saat ada di tanah Papua. Papua, auramu sungguh menakjubkan.
Saya pernah melakukan perjalanan kesana dan kesini. Sampai akhirnya saya berada di sana, dan saya menangis di atas gugusan pulau-pulau cantik di Wajag. Itu dia, foto-foto yang selama ini seringkali nangkring di timeline Instagram saya. Itu dia, satu-satunya most wanted but really expensive to be reached destination in Indonesia. Dan seriously, bahkan saat saya berada di sana pun seolah saya sedang memandang karpet foto ukuran raksasa yang sedang dibentangkan di kaki saya. Mereka, sungguh luar biasa cantik. Mereka sungguh....tak terkatakan.
![]() |
| Dimas dan Zulfa di puncak Wajag |
Seperti kutipan yang saya letakkan pada muka paragraf awal tulisan ini, saya memang tidak pernah kemana-mana, tapi saya meletakkan mereka dalam daftar perjalanan saya. Lihat saja apa yang saya pernah tulis di awal taun. Sampai sekarang, bahkan semua tempat itu tetap belum berhasil saya datangi. Ah, satu. SAYA TRANSIT DI MAKASSAR SAAT PERJALANAN PULANG KE JAKARTA!!
Dan kedua tempat itu, menjadi pencapaian terbesar dalam hidup saya. Kalian akan sangat memahami itu kalau kalian adalah pembaca setia blog ini dari dulu. Entah berapa kali saya menyebut nama kota Makassar. Makassar. Makassar. Saya masih tidak akan sampai kesana tanpa si pacar yang sungguh luar biasa. Terima kasih mungkin tak akan cukup, maka saya mencoba untuk mengabadikan kenangan kami disini.
Rasanya seru, ketika saya datang lagi ke daerah yang memiliki kebudayaan yang nyaris tidak sama dengan tempat dimana saya tinggal sekarang. Ibukota, Papua, Makassar, apa coba yang bisa disamakan. Indonesia memang kaya.
4 Agu 2015
The Ibu Ibu Pejabat
Saya mau cerita, sudah lama sekali rasanya pengen curhat tapi bingung mau curhat dimana.
Ceritanya pengen ngobrolin temen-temen main saya yang isinya anak-anak perlente yang dengan bangganya menyebut geng kami Ibu-Ibu Pejabat. Owalah...lha wong saya aja mau pulang Semarang aja masih cari tiket kereta ekonomi yang 90ribu kok dimasukin ke dalam geng Ibu Pejabat. Entah untung atau rada ngga mujur aja, karena lokasi saya yang dekat dengan tempat duduk mereka, jadilah saya masuk ke geng rusuh nan selalu tampak (pura-pura) bahagia itu. Saya aja capek pura-pura bahagia kalo main sama mereka. Hahaha
Ceritanya pengen ngobrolin temen-temen main saya yang isinya anak-anak perlente yang dengan bangganya menyebut geng kami Ibu-Ibu Pejabat. Owalah...lha wong saya aja mau pulang Semarang aja masih cari tiket kereta ekonomi yang 90ribu kok dimasukin ke dalam geng Ibu Pejabat. Entah untung atau rada ngga mujur aja, karena lokasi saya yang dekat dengan tempat duduk mereka, jadilah saya masuk ke geng rusuh nan selalu tampak (pura-pura) bahagia itu. Saya aja capek pura-pura bahagia kalo main sama mereka. Hahaha
Lucu. Kami sering sekali eksis di Path. 4 kali hari Jumat dalam sebulan, sekali makan minimal 100ribu. Belum kalo arisan. Belum kalo ulang tahun. Belum kalo ada yang kawinan ato lahiran. Belum kalo lagi nyinyirin salah satu anggota geng yang lagi absurd tingkahnya, rasanya kaya saya jadi member geng yang paling ngga loyal. Halah..
Saya juga salah satunya. Lha gimana wong kadang kesel. Sebagian dari mereka adalah anak Jakarta yang mana mereka ngga harus punya budget buat ngekos atau pulang kampung tiap bulan. Maklum, walau kerja di Jakarta saya ini masih buruh yang kalo beli hand body aja masih cari yang paling murah tapi dengan isi paling banyak. Lebih seneng kalo ada extra 20% nya. Oke fokus. Trus, saya ini anak kosan yang Alhamdulillah masih dapet kosan harga 500ribu walau kamar mandinya di luar, masih punya cicilan ini itu waktu pengen beliin Ibuk mesin cuci atau kulkas, masih harus punya pacaran yang budget ngopinya lebih mahal daripada makan saya sehari, plus masih punya 4 weekend yang kadang jadi makin mahal kalo jalannya sama temen-temen ngga pake pacar karena kudu bayar sendiri-sendiri.
Owalah....gini tho rasanya jadi business woman di Jakarta. Ongkos sosialisasinya lebih tinggi daripada ongkos laundry. Tiba-tiba kejumawaan saya sebagai salah satu penghuni Ibukota mulai luntur. Apalagi menjadi bagian dari Ibu-Ibu Pejabat dan punya pacar yang juga anak (mantan) pejabat kadang suka bikin saya pegel-pegel kalo setiap tengah bulan udah mulai rajin nyuci dan nyetrika sendiri, ngga lagi laundry kaya setiap akhir bulan abis gajian. Atau yang biasanya yang kalo hari Sabtu bisa 3x pindah tempat ngopi jadi cuma duduk dikosan sambil minum Good Day Cappuccino. Mudah-mudahan saya diparingi kuat dan sehat buat nyuci nyetrika terus tiap bulan.
Saya juga salah satunya. Lha gimana wong kadang kesel. Sebagian dari mereka adalah anak Jakarta yang mana mereka ngga harus punya budget buat ngekos atau pulang kampung tiap bulan. Maklum, walau kerja di Jakarta saya ini masih buruh yang kalo beli hand body aja masih cari yang paling murah tapi dengan isi paling banyak. Lebih seneng kalo ada extra 20% nya. Oke fokus. Trus, saya ini anak kosan yang Alhamdulillah masih dapet kosan harga 500ribu walau kamar mandinya di luar, masih punya cicilan ini itu waktu pengen beliin Ibuk mesin cuci atau kulkas, masih harus punya pacaran yang budget ngopinya lebih mahal daripada makan saya sehari, plus masih punya 4 weekend yang kadang jadi makin mahal kalo jalannya sama temen-temen ngga pake pacar karena kudu bayar sendiri-sendiri.
Owalah....gini tho rasanya jadi business woman di Jakarta. Ongkos sosialisasinya lebih tinggi daripada ongkos laundry. Tiba-tiba kejumawaan saya sebagai salah satu penghuni Ibukota mulai luntur. Apalagi menjadi bagian dari Ibu-Ibu Pejabat dan punya pacar yang juga anak (mantan) pejabat kadang suka bikin saya pegel-pegel kalo setiap tengah bulan udah mulai rajin nyuci dan nyetrika sendiri, ngga lagi laundry kaya setiap akhir bulan abis gajian. Atau yang biasanya yang kalo hari Sabtu bisa 3x pindah tempat ngopi jadi cuma duduk dikosan sambil minum Good Day Cappuccino. Mudah-mudahan saya diparingi kuat dan sehat buat nyuci nyetrika terus tiap bulan.
6 Jun 2015
Tujuh Tahun.
Siapa sangka ternyata blog ini sudah berumur 7 tahun. Tidak pasif barang satu tahun pun. Todak pernah saya lupa paswordnya walaupun berbulan-bulan tidak diisi apa-apa. Siapa sangka blog berumur 7 tahun ini dulu dimulai dari kesukaan menulis diary. Lama kelamaan karena laci lemari dirasa sudah kepenuhan menampung aneka rupa diary saya, saya putuskan sepertinya harus didigitalkan saja.
Jaman dulu internet tidak seperti sekarang. Hp ada kamera saja sudah bagus, mana punya saya yang bisa buat mengakses friendster atau facebook. Jaman dulu kalau mau online saya harus menabung satu hari untuk beli pulsa lima ribu untuk mengisi pulsa di HP cdma kaka saya yang bisa dipergunakan sebagai modem kalau dia berbaik hati. Dengan catatan, ya saya yang mengisi pulsa.
Dulu saya tak pernah dengan lega mengotak atik template blog ini. Tidak juga ada teman-teman yang saya kunjungi catatan hariannya selain penulis-penulis yang memang sudah bersahabat dengan internet dari jaman dahulu kala. Teman-teman saya dulu penulis-penulis cantik macam Dee Lestari atau Alanda Karisha. Lainnya saya hanya sambil iseng saja jadi penjelajah blog. Pada dasarnya saya memang suka menjelajah, dan berubah menjadi traveling saat saya sebesar sekarang.
Lalu saya menulis di One Note. Setidaknya saya tidak perlu online untuk menulis. Sampai akhirnya ternyata perangkat komputer di rumah saya tidak mau dinyalakan. Kena virus, kata kakak saya. Saya saja tak tau apa wujud dari virus. Yang saya tau virus itu mengeluarkan bunyi yang sangat berisik jika dia terdeteksi sedang asyik menggerogoti perangkat komputer saya. Dan file selama - selama berbulan-bulan itu hilang. Saya tidak tau lagi apa cerita saya saat itu. Mudah-mudahan memang tidak ada yang penting jadi tidak apa - apa kalau dilupakan.
Sampai akhirnya saya punya cukup uang untuk main ke warnet setiap minggu sekali atau dua. Lalu saya punya uang untuk beli modem atau perangkat handphone sendiri yang bisa disambungkan ke komputer kesayangan saya sendiri, saya mulai menulis. Lagi. Lagi. Lagi. Tentang hati.
Sampai saya mencoba belajar, menulis lagi. Lagi. Lagi. Sampai statistik saya melejit. Lagi. Lagi. Lagi. Saya menulis karena candu. Candu dikunjungi banyak orang. Saya candu kepopularitasan. Ternyata menjadi populer memang menyenangkan.
Sampai saya akhirnya sibuk sendiri. Tak ada lagi isi kepala yang ingin dituang. Semua sudah dituangkan kepada kekasih hati. Atau sahabat satu atap yang ditemui saat mata terbuka dan sebelum terpejam kembali. Blog ini kembali hilang. Lagi. Lagi. Lagi. Saya mengabaikan blog ini.
Selamat tujuh tahun blog kesayangan saya. Terima kasih tidak pernah marah atas silih bergantinya objek cerita yang saya tulis. Terima kasih tidak membuat saya melupakan kata kunci untuk masuk.
Jaman dulu internet tidak seperti sekarang. Hp ada kamera saja sudah bagus, mana punya saya yang bisa buat mengakses friendster atau facebook. Jaman dulu kalau mau online saya harus menabung satu hari untuk beli pulsa lima ribu untuk mengisi pulsa di HP cdma kaka saya yang bisa dipergunakan sebagai modem kalau dia berbaik hati. Dengan catatan, ya saya yang mengisi pulsa.
Dulu saya tak pernah dengan lega mengotak atik template blog ini. Tidak juga ada teman-teman yang saya kunjungi catatan hariannya selain penulis-penulis yang memang sudah bersahabat dengan internet dari jaman dahulu kala. Teman-teman saya dulu penulis-penulis cantik macam Dee Lestari atau Alanda Karisha. Lainnya saya hanya sambil iseng saja jadi penjelajah blog. Pada dasarnya saya memang suka menjelajah, dan berubah menjadi traveling saat saya sebesar sekarang.
Lalu saya menulis di One Note. Setidaknya saya tidak perlu online untuk menulis. Sampai akhirnya ternyata perangkat komputer di rumah saya tidak mau dinyalakan. Kena virus, kata kakak saya. Saya saja tak tau apa wujud dari virus. Yang saya tau virus itu mengeluarkan bunyi yang sangat berisik jika dia terdeteksi sedang asyik menggerogoti perangkat komputer saya. Dan file selama - selama berbulan-bulan itu hilang. Saya tidak tau lagi apa cerita saya saat itu. Mudah-mudahan memang tidak ada yang penting jadi tidak apa - apa kalau dilupakan.
Sampai akhirnya saya punya cukup uang untuk main ke warnet setiap minggu sekali atau dua. Lalu saya punya uang untuk beli modem atau perangkat handphone sendiri yang bisa disambungkan ke komputer kesayangan saya sendiri, saya mulai menulis. Lagi. Lagi. Lagi. Tentang hati.
Sampai saya mencoba belajar, menulis lagi. Lagi. Lagi. Sampai statistik saya melejit. Lagi. Lagi. Lagi. Saya menulis karena candu. Candu dikunjungi banyak orang. Saya candu kepopularitasan. Ternyata menjadi populer memang menyenangkan.
Sampai saya akhirnya sibuk sendiri. Tak ada lagi isi kepala yang ingin dituang. Semua sudah dituangkan kepada kekasih hati. Atau sahabat satu atap yang ditemui saat mata terbuka dan sebelum terpejam kembali. Blog ini kembali hilang. Lagi. Lagi. Lagi. Saya mengabaikan blog ini.
Selamat tujuh tahun blog kesayangan saya. Terima kasih tidak pernah marah atas silih bergantinya objek cerita yang saya tulis. Terima kasih tidak membuat saya melupakan kata kunci untuk masuk.
2 Jun 2015
That's how you live. Just happy!!
Saya percaya bahagia itu kita yang ciptakan. No matter what they say, we made our happiness itself.
Tapi individu mana yang bisa lepas dari opini publik. Terlebih jika selama ini jika dia dikenal sebagai salah satu figur yang menjadi panutan bagi individu lainnya. Avoiding and ignoring will the hardest thing to do. Apalagi jika opini publik tersebut keluar untuk cerita kehidupan pribadinya.
Satu percakapan menarik keluar saat saya dan teman saya mengemukakan satu berita mencengangkan,
"Pak Bos ini katanya mau nikah lho, sama abg."
Ah, saya sih bisa bilang bodo amat kalau si Pak Bos yang dia bilang adalah figur lebih terkenal lainnya yang tidak saya kenal, dan bukannya Pak Bos yang saya kenal dan well.....i dore him a lot.
"Seriously?? he just got divorced last year, right?"
Oke. dan saya pun mengeluarkan opini publik lainnya. Dan percakapan kami selanjutnya terdengar seperti obrolan sampah antara ibu-ibu komplek yang sedang belanja sayur di depan pos ronda RT.
Tapi apalah arti percakapan saya dan teman saya itu. Bahagia itu toh mereka yang menciptakan. Walaupun konon katanya berita semacam itu sudah beredar di seantero gedung tempat kami bekerja. But who cares, if they're single and they feel fit to each other. Even it doesn't look the same in our eyes. Sorry, i mean in our mind.
Atau seperti bagaimana ketika di lain kesempatan saya dan teman saya yang lain memberi cerita,
"Dia mau married. Pemberkatannya kayaknya di gereja deket kawasan A"
Dan bertimpal dengan jawaban saya, "Sayang banget. Dia beneran murtad??"
Hahaha....who cares with what i thought, eh?
Ini negara yang merdeka dan kelewat demokratis. Ah, walaupun perintah agama tidak ada korelasinya dengan kedemokratisan suatu negara. Tapi lagi-lagi siapa yang peduli dengan seorang muslim yang tiba-tiba makan babi karena dia begitu ingin menikahi sang pujaan hati. Bahkan kedua orang tuanya pun mungkin tidak akan banyak bicara.
Opini publik sendiri merupakan sebagian kecil bagian dari kehidupan yang harus ditaklukkan untuk menciptakan kebahagiaan itu sendiri. Orang jarang berpikir, bahwa sebenarnya Pak Bos duda itu lebih susah untuk bangkit dari keterpurukannya saat bercerai ketimbang saat mendengarkan setiap orang membicarakan tentang dirinya yang memiliki intimate relationship with a pretty young lady in our office. Atau bagaimana teman muslim saya yang akhirnya makan babi, lebih sulit untuk mengumpulkan keberanian berbicara kepada orang tuanya tentang keinginan biologisnya untuk menikahi seorang gadis yang kebetulan saja berbeda Tuhan dengan keluarganya. And anyone cares about that?? Yep, it's no one.
Jadi semua opini publik itu akhirnya hanya akan berakhir sebagai obrolan sampah yang hilang ketika mereka menghabiskan tetes terakhir di cangkir ice tea mereka saat percakapan itu terjadi. Atau akan tertinggal di meja kayu saat mereka meninggalkan tempat ngopi saat mereka sibuk membicarakan orang lain. Begitulah opini publik akhirnya akan hilang. Dan mereka yang dibicarakan toh akhirnya akan tetap bahagia. Bangkit dari keterpurukannya, tanpa terngiang-ngiang suara sumbang publik-publik idiot seperti saya.
Sebenarnya begitu pula yang akan saya lakukan. Yah, bahagia saja.
Tapi individu mana yang bisa lepas dari opini publik. Terlebih jika selama ini jika dia dikenal sebagai salah satu figur yang menjadi panutan bagi individu lainnya. Avoiding and ignoring will the hardest thing to do. Apalagi jika opini publik tersebut keluar untuk cerita kehidupan pribadinya.
Satu percakapan menarik keluar saat saya dan teman saya mengemukakan satu berita mencengangkan,
"Pak Bos ini katanya mau nikah lho, sama abg."
Ah, saya sih bisa bilang bodo amat kalau si Pak Bos yang dia bilang adalah figur lebih terkenal lainnya yang tidak saya kenal, dan bukannya Pak Bos yang saya kenal dan well.....i dore him a lot.
"Seriously?? he just got divorced last year, right?"
Oke. dan saya pun mengeluarkan opini publik lainnya. Dan percakapan kami selanjutnya terdengar seperti obrolan sampah antara ibu-ibu komplek yang sedang belanja sayur di depan pos ronda RT.
Tapi apalah arti percakapan saya dan teman saya itu. Bahagia itu toh mereka yang menciptakan. Walaupun konon katanya berita semacam itu sudah beredar di seantero gedung tempat kami bekerja. But who cares, if they're single and they feel fit to each other. Even it doesn't look the same in our eyes. Sorry, i mean in our mind.
Atau seperti bagaimana ketika di lain kesempatan saya dan teman saya yang lain memberi cerita,
"Dia mau married. Pemberkatannya kayaknya di gereja deket kawasan A"
Dan bertimpal dengan jawaban saya, "Sayang banget. Dia beneran murtad??"
Hahaha....who cares with what i thought, eh?
Ini negara yang merdeka dan kelewat demokratis. Ah, walaupun perintah agama tidak ada korelasinya dengan kedemokratisan suatu negara. Tapi lagi-lagi siapa yang peduli dengan seorang muslim yang tiba-tiba makan babi karena dia begitu ingin menikahi sang pujaan hati. Bahkan kedua orang tuanya pun mungkin tidak akan banyak bicara.
Opini publik sendiri merupakan sebagian kecil bagian dari kehidupan yang harus ditaklukkan untuk menciptakan kebahagiaan itu sendiri. Orang jarang berpikir, bahwa sebenarnya Pak Bos duda itu lebih susah untuk bangkit dari keterpurukannya saat bercerai ketimbang saat mendengarkan setiap orang membicarakan tentang dirinya yang memiliki intimate relationship with a pretty young lady in our office. Atau bagaimana teman muslim saya yang akhirnya makan babi, lebih sulit untuk mengumpulkan keberanian berbicara kepada orang tuanya tentang keinginan biologisnya untuk menikahi seorang gadis yang kebetulan saja berbeda Tuhan dengan keluarganya. And anyone cares about that?? Yep, it's no one.
Jadi semua opini publik itu akhirnya hanya akan berakhir sebagai obrolan sampah yang hilang ketika mereka menghabiskan tetes terakhir di cangkir ice tea mereka saat percakapan itu terjadi. Atau akan tertinggal di meja kayu saat mereka meninggalkan tempat ngopi saat mereka sibuk membicarakan orang lain. Begitulah opini publik akhirnya akan hilang. Dan mereka yang dibicarakan toh akhirnya akan tetap bahagia. Bangkit dari keterpurukannya, tanpa terngiang-ngiang suara sumbang publik-publik idiot seperti saya.
Sebenarnya begitu pula yang akan saya lakukan. Yah, bahagia saja.
10 Mar 2015
Start to.....listen
Saya menyadari bahwa kemampuan saya yang rendah untuk bergaul dan berbaur ini sebentar lagi akan kalah dengan perkembangan jaman yang menuntut kita untuk hidup serba terkoneksi satu dengan yang lain. Saya menyadari bahwa bekerja juga seharusnya bukan hanya menjadi satu-satunya hal yang rutin saya lakukan setiap hari sejak Subuh hingga Isya. Ada banyak hal yang harus saya lakukan dan usahakan jika saya tidak mau terjebak atau tertinggal dengan semua yang serba maju dan pesat.
Saya mencoba untuk berkembang walaupun pelan. Semua buku yang sebelumnya hanya duduk manis di dalam rak dan masih tersegel, mulai saya buka satu per satu. Semua film yang hanya ngandang di laptop saya putar untuk menghabiskan malam. Linimasa twitter yang biasanya hanya untuk sekedar "terlihat beraktifitas" mulai saya geser pelan-pelan. Saya yang biasanya antipati untuk berbaur dengan teman-teman doi mulai untuk sering ikut kumpul walau untuk sekedar menikmati sepiring nasi goreng. Bukankah hidup itu lebih luas dari pintu kamar bukan?
Selamat datang ke era serba cepat. Internet.
Selamat datang di kota serba masabodoh. Jakarta.
![]() |
| Taken from here |
Saya yang dulu banyak bercerita juga mulai banyak mendengar. Sederhana saja dulu, saya mulai dari mendengarkan cerita dari dia yang tercinta. Saya yang biasanya sudah absen dari A sampai Z mencoba untuk memancing dia mengeja dengan bertanya : cerita dong, gantian. Aku ngantuk nih...
Lalu dia memulai ceritanya. Tentang apa yang selama ini menjadi isi dalam kepalanya. Tentang apa yang selama ini membuat dia gamang untuk jalan lewat Barat atau Timur untuk mencapai garis finish. Saya mendengarkan, kata per kata yang keluar dari bibirnya yang mulai kembali berwarna sehat sejak dia berhenti merokok satu bulan yang lalu. Ternyata banyak sebenarnya yang menjadi isi di kepalanya saat saya pikir dia baik-baik saja dan mampu menjalani kehidupannya dengan damai.
Lalu kembali saya mencoba mendengar cerita dari seorang sahabat laki-laki saya. Tentang kehidupan cintanya dengan sahabat saya yang lain. Ah...lucu karena kehidupan itu sudah lama mati. Mereka hanya sedang terjebak dalam indahnya nostalgia dengan mantan. Tapi memang, siapa sih yang bisa membaca isi kepala seseorang. Lagi-lagi saya harus sering menutup mulut dan mulai banyak mendengar agar saya bisa membaca tanpa membuka buku, atau menonton tanpa pergi ke bioskop.
Ternyata belajar semudah itu. Bergaul juga sesederhana itu. Mulai rendahkan diri supaya semakin cepat menjadi tinggi dan naik derajat. Yah begitu...saya bosan ada disini-sini saja. Kalau orang lain tidak bisa membantu saya naik derajat, maka saya yang harus membantu diri saya sendiri.
Lalu kembali saya mencoba mendengar cerita dari seorang sahabat laki-laki saya. Tentang kehidupan cintanya dengan sahabat saya yang lain. Ah...lucu karena kehidupan itu sudah lama mati. Mereka hanya sedang terjebak dalam indahnya nostalgia dengan mantan. Tapi memang, siapa sih yang bisa membaca isi kepala seseorang. Lagi-lagi saya harus sering menutup mulut dan mulai banyak mendengar agar saya bisa membaca tanpa membuka buku, atau menonton tanpa pergi ke bioskop.
Ternyata belajar semudah itu. Bergaul juga sesederhana itu. Mulai rendahkan diri supaya semakin cepat menjadi tinggi dan naik derajat. Yah begitu...saya bosan ada disini-sini saja. Kalau orang lain tidak bisa membantu saya naik derajat, maka saya yang harus membantu diri saya sendiri.
13 Feb 2015
Sincerely, Different Lover
Kita memang tidak bisa mengelak, bahwa berbeda memanglah berbada. Seberapapun usaha kita untuk membuatnya sama. Yang terbaik yang bisa saya lakukan adalah bagaimana saya tidak membuat jurang berbeda itu menjadi semakin besar. Yang terbaik adalah bagaimana saya bisa membuat berbeda itu menjadi satu kerikil kecil walau sebenarnya dia adalah ombak yang besar. Yang ingin saya lakukan adalah tidak merengek karena kalahnya saya terhadap satu kondisi ketidaksamaan. Seperti bagaimana dulu saya selalu merengek karena satu kondisi keterpisahan karena jarak.
Sincerely,
Different lover
Sincerely,
Different lover
Label:
Aulia
17 Des 2014
R A H A S I A
Bahkan diantar suami dan istri pasti ada sesuatu yang tidak dikatakan. Kita sering mengenalnya dengan konsep bernama Rahasia. Hal ini dilakukan sebagai satu bentuk pengamanan kepada diri sendiri, baik dengan cara yang baik atau tak baik. Beda tujuan, beda pula pengaruhnya.
Saya pernah bertanya kepada teman saya: Apakah kamu menceritakan semua hal kepada pasangan kamu?
"Tentu saja tidak. Ada beberapa hal yang tidak saya ceritakan. Biasanya karena hal-hal itu adalah bukan hal yang dia senangi. Sekalipun itu adalah masalah untuk saya dan ingin saya bagi dengannya. Tentang pekerjaan misalnya," jawab teman saya.
Beberapa orang, termasuk saya, seringkali tidak terlalu suka ambil pusing untuk mengetahui rahasia satu atau dua orang di sekitarnya. Hal-hal seperti itu terkadang membuat kita menjadi terbebani untuk menjaga suatu "rahasia" itu menjadi sebuah cerita yang bisa menjadi konsumsi publik.
Saya pernah bertanya kepada teman saya: Apakah kamu menceritakan semua hal kepada pasangan kamu?
"Tentu saja tidak. Ada beberapa hal yang tidak saya ceritakan. Biasanya karena hal-hal itu adalah bukan hal yang dia senangi. Sekalipun itu adalah masalah untuk saya dan ingin saya bagi dengannya. Tentang pekerjaan misalnya," jawab teman saya.
Beberapa orang, termasuk saya, seringkali tidak terlalu suka ambil pusing untuk mengetahui rahasia satu atau dua orang di sekitarnya. Hal-hal seperti itu terkadang membuat kita menjadi terbebani untuk menjaga suatu "rahasia" itu menjadi sebuah cerita yang bisa menjadi konsumsi publik.
2 Des 2014
Ditemani Sore - Essensimo
Ada yang bilang, mengulang-ngulang doa itu seperti mengayuh sepeda, jika sering diulang-ulang pasti akan membawa kita ke tempat tujuan. Saya percaya, bahwa Dia mendengarkan setiap doa yang kita katakan atau setiap percakapan yang sering kita aminkan. Dengan begitu bukan hanya saya yang mengayuh sepeda. Ada satu kursi available yang diduduki oleh seseorang yang membantu saya untuk mengayuh sepeda. Semoga kursi itu tak lagi kosong.
Ditemani Sore - Essensimo
Ditemani Sore - Essensimo
12 Nov 2014
cerita kopi dan mereka
Saya menemukan banyak cerita saat waktu kopi bersama tiba. Kopi selalu berhasil membawa magis tersendiri ketika cerita-cerita sedih dan penuh emosional itu tidak terpancing oleh segelas teh manis panas atau bahkan susu jahe. Saya suka ketika kopi berhasil menyuguhkan kalimat-kalimat sakral penuh makna "jangan diungkap". Saya suka selalu berhasil menjadi kipas bergosip atau pengakuan dosa paling mujarab.
Seperti saat saya dan dua orang teman saya yang sedang berjalan menghabiskan waktu akhir pekan menuju salah satu tempat favorit wisatawan Jakarta di ujung utara ibukota. Semua galau berhasil tersimpan rapat sepanjang perjalan dan waktu cemil sore. Hingga saya dibius dengan segelas kopi putih panas yang membuat saya begitu rileks untuk menceritakan semua gundah layaknya dongeng pengantar tidur. Penuh penghayatan namun tanpa rasa emosional sama sekali.
Atau seperti saat saya dan sahabat laki-laki saya duduk di salah satu kedai kopi kota Semarang untuk saling bertukar kabar atau sekedar berdiskusi masalah pekerjaan dan tugas akhir. Cerita -cerita tentang hati mendadak terselip diantara tawa kami ketika satu atau dua teguk kopi hitam berhasil menyusup dalam aliran darah lewat kerongkongan.
What's said in front of coffee, stays in front of coffee. Yeah....whatever.
Seperti saat saya dan dua orang teman saya yang sedang berjalan menghabiskan waktu akhir pekan menuju salah satu tempat favorit wisatawan Jakarta di ujung utara ibukota. Semua galau berhasil tersimpan rapat sepanjang perjalan dan waktu cemil sore. Hingga saya dibius dengan segelas kopi putih panas yang membuat saya begitu rileks untuk menceritakan semua gundah layaknya dongeng pengantar tidur. Penuh penghayatan namun tanpa rasa emosional sama sekali.
Atau seperti saat saya dan sahabat laki-laki saya duduk di salah satu kedai kopi kota Semarang untuk saling bertukar kabar atau sekedar berdiskusi masalah pekerjaan dan tugas akhir. Cerita -cerita tentang hati mendadak terselip diantara tawa kami ketika satu atau dua teguk kopi hitam berhasil menyusup dalam aliran darah lewat kerongkongan.
What's said in front of coffee, stays in front of coffee. Yeah....whatever.
6 Nov 2014
Kenangan is a thing.

Things change.
Saya suka menggunakan dua kata diatas untuk memulai sebuah cerita. Things change. Satu hal yang mutlak dan pasti akan dialami bahkan oleh sebuah batu sekalipun.
Saya sedang tidak membicarakan sebuah batu. Saya sedang membicarakan sesuatu yang lebih abadi. Kenangan.
20 Okt 2014
Selamat Berjuang, Pak!
Selamat Pagi!
Hari ini Indonesia akan punya pemimpin baru. Tempat dimana semua harapan untuk semakin sejahteranya kehidupan ditumpukan kepadanya. Sosok yang diharapkan mampu menjunjung keadilan dan mengurangi kemiskinan hati yang semakin memperkaya orang-orang serakah yang masih bahagia di kursi-kursi pemerintahan KIB 2 yang lalu. Sosok yang dielu-elukan dengan kesederhanaan dan kefanatikan terhadap musik rock ini semoga tak mlempem saat menjadi RI 1 seperti lagu-lagu keroncong musik dari tanah kelahirannya yang sudah mulai hilang tertelan lagu-lagu Top 40 yang diputar 7 kali dalam satu hari di satu stasiun radio. Semoga mulai hari ini Indonesia akan memulai hari baru nya seperti kalimat pertama dalam tulisan singkat ini. Selamat berjuang Pak Jokowi - JK.
Hari ini Indonesia akan punya pemimpin baru. Tempat dimana semua harapan untuk semakin sejahteranya kehidupan ditumpukan kepadanya. Sosok yang diharapkan mampu menjunjung keadilan dan mengurangi kemiskinan hati yang semakin memperkaya orang-orang serakah yang masih bahagia di kursi-kursi pemerintahan KIB 2 yang lalu. Sosok yang dielu-elukan dengan kesederhanaan dan kefanatikan terhadap musik rock ini semoga tak mlempem saat menjadi RI 1 seperti lagu-lagu keroncong musik dari tanah kelahirannya yang sudah mulai hilang tertelan lagu-lagu Top 40 yang diputar 7 kali dalam satu hari di satu stasiun radio. Semoga mulai hari ini Indonesia akan memulai hari baru nya seperti kalimat pertama dalam tulisan singkat ini. Selamat berjuang Pak Jokowi - JK.
1 Okt 2014
when i'm on high
Semakin tinggi kamu berada, semakin kencang angin yang menerpa
Proven!!
Either on high or "high"
Tidak ada naik kelas yang mudah. Well setidaknya ini sudah saya rasakan sejak saya menggunakan seragam setiap hari saat duduk di bangku sekolah. Menjadi tinggi itu sulit. Bahkan berada di ketinggian saja sulit. Ada harga dan kerja keras yang harus dikeluarkan untuk menggapainya.
Namun semua akhirnya akan dibayar sepadan. Suka atau tak suka, Sadar atau tidak, ada pemandangan indah diatas sana. Yang bisa dilihat. Yang bisa dirasa. Hingga kamu mau tak mau akhirnya tau, bahwa kamu telah menaiki banyak anak tangga.
30 Agu 2014
Dulu, saya selalu merasa kecil ketika saya berdiri dan memandang garis batas cakrawal di ujung pandang. Berada di pinggiran jutaan kibik air membuat saya terkadang merasa kecil. Merasa kecil karena saya tak pernah berani untuk menari bebas di permukaan atau di dalamnya. Namun rasa kecil itu sempat akhirnya menghilang, ketika saya menemukan sejumput keberanian untuk menenggelamkan diri bersama milyaran partikel-partikel di dalam lautan. Saya merasa, saya ternyata tidak begitu kecil. Saya bisa berteman dengan mereka.
23 Jul 2014
Kullu kalam addu'a
Saya percaya bahwa semua ucapan bisa menjadi doa. Itu mengapa saya begitu rajin berucap Amin setiap menemukan semua "doa-doa cantik tersembunyi" yang keluar dari bibir-bibir lawan bicara saya.
Seperti pagi ini ketika saya sedang berangkat mengantar doi ke bandara. Kebetulan saya bantu packing dulu pagi ini, jadi kami berangkat dari rumahnya naik taksi.
Agak lucu karena sepanjang perjalanan, si bapak taksi terus berkata keheranan:
"Kok bapaknya duluan sih Bu? Jadi ibu belakangan mudiknya? Emang ngga barengan bu cutinya?"
Dengan lumrah saya menjawab:
"Iya pak. Saya baru libur hari Jumat. Lagian kalo pulang hari Jumat semua, mahal tiketnya..."
Padahal kami memang pulang sendiri-sendiri. Doi ke rumahnya, saya kerumah saya. Di hari yang berbeda dengan tujuan yang berbeda. Bukan karena asas ekonomi penghematan biaya, tapi karena memang kami belum mengeluarkan uang dari satu rekening untuk satu tujuan yang sama.
Dalam hati saya merengut. Saya tidak sedang berbohong kan? Tentu saja karena jawaban saya memang tidak mengada-ada. Dan dia pun tidak bertanya dia siapa saya dan saya siapa dia. Hanya karena kami mulai jalan dari satu tempat yang sama, bukan berarti kami adalah pemilik dari tempat itu.
Dalam hati pula saya berteriak Amin keras-keras. Iya, saya berharap bisa menjawab pertanyaan yang terlontar dengan tanpa berfikir karena harus membuat rangkaian kata jawaban saya tidak terkesan dusta atau menimbulkan prasangka lain.
Kullu kalam addu'a
Setiap perkataan adalah doa. Ah, doakan saya yang baik-baik dengannya. Siapa tau dengan makin banyak yang mendoakan kami, makin didengarNya setiap lantunan-lantunan saya untuknya
Seperti pagi ini ketika saya sedang berangkat mengantar doi ke bandara. Kebetulan saya bantu packing dulu pagi ini, jadi kami berangkat dari rumahnya naik taksi.
Agak lucu karena sepanjang perjalanan, si bapak taksi terus berkata keheranan:
"Kok bapaknya duluan sih Bu? Jadi ibu belakangan mudiknya? Emang ngga barengan bu cutinya?"
Dengan lumrah saya menjawab:
"Iya pak. Saya baru libur hari Jumat. Lagian kalo pulang hari Jumat semua, mahal tiketnya..."
Padahal kami memang pulang sendiri-sendiri. Doi ke rumahnya, saya kerumah saya. Di hari yang berbeda dengan tujuan yang berbeda. Bukan karena asas ekonomi penghematan biaya, tapi karena memang kami belum mengeluarkan uang dari satu rekening untuk satu tujuan yang sama.
Dalam hati saya merengut. Saya tidak sedang berbohong kan? Tentu saja karena jawaban saya memang tidak mengada-ada. Dan dia pun tidak bertanya dia siapa saya dan saya siapa dia. Hanya karena kami mulai jalan dari satu tempat yang sama, bukan berarti kami adalah pemilik dari tempat itu.
Dalam hati pula saya berteriak Amin keras-keras. Iya, saya berharap bisa menjawab pertanyaan yang terlontar dengan tanpa berfikir karena harus membuat rangkaian kata jawaban saya tidak terkesan dusta atau menimbulkan prasangka lain.
Kullu kalam addu'a
Setiap perkataan adalah doa. Ah, doakan saya yang baik-baik dengannya. Siapa tau dengan makin banyak yang mendoakan kami, makin didengarNya setiap lantunan-lantunan saya untuknya
15 Jul 2014
No more cybercrime, Please :(
Selamat sore, para penikmat linimasa
Seru ya menikmati linimasa semua jejaring sosial ketika isu-isu politik dan sosial sedang banyak beredar di masyarakat. Dari yang pro dan kontra, dari saling puji dan cela, dari unggahan gambar lucu hingga tak senonoh, dan juga pesan yang etis hingga tak etis.
Akhir-akhir ini penyebaran informasi terasa semakin bebas, selain juga terasa semakin terasa begitu pesat. Siapa yang merasa bahwa pada Pemilu Capres-Cawapres kali ini, Indonesia terasa sekali sedang pesta demokrasi. Dimana pesta demokrasi ini terasa begitu puncaknya setiap kali debat capres berlangsung. Dari berbagai komentar dan unggahan-unggahan gambar di berbagai medsos yang begitu mudah dibaca oleh siapapun, dapat kita rasakan pesta ini memang tidak hanya dinikmati oleh semua yang menggunakan bendera partai. Tapi bahkan anak sma yang rajin hura-hura seperti saya (laaaah.....).
Seru ya menikmati linimasa semua jejaring sosial ketika isu-isu politik dan sosial sedang banyak beredar di masyarakat. Dari yang pro dan kontra, dari saling puji dan cela, dari unggahan gambar lucu hingga tak senonoh, dan juga pesan yang etis hingga tak etis.
Akhir-akhir ini penyebaran informasi terasa semakin bebas, selain juga terasa semakin terasa begitu pesat. Siapa yang merasa bahwa pada Pemilu Capres-Cawapres kali ini, Indonesia terasa sekali sedang pesta demokrasi. Dimana pesta demokrasi ini terasa begitu puncaknya setiap kali debat capres berlangsung. Dari berbagai komentar dan unggahan-unggahan gambar di berbagai medsos yang begitu mudah dibaca oleh siapapun, dapat kita rasakan pesta ini memang tidak hanya dinikmati oleh semua yang menggunakan bendera partai. Tapi bahkan anak sma yang rajin hura-hura seperti saya (laaaah.....).
30 Jun 2014
Yeay...the Ramadhan is coming.
Do those sentences really shows how excited i am??
Well...i hope it was.
Happy Ramadhan, moslem arround the world.
Thanks Rabb to let me meet this pretty Ramadhan. Even without my youngest sister arround.
But there always a compliment for every losing. Him.
I wish he also can be the compliment of her, forever. Amin.
Do those sentences really shows how excited i am??
Well...i hope it was.
Happy Ramadhan, moslem arround the world.
Thanks Rabb to let me meet this pretty Ramadhan. Even without my youngest sister arround.
But there always a compliment for every losing. Him.
I wish he also can be the compliment of her, forever. Amin.
26 Jun 2014
hati kertas lipat (??)
Katanya bukan waktu yang menyembuhkan luka.
Tapi kita yang sudah siap untuk memaafkan.
Kata saya: waktu membantu kita untuk memaafkan.
Tapi luka itu tetap saja seperti kertas baru yang sudah terlipat.
Seringkali masih otomatis terlipat ke arah yang sama walaupun kita mencoba keras untuk meluruskannya.
Regards,
Kertas putih yang terlipat
Tapi kita yang sudah siap untuk memaafkan.
Kata saya: waktu membantu kita untuk memaafkan.
Tapi luka itu tetap saja seperti kertas baru yang sudah terlipat.
Seringkali masih otomatis terlipat ke arah yang sama walaupun kita mencoba keras untuk meluruskannya.
Regards,
Kertas putih yang terlipat
Langganan:
Postingan (Atom)




