Home

16 Feb 2016

saya menyebut rasa itu : serah!

Sedikit kalau saya boleh saya bercerita, saya sedang berada yang mana saya sedang tidak bisa membedakan apakah saya sedang menjadi korban atau menjadi calon monster pemarah yang akan mengamuk memukul dan membalikkan semua meja di depan saya. Saya sedang menyadari ini ketika saya mencoba untuk bercerita kepada beberapa orang tentang masalah yang sedang saya hadapi.

"Lo nangis?"
"Kalo mau nangis, nangis aja lah.."
"Kalo gue jadi lo kayaknya gue udah nangis deh..."

Instead of crying, saya malah menghabiskan waktu saya dengan hal-hal tidak berguna yang seringkali saya lakukan, kalau saya sedang baik-baik saja. Menikmati film-film korea dan drama-drama picisan yang diputar di TV kabel dengan rating nyaris tidak pernah menyentuh angka 7 di IMDB. Menghabiskan waktu di depan gelas kopi mbak keriting warna hijau, dengan isi yang tidak pernah berubah, extra hot cappuccino. Tidur dari jam 9 gelap hingga jam 9 terang keesokan harinya. Mandi satu kali sehari. Makan junk food sepanjang minggu. Dan setelah semuanya berlalu begitu berkepanjangan, saya merasa postingan saya sebelumnya sangat wajar kalau memang terjadi. Saya memang seringkali menghabiskan waktu dengan hal-hal tidak berguna. Selain menjadi dewasa, ternyata menjadi berguna juga pilihan.

Saya hidup tampak seperti biasa. Padahal sebenarnya ada sebuah perasaan yang masih belum juga bisa lepas dari dalam dada dan kepala. Entah sedih atau marah, saya pun tak tau apa namanya. Mungkin jika kedua rasa itu digabung, saya akan menyebutnya dengan kata "serah". Ya seperti setiap gadis yang selalu menjawab ogah-ogahan setiap kali ditanya oleh sang kekasih "Kamu maunya apa?". Ya saya akan menyebut rasa itu "serah", dengan cara pengucapan yang sama. Yang mungkin jika dideskripsikan kedalam tulisan, istilah kata yang tepat antara sedih dan marah adalah "serah!"

Saya mulai mengurangi untuk menangis. Bukannya saya gadis anti air mata. Saya hanya sedang mencoba untuk mengalihkan air mata-air mata itu, dengan penyangkalan. Ya Tuhan, saya sadar bahwa saya adalah makhluk paling penuh penyangkalan sedunia. Tidak mau dibilang sedih, tidak juga memperlihatkan kemarahan kepada siapapun. Padahal jika dada ini tidak ada cover dan kepala ini tidak punya kulit, kalian pasti akan menemukan genangan air mata dan gulungan makian kotor.

Lalu saya mengalihkan makian - makian itu dalam suara-suara sumbang yang suka terdengar dari bibir saya, ketika saya mendengarkan lagu-lagu random yang sering saya putar dari playlist orang. Saya menghindari memainkan playlist saya sendiri ketika saya sedang serah! Menghindari saya akan memutar satu lagu secara berulang-ulang selama 24 jam. Saya tidak mau kekasih saya mati karena bosan mendengarkan saya menyanyikan lagu Sorry nya dek Bieber yang lagi terlalu sering saya dengarkan akhir-akhir ini.

0 komentar:

Poskan Komentar