Home

28 Sep 2016

Big Thing : Marriage Life

Saya tidak tau benar seperti apa rasanya orang mau menikah. Hari ini adalah 4 hari sebelum saya resmi diakui oleh negara dan umat Islam di seluruh dunia untuk menjadi istri dari calon suami saya. Katanya orang-orang suka panik dan susah tidur kalau mau menikah. Akhir-akhir ini saya malah suka tidur jam setengah 9. Saya bingung mau ngapain kalau dirumah dan tidak boleh kemana-mana sementara jaringan Telkomsel tetep kekeuh di 3G dan tidak mau berubah ke 4G, dan film korea yang saya tonton sedang tidak seberapa menarik. Katanya menikah itu big thing.

Sampai saat ini, untuk saya pernikahan itu masih sekedar sebuah seremoni. Sebuah acara yang...ya dimana banyak saudara dan kerabat hadir untuk menyaksikan saya dipajang diatas pelaminan sambil mereka asyik mengomentari dekor, suhu udara, dan rasa makanan pada acara seremonial kami yang cukup banyak menggelontorkan uang dari kantong. Saya belum tau dimana big thing nya. Bagi saya big thing itu ada di kehidupan setelahnya. Berumah tangga.


Big thing pernikahan ada pada dia, si calon suami. Untuk pertama kalinya apa yang dia katakan, ikrarnya di depan papa saya dan pak penghulu akan didengar dengan sangat khidmat dan seksama oleh seluruh tamu undangan yang hadir. Ya tentu saja, jadi atau tidaknya kami berumah tangga, dimulai dari ikrar yang diucapkannya. Semangat, calon suami!

Saya worry tidak bisa menjadi sosok istri yang ada pada kepala calon suami atau ibu mertua saya. Saya worry dia atau keluarganya nantinya akan kecewa pada saya yang kemampuannya serba pas-pas an. Saya worry saya nanti akan sering berselisih dengan ibu saya tentang dimana saya harus merayakan lebaran atau kapan saya pulang. Saya worry kalau ternyata calon suami saya adalah orang yang diktator dan suka larang-larang padahal saya adalah anak yang sama orang tua saja berani ndablek.

Oh satu lagi yang saya worry. Sex life. Bagaimana kalau nanti kami ternyata mudah bosan satu sama lain. Atau kami tidak kunjung berhasil mencetak satu bayi mungil yang bisa jadi cucu kesayangan opa-oma dan mbah ti - mbah kung nya. Atau kalau ternyata doi memendam perasaan kecewa karena badan saya yang cungkring ini tak kunjung semok walau sudah diremek-remek sana sini. Hahaha, hal biologi terstandar tapi jadi pikiran paling berat.

Bismillah saja. Mudah-mudahan semua baik. Insya Allah niat ibadah. Biar dipermudah rejeki nya, biar diringankan semua kesulitan mama papa saya dan mama papa nya mas calon suami. Walau kata hidup tidak seindah drama korea, semoga tidak setragis film India.

0 komentar:

Poskan Komentar