Home

11 Des 2009

monolog sepertiga malam

Ada monolog dalam keheningan yang singgah malam ini. Saat bintang
bintang berguguran tinggalkan semesta terangi ruang tanpa cahaya
temani sepiku yang diam dalam gambaran sepia pada masa berdepa-depa
di muka. Senandung arus sungai di ujung mata syairkan bimbang yang
sumbang petakan gelisah menjadi resah yang luluh lantak dan rapuhkan
jiwa. Bunga bunga rindu harumkan getaran hati yang berbicara tentang
kejujuran rasa berusaha mengalahkan logika yang ada. Logika yang
berseberangan dan terus menerus memberikan tamparan keras di wajahku
yang kerap kali basah.

Kata kata tersendat di ujung lidah. Kelu. Ragu belum juga mau
berlalu sekedar tinggalkan dua pilihan ya atau tidak tanpa perlu
lagi menoleh pada waktu lawas yang menggetas. Lugaskan asa dari
segala ketakutan ketakutanku yang menghantu. Padahal aku hanya ingin
berdamai dengan cinta yang membara di dada. Aku ingin melebur dalam
tiap tawa yang hadir hingga tidak lagi terdengar begitu miris dan
mengiris iris relung kalbu. Harum pelukmu masih tertinggal di setiap
jengkal kulitku yang selalu ku cuci dengan embun malam biar
dinginnya menghapus semua jejak jejak yang entah sengaja atau tidak
telah kau akrabkan di diriku.



Entah kenapa malam ini aku menjadi begitu cengeng. Mungkin aku telah
terjerembab dalam satra melankolia yang baru saja kubaca. Wajahmu
yang membayang di setiap barisan huruf huruf di hadapanku
menggelitik syaraf rindu pada kehangatan dadamu. Dimana kamu ? ah,
sebuah tanya yang konyol karena ku tahu jawabnya hanya akan
menimbulkan kembali sakit di jiwa. Maafkan aku. Tapi aku begitu
cemburu tiap kali ku berfikir dimana kamu. Suara suara, gambar
gambar, tangis, wajah wajah mungil saling berloncatan dalam notasi
yang begitu cepat di benakku. Ah, lagi lagi aku harus kembali
menelan rinduku dan membuangnya jauh jauh dari bilik fikirku.

Ada senyum dalam tidurku malam ini. Senyum yang akan kutorehkan
dalam bait bait puisi. Tertulis dari jemari tanganku yang gigil
dalam tangis yang membeku. Tanpa suara hanya kesetian hati yang
mencoba waras untuk mencintai secara sadar satu wajah. Wajahmu


Written by : Danang Agus Widoyoko


sebuah puisi yang tak ternilaikan oleh kata2
tak bisa terapresiasikan lewat apapun
entah bagaimana dia terlalu berhasil membuatku tinggi
aku selalu mencoba
mencoba untuk membuat semuanya jadi mudah
selalu berharap semuanya jadi lebih baik
semoga aku memang sedang bermain
dalam sebuah skenario
untuk merasakan kebahagiaanku (LAGI)

2 komentar:

  1. Malam... moment paling tepat untuk menjalin relasi intim dengan apapun.

    BalasHapus
  2. yup...
    u're absolutely right sist
    malam adalah waktu yang paling bisa membuat kita jujur atas segalanya

    BalasHapus