Home

29 Jan 2013

love letter (2)

Teruntuk kekasihku,

Suatu ketika ketika kamu membaca surat ini, kamu akan paham mengapa aku memilih untuk tetap berada dalam jarak yang begitu statis darimu. Karena aku tahu alasan mengapa aku mencintai kamu, untuk apa aku mencintai kamu, dan akan bagaimana jika aku terus mencintai kamu.

Suatu ketika ketika kamu membaca surat ini, kamu juga akan mengerti mengapa jarak yang statis aku tetapkan dalam jarak yang tak akan pernah mampu kita kalahkan. Karena aku tahu aku telah mencintai kamu dengan cara yang salah, karena aku mendapatkan kamu dengan cara yang salah, dan aku mempertahankan kamu untuk sebuah alasan yang salah.

Suatu ketika kamu membaca surat ini, aku berharap kamu menyerah untuk menyalahkan jarak yang ada. Aku harap kamu tetap menjadi seorang kesatria yang perkasa, menjadi seorang pria yang penuh wibawa, seorang lelaki yang selalu berakhlak mulia, menjadi seorang pemimpin rumah tangga yang penuh karisma.

Aku begitu penuh dengan keterbatasan. Aku begitu ingin mencari tau apa yang berada dalam isi kepala dan hatimu. Aku begitu ingin mengerti makna di balik senyum dan air matamu di selepas shalat di atas sajadah merahmu. Aku begitu ingin memahami mengapa kau begitu pandai menyimpan semuanya sendiri dan membiarkan aku terus bercakap dengan tubuh yang kosong. Namun begitu aku tetap mencintai kamu, mas. Aku tetap mencintai kamu.

Hanya saja aku lelah. Berdiri bertumpu pada dua kakiku tanpa pernah kau membantu menguatkannya. Berjuang dengan semangatku sendiri tanpa pernah kau memberikanku suntikan semangat lewat senyuman atau gurauan. Barangkali benar kata buku, cinta sejati tak pernah mati. Dan saat kamu membaca surat ini, maka cinta sejati itu telah ku bawa mati bersamaku.

Penuh cinta
Kekasihmu

p.s aku tidak akan menunggumu di surga. tidak juga di neraka.
p.s.s. aku selalu cinta kamu, tanpa ragu.

0 komentar:

Posting Komentar