Home

17 Des 2012

saat itu langit berwarna jingga

No matter what, I do love you...
Sebuah pesan yang terasa tegas tapi begitu pandai menyampaikan maknanya masih terpampang manis di layar messenger. Tak mampu membalasnya.

--------------------------------

Kamu yakin dia tidak hanya sekedar pelarian? Begitu terus yang mereka tanyakan padaku saat aku menunjukkan foto kekasih baruku. Aku terdiam. Aku tak menjawab. Atau aku memang tak ingin menjawab lebih tepatnya.

Bagiku kata perlarian terlalu jahat. Bahwa pelarian selalu diimplikasikan dengan sebuah pelampiasan, dan bukan sebuah obat penyembuh luka. Bahwa pelarian selalu diidentikkan dengan aji mumpung, dan bukan sebuah kebutuhan. Bahwa pelarian selalu diartikan dengan nafsu, dan bukan karena cinta.
Aku memang pernah terluka. Satu atau dua kali. Satu atau dua tahun. Aku memang pernah terpuruk. Oleh satu atau dua lelaki. Aku memang pernah kesulitan untuk bangkit. Atau memang saat itu aku memang sebenarnya tak ingin bangkit. Satu dua kali merasa putus asa. Lalu apa sekarang ketika aku memutuskan untuk bangkit terlihat terlalu cepat?

Luka ku memang belum sembuh benar. Bahkan masih terasa jika ingin dirasa. Masih ada bekas lukanya jika kau mau melihatnya dengan seksama. Tapi apakah sebuah luka harus ditutup perban terus menerus dan dibiarkan basah. Terkadang ada beberapa luka yang harus dibiarkan terbuka dan mengering. Terkadang ada beberapa luka yang lebih baik tidak dirasa agar kau tak terus merana.

Kamu tidak kapok menjalani Long Distance Relationship dengan orang asing lagi? Begitu pertanyaan selanjutnya yang mereka tanyakan padaku saat aku berhasil menjawab pertanyaan pertama dari mereka tanpa terlihat sedikit ragu. Aku tertegun. Kali ini bukan tak ingin menjawab. Karena sebenarnya aku memang tak tau jawaban apa yang mereka inginkan kali ini.

Aku memang pernah tertipu. Satu dua kali dengan orang asing yang aku pacari padahal aku tak begitu mengenal mereka. Pun aku seringkali menangis, karena harus meredam pertengkaran yang bermula dari masalah sederhana. Pesan-pesan singkat yang tak sampai tepat waktu. Atau pulsa yang habis mendadak tersedot oleh provider-provider gila yang tau benar bagaimana cara menguras kantong customernya.

Tapi apa aku harus jera selamanya. Walaupun banyak orang bilang belajarlah dari pengalaman. Jangan salahkan LDR. Jangan salahkan jarak atau beda waktu terbitnya matahari. Bagiku saat kami bertengkar, hanya ada 2 hal yang salah. Aku atau dia. Bukan LDR. Bukan rindu yang tak tersampaikan. Bukan pula prasangka yang berlebihan. LDR tak pernah salah. LDR hanya diperuntukkan untuk mereka yang luar biasa dan tidak menye-menye.

Ah, bahkan beberapa orang yang pernah terluka dan jatuh juga ingin bangkit dan sembuh. Berjalan dengan kaki yang tidak pincang lagi. Berlari dengan tawa yang riang sambil menyambut langit senja yang berwarna jingga. Bernyanyi dengan berteriak lirik-lirik lagu yang terasa begitu kita. Tak ada yang salah dengan jatuh cinta. Ya, setidaknya itulah yang aku duga.

--------------------------------
No matter what, I do love you...
Masih tak terbalas. Entah sudah berapa lama aku memandang layar yang aku yakin pegirimnya sedang menunggu pesan balasan dariku. Aku tak mampu menemukan kata-kata yang lebih manis. Saat itu langit sore warna jingga terlihat lebih indah dari biasanya

1 komentar: