Home

4 Jun 2011

tanpa identitas

berkaca dari penelitian film dokumenter yang lagi gw bikin bareng temen2 frameworks di kampus, gw jadi banyak tau soal anak jalanan, khususnya anak jalanan Jogja.

well....ternyata tidak semua dari mereka adalah anak2 yang street living. mayoritas dari mereka punya tempat tinggal, mayoritas dari mereka masih punya orang tua, dan mayoritas dari anjal adalah anak yang bersekolah. sungguh menyedihkan.

ada beberapa tipikal anjal yang gw temuin disana. ada yang memang karena keterbatasan biaya, mereka terpaksa turun ke jalan untuk bisa makan dan memenuhi kebutuhan keluarganya. ada yang memang sudah sejak kecil mereka memang tidak bersanak saudara sehingga mereka harus mau tak mau hidup dari apa yang orang berikan di jalanan. ada satu keluarga yang memang khusus untuk mencari uang saja di jalanan. dari nenek, anak hingga cucu nya yang baru sekolah kelas 2SD. dan yang terburuk yang gw liat adalah, adanya beberapa anak yang ternyata sama orang tuanya memang khusus diletakkan di jalanan. padahal si Ibu yang gw temuin bisa dibilang cukup berada dan terawat. what's going on with this f mother!!!!

for God shake, ada beberapa hal yang ternyata gw juga baru tau. identitas. gw hampir ga kepikiran kalo anjal2 ini adalah orang tanpa identitas. tidak ada akte, tidak ada KK, tidak ada KTP. dan guess what?? itulah yang menyebabkan mereka sulit keluar dari jalan. karena ketika mereka memutuskan untuk keluar dari jalan, orang2 di sekeliling mereka akan menanyakan IDENTITAS mereka. untuk sekolah, anak butuh akte. untuk menikah, mereka butuh KTP. untuk KTP mereka butuh akte. birokrasi?? apakah gw bisa nyalahin kerumitan birokrasi disini?? they are special, however... tidak bisakah mereka memberikan sedikit kelonggaran kepada orang2 ini agar tidak lagi memenuhi jalanan?

beberapa kali mencoba menjalin komunikasi dengan mereka. mereka cinta dan benci kepada alanan. mereka suka kebebasan. mereka suka tanpa aturan. sekalipun mereka tidak suka kekerasan. mereka rapuh. tapi hanya kepada jalanan lah mereka bergantung.

ah....beryukurlah kita yang masih bisa merasakan bangku kuliah, tanpa harus membuat ayah ibu kita berjalan puluhan kilometer untuk meminta2 mencari uang lembar demi lembar untuk makan dan bayar kontrakan reyot. bersyukurlah kita masih bisa berkendara dengan kendaraan pribadi dengan nyaman, dan bukan menyusuri aspal jalanan kota yang panas tanpa alas kaki. bersyukurlah kita masih bisa merasakan sejuknya pendingin ruangan, bukannya harus mengandalkan rindangnya dedaunan pohon untuk menghindari teriknya matahari.

sesungguhnya kenikmatan yang diberikan Tuhan kepada kita ini, adalah sebuah ujian juga. syukurilah. agar Tuhan memberikan yang lebih lagi kepada kita semua.

0 komentar:

Posting Komentar