Home

19 Jun 2011

dia adalah saya

saya tidak suka sendirian walau saya juga tidak bisa mengakui bahwa saya nyaman berada dalam keramaian. sangat tidak menyenangkan ketika sebenarnya ada beberapa orang yang ada di sekitar kamu yang bisa diajak untuk berbagi hanya saja sulit bagi bibirmu untuk berucap segelintir kata untuk menyapa. atau menyadari bahwa biasanya ada yang dia yang selalu ada untuk kamu tapi pada akhirnya kamu harus menjadi sendiri karena ada beberapa hal yang harus diselesaikan, tanpa aku.

saya diam. tergeletak dikarpet biru merah bergambar tazmania di kamar. sepi. hanya suara TV yang terdengar dari sebelah kamar. menatap langit kamar yang mulai pudar warnanya karena tidak pernah dicat ulang sejak pertama aku menempati kamar itu 3 tahun lalu. aku duduk, menatap kaca. akhirnya aku mendapatkan seorang teman. gadis diam dalam kaca. dia tersenyum. dia tampak memainkan rambutnya. mencoba mengingat kembali caranya menata rambut yang tidak pernah dilakukannya selama dua tahun terakhir sejak dia menutup kepalanya dengan kerudung. diikat ekor kuda kebelakang dengan berantakan dan beberapa helai poni yang terjatuh di pipi karena belum cukup panjang untuk diikat. gadis itu tersenyum kepadaku.

itu saja yang selalu saya lakukan setiap kali kehilangan teman untuk diajak tersenyum. saya tersenyum kepada bayangan saya sendiri. kepada dia yang tidak cantik, menurut saya. kepada dia yang selalu berwajah muram karena beban dipundaknya yang terasa begitu berat setiap harinya. kepada dia yang hanya bisa menangis setiap kali teringat pada keadaan mamanya di kala sehat. dia adalah saya.

0 komentar:

Posting Komentar